Reza tidak tidur banyak malam itu. Di kamar kosnya yang sempit, dia menatap langit-langit yang catnya mengelupas, memutar dua kolom angka di kepala sampai hampir subuh. Aman tapi kecil. Besar tapi ngeri. Setiap kali dia condong ke satu sisi, ada suara di kepalanya yang menarik ke sisi lain.
Lalu, menjelang azan subuh, sebuah pikiran sederhana datang—pikiran yang justru muncul dari pekerjaannya sendiri. Dalam mengantar paket, kamu tidak pernah mengangkat dua puluh kotak sekaligus. Kamu mengangkat dua, tiga, lalu kembali untuk sisanya. Bertahap. Hemat tenaga. Tidak gegabah.
Kenapa masa depan harus diperlakukan beda?
Pagi-pagi, Reza sudah berdiri di depan meja Bang Topan, yang masih memegang gelas kopi pertamanya dan kalender pantai tiga tahun lalu masih tergantung miring di belakangnya.
"Kamu kelihatan kayak orang yang habis berantem sama bantal," komentar Bang Topan, menyeruput kopi. "Udah ada jawaban?"
"Udah, Bang." Reza menarik napas. "Saya terima promosinya."
Bang Topan mengangkat alis, sedikit terkejut. "Beneran? Kupikir kamu bakal milih usaha jasa-titip kamu itu. Kamu kelihatan cinta mati sama proyek itu."
"Saya cinta mati, Bang. Makanya saya nggak mau ngebakar dia gara-gara nekat." Reza meletakkan map berisi rencana yang dia susun semalam—coretan tangan, bukan ketikan rapi, tapi jelas. "Saya ambil promosi, tapi saya mau ngajuin satu hal. Usaha jasa-titip saya alihin operasional hariannya ke tim. Saya nggak turun lapangan lagi buat usaha itu. Sasa yang pegang admin dan desain, dua tetangga yang udah kita rekrut yang antar barang. Saya cuma ngawasin dari belakang, malam dan hari libur. Pelan. Nggak ganggu jam koordinator."
Bang Topan meletakkan kopinya. Kumisnya bergerak, tanda dia sedang berpikir keras. "Jadi kamu mau dua-duanya. Tapi nggak rakus."
"Bukan dua-duanya sekaligus penuh, Bang. Promosinya penuh. Usahanya saya pelanin dulu, biar dia jalan sendiri tanpa harus saya dorong tiap menit." Reza menatap supervisornya. "Kalau saya nekat lepas kerjaan tetap demi usaha yang belum stabil, terus usahanya ambruk pas bulan sepi, saya jatuh dua-duanya. Tapi kalau saya pegang yang aman dulu sambil rawat yang kecil pelan-pelan, saya punya pijakan. Anak kos nggak boleh lompat tanpa pijakan, Bang. Bisa patah kaki."
Hening sebentar. Lalu Bang Topan tertawa, tawa besar yang menggetarkan gelas kopi di mejanya. "Reza, Reza. Dulu kamu nggak bisa baca nomor unit, sekarang kamu ngomong kayak konsultan. Si macan ngajarin kamu hitung-hitungan ya?"
"Sebagian, Bang." Reza nyengir. "Sebagian lagi dari ngangkat paket. Sekali angkat secukupnya. Sisanya balik lagi."
Bang Topan menggeleng-geleng, lalu menarik map itu, membaca coretan tangan Reza. Beberapa kali dia bergumam, sesekali mengetuk meja. Akhirnya dia menutup map dan menyodorkannya kembali. "Oke. Saya setuju. Tapi syarat dari saya: koordinator itu jabatan, bukan main-main. Kalau usaha kamu sampai bikin pos berantakan, kerjaan kamu yang utama, saya cabut izinnya. Ngerti?"
"Ngerti, Bang. Janji."
"Dan satu lagi." Bang Topan menatapnya, kali ini lebih lembut dari biasanya. "Saya bangga sama kamu, Rez. Beneran. Kamu masuk ke sini dulu lemes, sekarang kamu mikirin masa depan kayak orang yang udah punya tanggungan. Itu bagus. Itu yang saya cari di koordinator."
Reza terdiam, tidak menyangka kalimat itu. Bang Topan jarang memuji; pujiannya seperti hujan di musim kemarau, langka dan membasahi. "Makasih, Bang."
"Udah, sana. Hari ini kamu masih kurir biasa. Mulai senin baru koordinator." Bang Topan mengusirnya dengan lambaian, tapi senyum di balik kumisnya tidak bisa dia sembunyikan.
Reza keluar dari ruangan dengan langkah yang lebih ringan dari saat masuk. Dia langsung mengetik pesan ke Sasa, tangannya sedikit gemetar.
"Udah aku putusin. Ambil promosi, usaha jadiin pelan-pelan, tim yang jalanin. Aku ngawasin dari belakang. Aman semua. Nggak nekat."
Balasan datang cepat, terlalu cepat, tanda Sasa pasti sedang memegang ponsel menunggu. "Itu keputusan paling pinter yang pernah kamu ambil. Setelah keputusan suka sama aku."
Reza tertawa di tengah pos, membuat dua kurir lain menoleh heran. Dia mengetik balasan. "Keputusan suka sama kamu itu nggak pakai mikir. Yang ini pakai semaleman."
"Berarti yang nggak pakai mikir lebih bener," balas Sasa. Lalu, beberapa detik kemudian: "Bangga sama kamu, Rez. Nanti malam aku traktir martabak. Yang manis. Bukan yang murah."
Dan untuk pertama kalinya, Reza tidak menolak ditraktir. Dia hanya membalas: "Gantian besok aku yang traktir. Aturan pasangan hemat masih berlaku." Lalu dia memasukkan ponsel ke saku, mengangkat tumpukan paket terakhirnya sebagai kurir biasa, dan tersenyum sepanjang jalan ke motor.