Tanpa ada yang merencanakan secara resmi, unit 0905 perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar apartemen. Ia menjadi markas. Ruang tamu kecil itu—yang dulu hanya berisi sofa, tumpukan kardus pindahan, dan satu kucing penghakim—kini sering dipenuhi orang, kopi sachet, dan tawa yang menembus dinding tipis sampai mengganggu tetangga, kalau saja tetangganya tidak ikut nimbrung di dalamnya.
Sore itu contohnya. Reza baru selesai jam koordinatornya, datang membawa sekantong gorengan dari warung depan, dan mendapati ruang tamu Sasa sudah ramai. Bu Hartini, si nenek penyuka tanaman dari unit 1308 yang dulu pupuknya jadi biang segala drama, duduk di sofa sambil memamerkan foto begonia barunya di ponsel. Belakangan dia memang pindah turun ke lantai sembilan—ke unit 0906, persis sebelah unit Sasa—karena lututnya sudah tak kuat naik turun ke lantai tiga belas, dan diam-diam, katanya sambil terkekeh, biar dekat dengan "anak-anak angkatnya". Di sebelahnya, dua tetangga yang mereka rekrut jadi pengantar jasa titip—Mas Heri yang dulu nganggur dan Yanti yang butuh tambahan untuk biaya sekolah anak—sedang mengelap motor sambil ngobrol. Pak Karyo, satpam lobi, mampir "sekadar lewat" tapi sudah duduk manis dengan teka-teki silangnya di pangkuan.
"Reza!" sapa Pak Karyo begitu pintu terbuka. "Pas. Tujuh mendatar, lima huruf, 'binatang setia yang menjaga rumah.' Apa hayo?"
"Anjing, Pak," jawab Reza, meletakkan gorengan di meja.
"Lho, anjing kan enam huruf."
"Asu, Pak. Tiga huruf. Kalau dipaksa lima... 'satpam'?" Reza nyengir.
Pak Karyo melempar koran ke arahnya. "Kurang ajar. Tapi lucu."
Sasa muncul dari dapur membawa nampan berisi gelas-gelas teh, dan wajahnya, Reza memperhatikan, berbeda dari Sasa yang dia temui di bab-bab awal hidupnya. Sasa yang dulu galak, berduri, sendirian melawan dunia. Sasa yang sekarang masih galak—dia memang tidak akan pernah benar-benar lunak—tapi galaknya kini galak seorang tuan rumah yang menyuruh tamunya makan lebih banyak.
"Bu Hartini, gorengannya diambil. Jangan malu-malu," kata Sasa. "Mas Heri, motornya udah dicek remnya? Besok antar pesanan ke tower C, jauh."
"Udah, Mbak Sasa. Aman."
"Bagus." Sasa duduk di lengan sofa, di samping Reza. Cimol langsung melompat ke pangkuan Bu Hartini, yang memang selalu membawa camilan kucing di tasnya, dan mendengkur seperti mesin diesel.
Reza memandangi ruangan itu—orang-orang yang setahun lalu tidak saling kenal, kini berkumpul, tertawa, berbagi gorengan dan masalah. Bu Hartini bercerita soal cucu yang jarang menelepon. Yanti mengeluh soal harga seragam sekolah. Mas Heri pamer foto anaknya yang baru bisa jalan. Pak Karyo menyelesaikan teka-teki silangnya dengan bantuan setengah ruangan. Dan di tengah semua itu, ada Sasa, yang dulu memasang tameng setebal baja, kini menjadi pusat sebuah keluarga kecil yang tidak diikat darah, melainkan diikat kebaikan yang berputar dari satu tangan ke tangan lain.
"Kamu mikir apa?" bisik Sasa, menyenggol lengannya.
"Mikir," Reza menjawab pelan, "kalau dulu aku nggak salah baca nomor unit, semua ini nggak ada."
Sasa terdiam sejenak. "Berarti satu-satunya kerjaanmu yang berantakan tapi berguna seumur hidup, ya itu."
"Tega banget." Reza tertawa.
"Tapi bener, kan." Sasa menatap ruangannya yang ramai, dan ada kelembutan langka di matanya. "Aku dulu pindah ke sini buat sendirian, Rez. Buat ngejauh dari semua orang. Biar nggak ada yang bisa nyakitin aku lagi. Eh, malah jadi rame begini." Dia menggeleng. "Kamu ngerusak semua rencana isolasi aku."
"Maaf ya," kata Reza, sama sekali tidak menyesal.
"Jangan minta maaf." Sasa menyandarkan kepalanya sebentar ke bahu Reza, gerakan kecil yang membuat Bu Hartini menyikut Yanti dan keduanya tersenyum-senyum. "Ini jauh lebih baik dari rencana aku."
Malam itu, saat tamu-tamu mulai pamit satu per satu—Bu Hartini dengan begonianya, Pak Karyo kembali ke pos jaga, Mas Heri dan Yanti ke unit masing-masing—Reza dan Sasa duduk di antara gelas-gelas kosong dan remah gorengan, lelah tapi puas. Cimol tertidur kekenyangan di tengah ruangan, perutnya naik turun.
"Kita ini," kata Reza, mengumpulkan gelas, "jadi semacam orang tua dadakan buat satu RT."
"Bukan orang tua," koreksi Sasa, mengambil sapu. "Lebih kayak... pos ronda. Tempat orang mampir, ngeluh, ketawa, terus pulang dengan beban yang lebih ringan."
Reza berhenti, menatapnya. "Pos ronda hangat namanya."
"Apaan sih." Sasa melempar serbet ke mukanya, tapi pipinya memerah. "Bantuin nyapu, bukannya gombal."
Reza menangkap serbet itu, tertawa, dan mulai membantu membereskan markas kecil mereka—rumah yang bukan sekadar tempat tinggal, tapi tempat di mana orang-orang yang dulu sendirian menemukan satu sama lain.