Drama besar di unit 0905 minggu itu bukan soal uang, bukan soal usaha, bukan soal Bagas. Drama besar minggu itu beratnya tidak sampai setengah kilogram, berwarna abu-abu kusam, dan masuk lewat jendela yang lupa ditutup.
Reza datang Sabtu pagi membawa sarapan, dan disambut pemandangan yang membuatnya berhenti di ambang pintu. Sasa berdiri di tengah ruangan dengan tangan di pinggang, menatap Cimol yang duduk di pojok dengan ekspresi paling berdosa yang bisa dipasang seekor kucing. Dan di depan Cimol, meringkuk di balik bantal sofa, ada seekor anak kucing kecil—kurus, kotor, dengan satu mata yang masih lengket, mengeong lirih seperti suara pintu berkarat.
"Dari mana itu?" tanya Reza, meletakkan sarapan.
"Cimol yang bawa," kata Sasa, suaranya antara kesal dan bingung. "Aku bangun-bangun, jendela dapur kebuka, dan si gembul ini—" dia menunjuk Cimol, "—lagi nyeret bayi kucing ini kayak bawa hasil buruan. Tapi nggak dimakan. Malah dijagain. Aku deketin, dia ngegeram. Ke aku. Pemiliknya sendiri."
Reza jongkok, mengamati si kecil. Anak kucing itu gemetar, tapi tidak lari—mungkin terlalu lemah untuk lari. "Kayaknya kucing jalanan. Ketinggalan dari induknya, atau induknya udah nggak ada. Cimol nemu di luar, terus dibawa pulang."
"Cimol kan jarang keluar."
"Mungkin keluar lewat jendela koridor. Atau—" Reza menatap Cimol yang masih memasang wajah penjaga, "—dia denger ngeongnya dari bawah, terus turun ngambil. Kucing jantan tua kadang gitu, Sas. Mereka punya kode sendiri."
Sasa duduk di lantai, menyerah pada situasi. "Aku nggak bisa pelihara dua kucing, Rez. Apartemen ini sempit. Biaya makan, vitamin, dokter hewan—itu bukan receh. Kita lagi nabung. Aturan pasangan hemat. Kamu sendiri yang nulis di toples."
"Aku tahu." Reza mengulurkan jari pelan-pelan ke arah si kecil. Cimol menggeram peringatan, tapi tidak menyerang. Si anak kucing mengendus jari Reza, lalu—mungkin karena lapar, mungkin karena putus asa—menjilatnya. "Tapi liat. Cimol nggak mau lepas."
Mereka mencoba, sungguh mencoba, jalan yang masuk akal. Sasa menelepon dua tetangga, menanyakan apakah ada yang mau mengadopsi. Tidak ada. Mereka mempertimbangkan membawanya ke penampungan, tapi penampungan terdekat sudah penuh dan minta donasi yang tidak sedikit. Setiap kali mereka mendekati keputusan "ya sudah, kita cari jalan lain," Cimol akan duduk di antara mereka dan si kecil, ekor mengibas, mata menyipit, seperti hakim yang menolak ketukan palu.
"Dia ngancem kita pakai tatapan," kata Reza.
"Dia emang ngancem." Sasa memijat pelipis. "Cimol itu, kalau udah mutusin sesuatu, lebih keras kepala dari aku."
"Berarti dua kali lipat keras kepala dari aku," gumam Reza, dan dapat tendangan pelan di kaki sebagai balasan.
Akhirnya, menjelang sore, setelah anak kucing itu dimandikan air hangat, matanya dibersihkan, dan diberi susu khusus kucing yang Reza beli setengah berlari ke toko hewan, mereka duduk berdua di sofa menatap si kecil yang kini tidur meringkuk di perut Cimol—yang berbaring telentang seperti seorang ayah yang dengan terpaksa menerima takdirnya menjadi orang tua.
"Kita itung-itungan dulu," kata Sasa, tapi suaranya sudah kalah sebelum perang dimulai.
"Udah aku itung." Reza menunjukkan kalkulasi di ponselnya. "Makan dan vitamin dia, sebulan, sekitar segini. Kalau kita potong dari jatah jajan martabak, masih masuk. Lagipula—" dia menatap Sasa, "—dia bakal jadi 'maskot' usaha jasa-titip kita. Sasa bisa desain logonya pakai dua kucing. Yang gembul dan yang kecil. Hemat, sekaligus marketing."
Sasa menatapnya, lalu menatap si kecil yang tidur, lalu menatap Cimol yang membuka satu mata seakan berkata putuskan yang benar, manusia. Dia menghela napas panjang, napas seorang yang tahu dia sudah kalah dan diam-diam senang kalah.
"Namanya," kata Sasa akhirnya, "Cilok."
Reza tertawa keras. "Cimol sama Cilok?"
"Biar serasi. Jajanan semua." Sasa mengangkat si kecil, yang mengeong protes lalu menyusup ke leher Sasa, dan untuk pertama kalinya hari itu, wajah galak Sasa benar-benar luruh. "Halo, Cilok. Selamat datang di markas paling berantakan se-tower."
Reza memandangi mereka—perempuan galak yang dulu memasang tameng, kucing tua yang jadi ayah dadakan, dan bayi kucing yang ditemukan dari ketiadaan—dan menyadari sesuatu yang sederhana. Keluarga itu tidak selalu direncanakan. Kadang dia datang lewat jendela yang lupa ditutup, dibawa oleh yang paling galak, dan tinggal karena tidak ada yang tega menyuruhnya pergi.
"Keluarga kita nambah satu," kata Reza pelan.
"Empat kaki, satu kilo, nggak bisa kerja," balas Sasa, tapi dia memeluk Cilok lebih erat. "Anggota termahal sekaligus paling nggak berguna."
"Sama kayak cinta," kata Reza. "Mahal, nggak masuk akal, tapi nggak ada yang mau ngembaliin."
Sasa melempar bantal ke mukanya. Tapi dia tertawa, dan Cilok mengeong, dan Cimol mendengkur, dan markas kecil itu bertambah hangat satu kucing lagi.