Kabar itu datang seperti kebanyakan kabar buruk: lewat mulut orang lain, di waktu yang tidak diduga, tentang orang yang sudah lama tidak mereka pikirkan.
Reza sedang mengangkut pesanan jasa titip ke tower C ketika Mas Heri, sambil mengikat kardus, melempar kalimat santai. "Eh, Mas Reza denger nggak soal si Bagas? Mantan Mbak Sasa itu."
Reza berhenti sebentar. Nama itu sudah lama tidak terdengar—sejak forum warga yang mempermalukannya, Bagas seperti menguap dari peta hidup mereka. "Kenapa dia?"
"Bangkrut, katanya." Mas Heri menggeleng. "Saya denger dari teman yang kerja di tempat dia dulu nongkrong. Usaha bapaknya kena masalah, terus dia sendiri kebanyakan gaya hidup—mobil cicilan, gawai gonta-ganti, traktir sana-sini buat gengsi. Pas duit keluarga seret, dia nggak punya pegangan. Sekarang katanya ngontrak petakan, mobilnya ditarik, temen-temen tongkrongan pada ngilang."
Reza menerima kardus dari Mas Heri dengan tangan yang tiba-tiba terasa berat. Dia ingat Bagas yang dulu—parfum menyengat, rambut klimis, kalimat menghina "dari aku ke kurir." Bagian kecil di dadanya, bagian yang manusiawi dan tidak sempurna, sempat berbisik: rasain. Tapi bisikan itu cepat padam, digantikan sesuatu yang lebih dewasa dan, anehnya, lebih tidak nyaman.
"Kasian juga," gumam Reza, agak terkejut pada dirinya sendiri.
"Lho, kok kasian? Dia kan yang dulu ngejahatin Mas berdua." Mas Heri heran.
"Iya. Tapi jatuh sampai serendah itu, sama mau seberengsek apa pun orangnya, nggak ada enak-enaknya buat ditonton." Reza memasukkan kardus ke motor. "Lagian bukan urusan kita lagi."
Malamnya, dia menceritakan kabar itu pada Sasa—bukan untuk gosip, tapi karena dia tahu Sasa akan mendengarnya cepat atau lambat, dan lebih baik dari mulutnya sendiri. Mereka sedang di sofa, Cilok tidur di pangkuan Sasa, Cimol di sandaran kursi mengawasi seperti biasa.
Sasa diam lama setelah Reza selesai bercerita. Reza tidak bisa membaca ekspresinya. Selama dua tahun bersama Bagas, perempuan itu pasti menyimpan luka yang Reza tidak akan pernah tahu seluruhnya.
"Kamu kenapa cerita ini ke aku?" tanya Sasa akhirnya, pelan.
"Karena kamu pasti denger dari yang lain. Aku nggak mau kamu kaget dari orang yang salah." Reza menatapnya. "Dan karena... aku nggak tahu kamu rasanya gimana. Aku nggak mau nebak."
Sasa mengelus punggung Cilok, lama. "Aku kira aku bakal seneng," akunya. "Dulu, pas dia ninggalin aku, pas dia nyebar fitnah, pas dia ngehina kamu—aku sering ngebayangin dia jatuh. Aku pengen banget dia ngerasain. Tapi sekarang, denger dia beneran jatuh..." Dia menggeleng pelan. "Kosong, Rez. Nggak ada puasnya. Cuma capek."
Reza tidak berkata apa-apa. Dia hanya memindahkan dirinya lebih dekat, membiarkan bahu mereka bersentuhan.
"Kamu tahu yang lucu?" Sasa tersenyum tipis, tapi senyum yang getir. "Dulu aku takut banget jadi kayak dia. Mikir gengsi mulu. Mau cepat kaya. Pamer. Aku takut, jangan-jangan tanpa dia, aku juga bakal jatuh." Dia menatap ruangan kecil mereka—sofa murah, kardus daur ulang, dua kucing, toples receh di meja. "Eh, ternyata yang bikin aku nggak jatuh justru semua yang dia anggap rendah. Hemat. Kerja keras. Orang-orang sederhana. Kamu."
Reza menggenggam tangannya. "Dia milih jalan yang kelihatan tinggi tapi rapuh. Kita milih jalan yang kelihatan rendah tapi punya pijakan." Dia mengangkat bahu. "Anak kos selalu tahu satu hal: yang penting bukan seberapa tinggi kamu berdiri, tapi seberapa kuat lantai di bawah kamu."
Sasa menatapnya, lalu menyandarkan kepala ke bahunya. "Aku nggak mau nertawain dia, Rez."
"Aku juga nggak." Reza mengusap rambutnya pelan. "Nertawain orang jatuh itu nggak bikin kita lebih tinggi. Cuma bikin kita lebih kerdil."
Mereka duduk diam beberapa lama, dua kucing dan satu toples receh dan kabar tentang seseorang dari masa lalu yang akhirnya tidak lagi punya kuasa untuk menyakiti mereka. Di luar, lampu tower seberang menyala seperti biasa. Hidup berjalan, hemat dan keras dan hangat, di unit kecil lantai sembilan.
"Semoga dia bangkit lagi," kata Sasa pelan, mengejutkan dirinya sendiri. "Dengan cara yang bener kali ini."
Reza tersenyum. Perempuan yang dulu paling galak di Graha Asri Tower B baru saja mendoakan mantan yang menyakitinya. Itu, pikir Reza, adalah bentuk kemenangan yang paling sunyi dan paling besar—kemenangan yang tidak butuh menjatuhkan siapa pun.