Reza tidak menyangka Bagas akan datang sendiri. Tidak menyangka, dan jujur saja, tidak menginginkannya.
Sore itu, Reza baru turun dari motor di lobi Graha Asri Tower B ketika Pak Karyo memanggilnya dengan nada hati-hati yang tidak biasa. "Rez. Ada orang nungguin kamu dari tadi. Di kursi tunggu. Saya udah curiga, tapi dia bilang cuma mau ngomong baik-baik."
Reza menoleh, dan di kursi tunggu lobi yang biasanya kosong, duduk sosok yang membuat perutnya mengencang. Bagas. Tapi bukan Bagas yang dia ingat. Tidak ada parfum menyengat. Rambutnya tidak klimis, hanya rapi seadanya. Kemejanya bersih tapi sudah pudar, jenis kemeja yang dicuci terlalu sering. Dan wajahnya—wajah itu yang paling berbeda. Tidak ada lagi seringai meremehkan. Hanya kelelahan, dan sesuatu yang mirip malu.
"Reza," kata Bagas, berdiri. Suaranya tidak setinggi dulu. "Bisa ngobrol sebentar? Aku nggak bakal lama."
Reza ragu. Naluri pertamanya adalah menolak, mengusir, membalas semua yang pernah Bagas lakukan. Tapi dia menatap laki-laki di depannya, dan yang dia lihat bukan musuh yang sombong, melainkan orang yang sudah jatuh dan berusaha mengumpulkan serpihan harga dirinya.
"Di sini aja," kata Reza akhirnya, menunjuk kursi tunggu. Tidak mengusir, tapi juga tidak mengundang ke atas. Pak Karyo, paham situasi, pura-pura sibuk dengan teka-teki silangnya tapi telinganya jelas terpasang.
Mereka duduk. Bagas meremas-remas tangannya, menunduk. Untuk pertama kalinya sejak Reza mengenalnya, Bagas tampak kesulitan mencari kata.
"Aku denger usaha kalian jalan," kata Bagas akhirnya. "Bagus. Beneran bagus, aku nggak nyindir." Dia menarik napas. "Aku ke sini bukan buat... bukan buat balikan sama Sasa, atau apa. Aku tahu itu udah selesai. Udah lama selesai. Aku ke sini buat—" dia tertawa pahit, "—astaga, susah banget ngomongnya."
Reza menunggu. Dia tidak membantu. Ada hal-hal yang harus diucapkan seseorang sendiri, tanpa diberi jalan keluar.
"Aku minta maaf," kata Bagas akhirnya, kata-kata itu keluar compang-camping, seperti kemejanya. "Sama kamu. Sama Sasa. Komplain palsu itu, sabotase order itu, fitnah di forum warga itu—itu semua aku. Aku tahu kamu udah tahu. Tapi aku nggak pernah ngaku. Sekarang aku ngaku. Aku yang ngelakuin, dan itu pengecut, dan aku minta maaf."
Lobi terasa sangat sunyi. Bahkan pena Pak Karyo berhenti.
"Kenapa sekarang?" tanya Reza, tenang. "Kenapa baru sekarang?"
Bagas tersenyum getir. "Karena pas aku punya segalanya, aku ngerasa nggak perlu minta maaf sama orang yang aku anggap di bawah aku. Pas aku jatuh, baru aku ngerti rasanya diinjak." Dia menatap Reza, matanya jujur untuk pertama kalinya. "Aku dulu manggil kamu 'cuma kurir.' Sekarang aku nganggur, nggak punya apa-apa, dan kamu punya kerja tetap, usaha sendiri, orang-orang yang sayang sama kamu, dan Sasa yang bahagia. Ternyata yang 'cuma' itu siapa, ya."
Reza diam lama. Dalam dirinya, ada perang kecil. Bagian yang dilukai ingin membalas, ingin berkata "memang, rasain." Tapi bagian yang lebih besar, bagian yang dibentuk oleh ibunya di kampung, oleh tahun-tahun jadi anak kos, oleh Sasa yang baru tadi malam mendoakan orang ini bangkit—bagian itu menang.
"Aku terima maaf kamu," kata Reza akhirnya. "Tapi yang berhak nentuin maaf yang sebenarnya, bukan aku. Sasa yang paling kamu sakitin. Kalau kamu mau minta maaf, harus ke dia. Kalau dia mau dengerin."
Bagas mengangguk, menunduk. "Aku tahu. Aku cuma... nggak berani langsung. Aku takut dia nggak mau buka pintu."
Reza berdiri, menatap laki-laki yang dulu jadi antagonis dalam hidupnya dan kini hanya tampak seperti orang biasa yang sedang berusaha jadi lebih baik. "Aku tanya dia dulu. Kalau dia mau, aku kabarin. Kalau nggak mau, kamu harus terima itu juga. Dia nggak utang apa-apa ke kamu."
"Adil," kata Bagas pelan. "Lebih adil dari yang aku kasih ke kalian dulu."
Saat Reza naik ke lift, Pak Karyo memanggilnya. "Rez. Tujuh menurun, enam huruf. 'Berani mengakui kesalahan.'"
Reza berpikir sebentar, menatap pintu lift yang menutup di antara dia dan sosok Bagas yang masih duduk menunduk di kursi tunggu. "Jujur, Pak. Lima huruf. Atau 'ksatria,' tujuh. Yang pas enam... 'tobat'?"
"Tobat lima, Rez."
"Ya udah, isi sendiri, Pak." Reza tersenyum tipis. "Yang jelas, kadang orang berubah. Pelan, tapi berubah."
Pintu lift menutup, membawanya naik ke lantai sembilan, tempat dia harus mengabarkan sesuatu yang sulit pada perempuan yang paling berhak memutuskan: apakah babak lama itu layak ditutup dengan kata maaf, atau dibiarkan terkubur saja.