Sasa tidak langsung menjawab ketika Reza menceritakan kedatangan Bagas. Dia berjalan ke jendela, memeluk dirinya sendiri, menatap lampu-lampu kota yang mulai menyala. Cilok mengeong di kakinya, minta digendong, tapi untuk sekali ini Sasa tidak menggubris.
"Dia minta maaf," kata Sasa pelan, mengulangi, seolah memastikan kata-kata itu nyata. "Setelah semua yang dia lakuin."
"Iya." Reza berdiri di belakangnya, tidak terlalu dekat, memberinya ruang. "Tapi aku bilang, yang nentuin kamu. Bukan aku. Kamu nggak harus ketemu dia kalau kamu nggak mau. Beneran. Aku bakal dukung apa pun keputusan kamu."
Sasa diam lama. Cimol melompat ke ambang jendela, duduk di sampingnya, mengikuti tatapannya ke luar seperti dua makhluk yang sama-sama sedang memutuskan sesuatu.
"Aku nggak takut sama dia lagi," kata Sasa akhirnya. "Itu yang aneh. Dulu cuma denger namanya aja aku langsung emosi, atau sedih, atau pengen marah. Sekarang—" dia menggeleng pelan, "—nggak ada apa-apa. Kayak ngelihat foto lama. Tahu itu pernah penting, tapi udah nggak nyentuh lagi."
"Itu bagus, Sas."
"Makanya aku mau ketemu dia." Sasa berbalik, menatap Reza, dan ada ketegasan baru di wajahnya. "Bukan buat dia. Buat aku. Aku mau nutup ini sendiri, di depan mukanya, biar nggak ada yang gantung. Aku mau pastiin ke diri aku sendiri kalau aku udah beneran lepas."
Pertemuan itu terjadi keesokan harinya, di lobi, di tempat yang aman dan terbuka, dengan Reza menunggu di kejauhan dekat meja Pak Karyo—cukup jauh untuk memberi Sasa ruang, cukup dekat untuk ada kalau dia butuh. Itu syarat Sasa sendiri. "Aku mau hadapin dia sendiri, tapi aku mau tahu kamu ada."
Reza tidak bisa mendengar seluruh percakapan. Dia hanya melihat. Melihat Bagas berdiri kaku, menunduk, bicara dengan suara rendah. Melihat Sasa berdiri tegak, lengan bersedekap, mendengarkan tanpa memotong. Melihat Bagas mengusap wajah, jelas mengucapkan permintaan maaf yang panjang dan tersendat. Dan melihat Sasa, di akhir, mengangguk sekali—angukan kecil, tapi final.
Apa yang Sasa katakan, dia ceritakan pada Reza belakangan, di unit, sambil membuat teh untuk mereka berdua.
"Aku bilang, aku maafin dia," kata Sasa, menuang air panas. "Tapi maaf bukan berarti lupa, dan bukan berarti kita temenan. Maaf cuma artinya aku berhenti bawa-bawa kamu di pundak aku ke mana-mana. Aku letakin kamu di sini, di masa lalu, dan aku jalan terus tanpa kamu." Dia menyerahkan satu gelas pada Reza. "Terus aku bilang, semoga dia bangkit. Beneran bangkit. Dengan cara yang nggak nyakitin orang lain lagi."
"Dia bilang apa?"
"Dia nangis." Sasa menggeleng, sedikit takjub. "Bagas, yang dulu nggak pernah aku lihat nangis sekali pun dalam dua tahun, nangis di lobi apartemen. Terus dia bilang makasih. Terus dia pergi." Dia menatap pintu, lalu menatap Reza. "Dan aku tahu itu beneran terakhir kali, Rez. Bukan kayak dulu yang dia balik-balik lagi. Kali ini dia pergi buat bener-bener pergi."
Reza meletakkan gelasnya, mengulurkan tangan, dan Sasa menyambutnya. Mereka berdiri di dapur kecil itu, di tempat yang sama di mana dulu Sasa menariknya masuk dari hujan, di tempat yang sama di mana semua benang kecil ini mulai terajut.
"Gimana rasanya?" tanya Reza pelan. "Setelah dia bener-bener pergi."
Sasa berpikir, lalu tersenyum—senyum yang ringan, senyum tanpa beban, senyum yang Reza tidak pernah lihat di bab-bab awal dia mengenalnya. "Kayak ngelepasin kardus berat yang udah aku gotong dua tahun. Tahu nggak, Rez, ternyata aku capek banget. Aku baru sadar pas kardusnya udah turun."
"Sekarang tangan kamu kosong," kata Reza.
"Nggak kosong." Sasa menggenggam tangannya lebih erat. "Diisi yang lebih ringan. Yang nggak bikin pundak aku pegel. Yang malah bantuin aku ngangkat kalau aku capek."
Cimol dan Cilok bergulung bersama di sofa. Toples receh berkilau di bawah lampu kuning. Di luar, malam turun perlahan atas kota, dan untuk pertama kalinya sejak putus yang menghancurkan di awal kisah, Sasa benar-benar bebas. Babak lama ditutup—bukan dengan dendam, bukan dengan kemenangan yang sombong, tapi dengan maaf yang dewasa dan pintu yang akhirnya, lembut, tertutup di belakangnya.
"Babak baru?" tanya Reza, mengangkat gelas tehnya seperti bersulang.
Sasa membenturkan gelasnya pelan. "Babak baru. Yang ini, aku nggak mau bawa kardus berat lagi. Cuma toples receh sama dua kucing nyebelin."
"Sama satu kurir," tambah Reza.
"Sama satu kurir," Sasa mengoreksi, "yang udah jadi koordinator, jangan lupa. Naik pangkat."
Mereka tertawa, dan teh itu terasa lebih manis dari biasanya, meski mereka lupa menambahkan gula.