Ide itu muncul, seperti ide-ide penting lainnya dalam hidup mereka, di tengah hal yang sangat tidak romantis: menghitung pengeluaran bulanan di meja makan, dengan kalkulator butut dan Cilok yang gemar duduk di atas tombol-tombolnya.
"Kos kamu berapa sebulan?" tanya Sasa, pena terselip di telinga.
Reza menyebutkan angkanya.
"Dan unit ini, sewa bulanan aku, segini." Sasa menulis kedua angka itu berdampingan, menjumlahkannya, lalu menatap hasilnya dengan dahi berkerut. "Rez. Kita berdua bayar tempat tinggal terpisah, padahal kamu di sini hampir tiap hari. Kos kamu itu praktis cuma jadi tempat naro baju sama tidur kadang-kadang."
Reza membuka mulut, lalu menutupnya. Dia tahu ke mana arah pembicaraan ini, dan jantungnya mulai berdetak dengan cara yang tidak pantas untuk sebuah rapat keuangan.
"Maksud kamu...?" katanya hati-hati.
"Maksud aku itung-itungan." Sasa berdeham, telinganya memerah, tanda yang sudah Reza hafal artinya. "Kalau kita... gabung tempat tinggal, kita hemat satu sewa penuh. Itu lumayan banget buat tabungan. Buat usaha. Buat—" dia melambaikan tangan, "—masa depan, apa pun itu."
Reza menatapnya. Ini bukan hal sepele. Di dunia mereka, di kalangan mereka, tinggal bersama bukan keputusan yang diambil sembarangan—ada keluarga, ada tetangga, ada ibu Sasa yang matanya setajam elang, ada norma yang harus dihormati. Reza, yang dibesarkan ibunya dengan prinsip-prinsip sederhana tapi kokoh, langsung memikirkan semua itu.
"Sas," katanya, memilih kata dengan hati-hati. "Aku suka idenya. Hematnya jelas. Tapi kita nggak bisa cuma main pindah-an gitu aja. Kita belum nikah. Ibu kamu, tetangga, omongan orang—itu semua nyata. Aku nggak mau kamu jadi bahan gosip gara-gara mau hemat sewa."
Sasa terdiam, lalu tersenyum tipis. "Kamu mikirin reputasi aku."
"Aku selalu mikirin kamu." Reza menatapnya lurus. "Dan jujur, aku juga... aku pengen kalau kita tinggal bareng, itu bener-bener jadi rumah kita. Bukan numpang. Bukan setengah-setengah. Aku pengen itu sesuatu yang aku bangun, bukan yang aku tumpangin."
Hening sebentar. Cilok mengeong, menjatuhkan pena dari meja. Cimol menatap dari sofa dengan tatapan yang seolah berkata kalian berdua selalu muter-muter sebelum sampai ke intinya.
"Jadi maksud kamu," kata Sasa pelan, "kamu nggak mau tinggal bareng?"
"Bukan gitu." Reza meraih tangannya. "Aku mau banget. Tapi aku mau dengan cara yang bener. Mungkin... kita cari kontrakan yang sedikit lebih besar dari unit ini, yang muat buat kita berdua dan usaha kita. Kita anggep itu langkah serius. Kita siapin baik-baik. Dan—" dia menelan ludah, "—kita lakuin dengan jelas. Bukan diam-diam. Aku nggak mau sembunyiin apa pun dari ibu kamu."
Sasa menatapnya, dan ada sesuatu yang melembut di wajahnya. "Kamu tahu nggak, Rez, kamu satu-satunya cowok yang pernah aku temui yang malah ngerem aku waktu aku yang nawarin tinggal bareng."
"Bukan ngerem." Reza tersenyum. "Cuma pengen jalannya bener. Hemat itu penting, Sas. Tapi ada hal yang lebih penting dari hemat: ngerjain sesuatu dengan cara yang bisa kita banggain. Aku mau, suatu hari, kalau kita cerita ke anak kita gimana kita mulai hidup bareng, ceritanya enak didenger. Bukan cerita yang harus disensor."
Sasa membuang muka, tapi senyumnya tidak bisa disembunyikan. "Anak kita. Ngomong kayak udah jadi."
"Aku mikir jauh," kata Reza. "Kamu sendiri yang ajarin. Inget? Rapat keuangan masa depan."
Mereka kembali ke meja, ke kalkulator butut, dan kali ini menghitung sesuatu yang berbeda: bukan dua sewa terpisah, tapi satu kontrakan bersama yang ditata dengan benar. Berapa yang harus mereka tabung dulu. Kapan waktu yang pas. Bagaimana mereka harus bicara pada ibu Sasa—Reza bersikeras itu harus dilakukan dengan sopan, tatap muka, bukan lewat telepon.
"Berarti," kata Sasa, mencatat, "kita survei kontrakan dulu. Buat tahu kisaran harganya. Biar nggak ngarang pas ngomong sama ibu."
"Setuju." Reza mengangguk. "Survei dulu. Hitung dulu. Baru putusin."
"Pelan-pelan," kata Sasa, mengutip prinsip yang sudah jadi semboyan mereka berdua.
"Pelan-pelan," ulang Reza. "Tapi maju terus."
Dan di bawah lampu kuning yang temaram, dengan dua kucing dan satu kalkulator butut dan toples receh sebagai saksi, dua orang yang dulu bertemu karena salah baca nomor unit mulai merancang sesuatu yang dulu tidak pernah berani mereka bayangkan: sebuah rumah, bukan sekadar tempat tinggal—rumah yang mereka bangun bersama, pelan-pelan, dengan cara yang benar.