Berburu kontrakan terjangkau, Reza segera tahu, adalah olahraga yang menguji kesabaran, kaki, dan rasa humor sekaligus. Mereka mengambil satu hari libur Reza, menyiapkan daftar dari grup jual-beli dan tempelan kertas di tiang listrik, lalu berangkat dengan motor, satu helm cadangan untuk Sasa, dan tekad untuk menemukan tempat yang muat untuk dua orang, dua kucing, dan satu mimpi.
Kontrakan pertama tampak bagus di foto. Aslinya, dapurnya menghadap langsung ke tembok tetangga sejarak satu jengkal, dan ada bau pesing misterius yang tidak bisa dilacak sumbernya.
"Next," kata Sasa, menahan napas, langsung keluar.
Kontrakan kedua luas dan murah, tapi pemiliknya, seorang bapak berkumis dengan mata curiga, menanyai mereka seperti penyidik. "Suami-istri? Mana surat nikahnya? Saya nggak terima yang aneh-aneh di sini."
"Belum nikah, Pak," jawab Reza jujur. "Kami lagi survei buat persiapan."
Bapak itu mengusir mereka dengan kibasan tangan seolah mereka membawa wabah. Sasa tertawa di motor sepanjang jalan. "Mukamu pas dia tanya surat nikah, Rez. Kayak ketangkep nyolong mangga."
"Lah, aku jujur kok," protes Reza, ikut tertawa.
Kontrakan ketiga punya kamar mandi yang pintunya tidak bisa ditutup. Kontrakan keempat berbagi satu sumur dengan delapan keluarga, antrean mandi pagi seperti antrean sembako. Kontrakan kelima sebenarnya bagus, tapi harganya melonjak dua kali lipat dari yang tertulis di iklan begitu mereka datang—"itu harga lama, Mbak, sekarang naik"—dan Sasa hampir berkelahi dengan agennya.
Di kontrakan keenam, yang berupa rumah petak kecil di gang tenang dengan pohon mangga di depannya, Sasa berhenti lama di ruang depan yang kosong. Cahaya sore masuk lewat jendela, menerangi lantai yang sederhana tapi bersih. Ada dapur kecil, satu kamar, satu kamar mandi yang pintunya—ajaibnya—bisa ditutup. Dan di belakang, sepetak halaman seukuran sajadah, cukup untuk satu pot tanaman atau dua kucing berjemur.
"Yang ini," kata Sasa pelan, lebih ke diri sendiri.
Reza memperhatikannya. Sasa berdiri di tengah ruang kosong itu, dan untuk sesaat Reza bisa melihat apa yang dia lihat: bukan ruangan kosong, tapi ruangan yang penuh. Sofa di sana. Meja kerja desain Sasa di dekat jendela, biar dapat cahaya. Rak buku. Toples receh di pojok meja makan. Cimol berjemur di halaman, Cilok mengejar kupu-kupu. Brosur usaha mereka ditempel di kulkas.
"Harganya?" tanya Sasa, suaranya bergetar tipis.
Pemiliknya, seorang ibu paruh baya yang ramah, menyebutkan angkanya. Sedikit di atas anggaran mereka, tapi tidak gila. Masuk akal kalau mereka menabung beberapa bulan lagi.
"Kita belum mampu sekarang," kata Reza pelan, berdiri di samping Sasa. "Tapi kalau kita nabung serius, beberapa bulan lagi bisa."
Sasa mengangguk, masih menatap ruang kosong itu. "Aku tahu. Aku cuma... pengen liat. Pengen bayangin." Dia menoleh pada Reza, dan matanya berkaca, tapi dia tertawa untuk menutupinya. "Dasar. Aku jadi melankolis di kontrakan orang."
Reza tidak menertawakannya. Dia justru ikut menatap ruang kosong itu, dan tanpa sadar mulai ikut membayangkan. "Meja kerja kamu di sana," katanya, menunjuk dekat jendela. "Biar terang. Biar kalau kamu lagi pusing desain, kamu bisa liat pohon mangga."
Sasa menoleh, terkejut Reza ikut bermain. "Terus sofa?"
"Di sini. Menghadap pintu, biar kalau ada tamu—tetangga, Bu Hartini, Pak Karyo—mereka langsung keliatan." Reza melangkah ke sudut. "Toples receh di meja makan. Wajib. Itu jiwa rumah kita."
"Kucing-kucing?"
"Cimol di halaman. Cilok di mana aja yang dilarang." Reza tersenyum. "Dan kulkas penuh tempelan brosur usaha yang udah lecek karena kebanyakan dipajang."
Mereka berdiri berdua di ruang kosong itu, di rumah yang belum jadi milik mereka, membangunnya dengan kata-kata dan mimpi. Pemiliknya, dari pintu, tersenyum pada dua anak muda yang jelas sedang merencanakan masa depan, dan diam-diam memutuskan dia tidak akan menaikkan harga untuk mereka.
"Kita tabung," kata Reza akhirnya, menggenggam tangan Sasa. "Mulai sekarang. Serius. Aku ada pemasukan koordinator, plus usaha. Kamu ada desain. Kita kunci angka, kita kejar."
"Pelan-pelan," kata Sasa.
"Tapi maju terus," sambung Reza.
Mereka pamit pada pemiliknya, mengucapkan terima kasih, berjanji akan kembali. Di motor, dalam perjalanan pulang, Sasa memeluk pinggang Reza sedikit lebih erat dari biasanya, dan Reza tahu, tanpa perlu menoleh, bahwa mereka berdua membawa pulang gambar yang sama di kepala: sebuah rumah petak kecil dengan pohon mangga, cahaya sore, dan ruang kosong yang menunggu untuk diisi—bukan dengan barang mahal, tapi dengan hidup yang dibangun pelan-pelan, hemat, dan penuh cinta.