Reza punya rahasia, dan menyimpan rahasia dari Sasa—perempuan dengan insting setajam silet dan mata seperti kucing yang bisa mendeteksi kebohongan dari jarak tiga meter—ternyata jauh lebih sulit daripada mengantar tiga puluh paket di hari hujan.
Rahasianya begini: di balik tabungan resmi mereka untuk kontrakan, Reza diam-diam membuka satu pos tabungan kedua. Pos yang lebih kecil, lebih sunyi, dan jauh lebih membuat jantungnya berdebar. Pos untuk sesuatu yang dia belum berani namai keras-keras, bahkan dalam hati. Sesuatu yang melibatkan sebuah benda kecil, melingkar, dan—mengingat dompetnya—pasti murah.
Dia memulainya dari pemasukan usaha sampingan, bagian yang Sasa serahkan padanya untuk diatur. Tiap kali ada untung lebih, Reza menyisihkan sedikit—benar-benar sedikit, supaya tidak terlihat di pembukuan—ke toples receh yang dia sembunyikan di kosnya, di balik karung beras, di tempat yang bahkan Cilok tidak akan menemukannya.
Masalahnya, menyembunyikan sesuatu dari Sasa di tengah hidup mereka yang makin menyatu hampir mustahil.
"Kamu kenapa sih akhir-akhir ini suka senyum-senyum sendiri liat HP?" tanya Sasa suatu malam, menyipitkan mata dari balik laptop desainnya. "Ada apaan? Selingkuh?"
Reza nyaris menjatuhkan ponselnya—yang kebetulan memang sedang menampilkan harga cincin di toko emas online, model paling sederhana, paling murah, tapi yang menurutnya paling cocok dengan tangan Sasa. Dia membantingkan layar ke dada. "Eh, nggak. Lagi... liat harga sparepart motor. Buat servis."
Sasa menyipit lebih dalam. "Sparepart motor bikin kamu senyum?"
"Servis itu bikin lega, Sas. Motor sehat, hati senang." Reza tertawa terlalu keras, terlalu cepat. Cimol, dari sofa, menatapnya dengan tatapan yang jelas berkata bohong banget.
Untungnya—atau celakanya—Sasa terlalu sibuk dengan tenggat desain untuk menggali lebih dalam. Tapi insiden itu mengajari Reza satu hal: dia harus lebih hati-hati. Maka dimulailah serangkaian operasi rahasia yang, kalau dilihat dari luar, jauh lebih lucu daripada tegang.
Dia menghapus riwayat pencarian harga cincin setiap selesai melihatnya, seperti agen rahasia membersihkan jejak. Dia mulai berkata "ada urusan koordinator" saat sebenarnya dia mampir ke toko emas kecil di pasar untuk sekadar menanyakan harga dan cicilan—dan setiap kali keluar dari toko itu dengan jantung berdebar, dia merasa seperti penjahat yang baru kabur dari TKP. Suatu kali, dia hampir tertangkap basah ketika Sasa tiba-tiba menelepon video persis saat dia sedang di depan etalase cincin. Reza langsung berbalik, mengarahkan kamera ke deretan toko sembako di seberang, dan berceloteh soal "lagi nyari beras murah buat stok markas" dengan ekspresi yang dia harap meyakinkan.
"Beras kok di depan toko emas?" tanya Sasa, dahi berkerut di layar.
"Sebelahan, Sas. Pasar itu campur-campur. Beras, emas, ayam, semua jadi satu." Reza ngeloyor pergi dari etalase secepat mungkin.
Yang membuat semua ini berat sekaligus manis adalah ini: setiap rupiah yang dia sisihkan, setiap kebohongan kecil yang dia karang, setiap kali dia hampir tertangkap dan menyelamatkan diri dengan alasan konyol—semua itu dia lakukan karena satu hal yang sangat sederhana dan sangat besar. Dia ingin, suatu hari nanti, berdiri di depan Sasa dengan sesuatu yang—meski murah, meski dibeli dengan recehan usaha sampingan dan toples receh yang disembunyikan di balik karung beras—mewakili niat yang paling serius dan paling tulus dalam hidupnya.
Malam itu, setelah Sasa tertidur di sofa dengan Cilok di perutnya dan laptop desain masih menyala, Reza menyelimutinya pelan-pelan. Dia menatap wajah perempuan itu—tahi lalat kecil di pipi kiri, garis lelah karena tenggat, bibir yang sedikit terbuka saat tidur—dan merasakan sesuatu yang penuh dan menyesakkan di dadanya.
"Pelan-pelan," bisiknya pada diri sendiri, prinsip yang sudah jadi semboyan mereka. "Tapi maju terus."
Dia mengambil ponselnya, membuka kalkulator, dan menghitung diam-diam di bawah cahaya laptop yang temaram. Berapa bulan lagi. Berapa toples lagi. Berapa kali lagi dia harus mengarang alasan beras dan sparepart motor sebelum toples receh itu cukup penuh untuk sesuatu yang melingkar dan kecil dan akan mengubah segalanya.
Cimol melompat ke pangkuannya, menatapnya dengan mata kuning yang berkilau di kegelapan, seolah si kucing tua itu—hakim paling galak di Graha Asri Tower B—sudah tahu rahasianya sejak awal dan diam-diam menyetujuinya.
"Jangan bocorin ke dia ya, Mol," bisik Reza, mengelus kepala Cimol. "Ini rahasia kita."
Cimol mendengkur. Di sofa, Sasa bergumam dalam tidurnya, menarik selimut lebih rapat, tidak tahu bahwa di sampingnya, seorang kurir yang dulu salah membaca nomor unit sedang diam-diam menabung untuk membaca, kali ini dengan benar, jalan menuju masa depan mereka berdua.