Reza menyembunyikan toples receh itu di tempat yang menurutnya paling aman di seluruh kos: di balik karung beras, di pojok lemari dapur kecilnya, di bawah tumpukan kardus bekas yang sudah pipih. Selama tiga minggu terakhir, setiap rupiah lebih dari usaha jasa titip mereka, setiap upah lembur, setiap recehan yang dia kumpulkan, masuk ke toples itu. Bukan untuk dana darurat. Bukan untuk modal. Untuk sesuatu yang jauh lebih menakutkan dari keduanya.
Masalahnya, Sasa punya hidung yang lebih tajam dari Cimol.
"Kamu kenapa sih akhir-akhir ini?" tanya Sasa suatu sore, saat mereka duduk di lantai apartemen 0905 menghitung order hari itu. "Tiap aku tanya saldo usaha, kamu ngomongnya muter-muter. Tiap aku ajak ngomong soal nabung buat kontrakan, kamu malah ke kamar mandi."
"Perut saya lagi nggak enak," kata Reza, yang sudah memakai alasan itu empat kali minggu ini.
Sasa menyipitkan mata. Tatapan macan yang Reza hafal betul. "Reza Pratama. Kamu nyimpen sesuatu."
"Nggak ada apa-apa." Reza menelan ludah, lalu mengalihkan pandangan ke Cimol yang sedang menjilati kakinya dengan khusyuk. "Eh, Cimol gemukan ya. Kayaknya kamu kebanyakan kasih—"
"Jangan alihin ke Cimol." Sasa merangkak mendekat. "Aku tahu ekspresi orang nyembunyiin sesuatu, Rez. Aku desainer. Kerjaan aku baca ekspresi. Kamu—" dia menunjuk wajah Reza, "—lagi nyusun bohong, dan kamu jelek banget bohongnya."
Reza tertawa gugup. Di saku celananya, ponselnya bergetar. Layar menyala, dan di sanalah letak bencana: sebuah notifikasi dari toko online, "Pesananmu sedang dikemas — Cincin," dengan huruf besar yang seolah berteriak ke seluruh ruangan.
Reza menutup ponsel dengan dadanya secepat kilat, seperti pemain bola menahan tendangan penalti.
"Itu apa?" Sasa langsung waspada. "Notif apa barusan?"
"Order usaha," kata Reza, jantungnya menggedor. "Order baru. Orang pesen jasa titip."
"Order titip apa?"
"Eh—" Reza memutar otak secepat motor di lampu kuning. "Cincin. Cincin... mur. Ring baut. Buat Pak Karyo. Pak Karyo lagi benerin engsel pintu pos satpam, dia titip beli ring baut sama mur di toko bangunan."
Sasa menatapnya lama. "Pak Karyo titip ring baut, lewat jasa titip kita, yang notifnya muncul dari toko online?"
"Pak Karyo melek digital sekarang," kata Reza tanpa berkedip. "Dia ikut pelatihan UMKM kemarin. Sekarang dia pesen apa-apa online. Bahkan teka-teki silangnya digital."
Untuk sesaat yang panjang dan menyiksa, Sasa diam. Reza merasa keringat dingin merayap di punggungnya. Lalu Sasa mengangkat bahu. "Aneh sih, tapi ya sudah. Pak Karyo emang suka aneh-aneh." Dia kembali ke buku catatan order. "Jangan lupa catat ongkos titipnya. Untung receh tetap untung."
Reza menghembuskan napas yang sudah ditahannya sepuluh detik. Selamat. Untuk sekarang.
Tapi Sasa belum selesai. Dua hari kemudian, saat membantu Reza membereskan kos karena mau menumpang internet, dia hampir menyenggol karung beras dengan kakinya. Toples receh di baliknya berdenting nyaring.
"Kamu nyimpen apa di balik beras?" Sasa membungkuk.
Reza menerjang ke depan seperti kiper menyelamatkan gawang, menutupi pojok lemari dengan badannya. "Beras! Cuma beras! Itu cadangan beras buat akhir bulan!"
"Tadi bunyi gemerincing, Rez. Beras nggak bunyi gemerincing."
"Itu—itu beras dicampur kacang ijo. Kacang ijo bunyinya gemerincing."
Sasa berkacak pinggang. "Kacang ijo bunyinya gemerincing."
"Iya. Yang kering banget. Bunyinya kayak hujan. Romantis, kan?" Reza tersenyum lebar dan keringatan.
Sasa menatapnya dengan ekspresi yang berkata bahwa dia tahu, seratus persen tahu, bahwa Reza menyembunyikan sesuatu, dan suatu hari nanti dia akan menggali sampai dasarnya. Tapi entah karena lelah, entah karena diam-diam dia memutuskan untuk percaya, dia hanya menghela napas.
"Reza, kalau kamu lagi punya masalah duit, atau utang, atau apa pun—bilang aku. Jangan disimpen sendiri. Kita kan tim sekarang."
Dan kalimat itu, yang diucapkan dengan tulus tanpa nada galak sama sekali, nyaris meruntuhkan seluruh pertahanan Reza. Nyaris membuatnya berlutut di lantai kos yang dingin itu dan mengeluarkan toples receh dan mengatakan segalanya empat bulan terlalu cepat.
Tapi dia menahan diri. Karena ada cara yang benar untuk ini, dan dia sudah merencanakannya, dan dia tidak mau merusaknya dengan kepanikan.
"Bukan utang, Sas," katanya pelan, jujur untuk satu kalimat. "Beneran bukan masalah. Justru kebalikannya. Percaya aku."
Sasa menatapnya, dan ada sesuatu yang melembut di matanya. "Oke. Aku percaya kamu." Dia berdiri, menepuk celananya. "Tapi kalau ternyata kamu beneran beliin Pak Karyo ring baut online, aku bakal ngetawain kamu seumur hidup."
Saat Sasa pamit malam itu, Reza menutup pintu, menyandar ke daun pintu, dan mengembuskan napas lega yang seakan menahan seluruh beban dunia. Dia berjalan ke pojok lemari, mengeluarkan toples receh, dan menatapnya.
"Sebentar lagi," gumamnya pada toples itu, seakan toples itu sekutunya. "Sebentar lagi kamu nggak perlu sembunyi lagi."
Di balik karung beras, di balik kardus pipih, sebuah rencana sedang menunggu. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Reza si kurir yang selalu salah baca alamat, bertekad untuk tidak salah satu langkah pun.