Hari itu seharusnya jadi hari biasa. Ternyata, takdir punya selera humor yang buruk.
Semuanya berawal dari sebuah pengumuman di grup warga Graha Asri Tower B pukul tujuh pagi: pengelola gedung mengadakan bazar akhir bulan di lobi, dan—entah bagaimana—nama "Jasa Titip & Antar Hemat" milik Reza dan Sasa tercantum sebagai vendor resmi pengantaran. Tiga ratus penghuni membaca pengumuman itu. Dalam dua jam, order membanjir.
"Tiga puluh tujuh order," kata Sasa, menatap ponselnya dengan ekspresi antara takjub dan ngeri, di dapur 0905 yang sudah berubah jadi gudang dadakan. "Tiga puluh tujuh, Rez. Dalam dua jam. Kita biasanya dapet lima sehari."
Reza, yang baru saja pulang dari shift pagi Kilat Express dan masih memakai seragam kurirnya, menatap tumpukan catatan order. "Stok titipan kita ada berapa?"
"Itu masalahnya." Sasa mengusap wajah. "Galon air mineral cuma sisa empat, padahal yang pesen dua belas. Gas melon habis. Beras kemasan kita cuma punya stok delapan, yang pesen lima belas. Dan—" dia menatap layar dengan ngilu, "—ada yang pesen lima belas kotak nasi buat acara arisan jam dua belas. Kita nggak punya stok nasi kotak. Kita bukan katering, Rez!"
Reza menarik napas dalam. Ini bukan masalah besar dunia. Bukan bencana. Tapi untuk usaha kecil mereka yang modalnya dari toples receh, satu hari kacau bisa menghapus untung sebulan. Dan yang lebih penting—reputasi. Tiga ratus penghuni sedang menonton apakah usaha mereka bisa diandalkan.
"Oke. Kita nggak panik," kata Reza, walau jantungnya berdebar. "Kita pecah tugasnya. Kamu pegang komunikasi sama pelanggan, kasih estimasi waktu yang jujur, jangan janji yang nggak bisa ditepati. Aku pegang logistik. Kita panggil tim."
Tim. Itu kata yang tiga bulan lalu terdengar mustahil, tapi kini nyata. Reza menelepon Dian, yang kebetulan libur dan langsung setuju datang dengan motornya. Dia menelepon Bu Marsih, tetangga lantai tujuh yang mereka rekrut sebagai pembelanja, yang langsung sigap membuat daftar belanja. Dia bahkan menelepon Pak Karyo, yang dari pos satpam berjanji akan mengatur lalu lintas troli di lobi agar tidak bertabrakan.
"Galon dan gas, aku dan Dian yang angkut dari distributor langsung, lebih murah dan cepat," kata Reza, sudah memetakan rute di kepalanya seperti dia memetakan rute paket. "Beras, Bu Marsih belanja di grosir Pak Haji, dia kasih harga teman. Nasi kotak—"
"Nasi kotak gimana?" Sasa menatapnya cemas. "Itu yang paling susah."
Reza terdiam. Lalu wajahnya cerah. "Warung Bu Inem. Di seberang. Dia sering kelebihan nasi tiap siang, sering dibuang. Kalau kita pesen lima belas kotak buat dijemput jam setengah dua belas, dia untung, kita kelar, pelanggan kenyang. Win-win-win."
Sasa menatapnya, dan di tengah kepanikan, dia tersenyum kecil. "Otak kamu itu emang dirancang buat logistik ya."
"Kurir, Sas. Aku mikir dalam bentuk rute dan tumpukan."
Maka dimulailah hari paling gila dalam sejarah singkat usaha mereka. Reza dan Dian membelah kota dengan motor, mengangkut galon dan tabung gas, otot kurir mereka diuji sampai batas. Bu Marsih pulang-pergi dari grosir membawa karung beras. Sasa, di pos komando 0905, mengatur semua seperti dirigen orkestra—membalas chat, menyusun urutan antar, menghitung kembalian, sambil Cimol mengeong protes karena dapurnya dipenuhi galon.
Pukul sebelas, krisis pertama datang. Distributor gas kehabisan stok. Dua belas pelanggan menunggu gas melon yang tidak ada.
"Tenang," kata Reza di telepon, meski keringat membanjiri dahinya. "Aku tahu pangkalan lain. Lebih jauh, tapi pasti ada. Sasa, kabarin pelanggan gas mundur tiga puluh menit, minta maaf, kasih potongan ongkir buat yang sabar. Jujur aja kita lagi rame."
Dan di sinilah hal menarik terjadi. Pelanggan-pelanggan itu—yang sudah berbulan-bulan dilayani dengan jujur, tepat waktu, dan ramah—tidak marah. Mereka membalas dengan, "Santai aja, Mas Reza. Kita tunggu. Usaha kalian bagus kok." Reputasi yang dibangun pelan-pelan selama berbulan-bulan, dengan kejujuran dan kerja keras, kini menjadi tameng di hari tergila mereka.
Pukul setengah dua belas, Reza menjemput lima belas kotak nasi dari Warung Bu Inem, yang berseri-seri karena nasinya laku semua. Pukul satu, gas dari pangkalan jauh tiba. Pukul dua, kotak nasi sampai tepat waktu di arisan, lengkap dengan permintaan maaf manis yang justru bikin ibu-ibu arisan terharu dan memesan lagi minggu depan.
Sore itu, saat order terakhir terkirim, Reza, Sasa, Dian, dan Bu Marsih terkapar di lantai 0905, sama-sama kelelahan, sama-sama berkeringat, dengan Cimol yang berjalan di antara mereka seperti mandor memeriksa pekerja.
"Tiga puluh tujuh order," kata Sasa, menatap langit-langit, suaranya parau. "Kita kelar tiga puluh tujuh order."
"Tiga puluh delapan," koreksi Reza, mengangkat ponselnya lemah. "Bu RT baru pesen galon buat besok."
Mereka semua mengerang serempak, lalu tertawa, tawa lelah orang yang baru saja memenangkan perang kecil bersama-sama.