Malam setelah hari tergila itu, mereka tidak langsung bubar. Bu Marsih pamit lebih dulu, membawa pulang bagian upahnya dengan senyum lebar dan dua kotak nasi sisa. Dian bertahan sebentar, menghabiskan teh, lalu pamit juga sambil menepuk pundak Reza.
"Lu hebat, Rez," kata Dian di ambang pintu. "Gua kira hari ini bakal jadi bencana. Ternyata lu bisa atur semuanya kayak komandan. Beda banget sama Reza yang dulu salah baca nomor unit."
Reza tertawa. "Gua masih sering salah baca nomor unit, Di. Cuma sekarang gua punya orang yang ngingetin."
Dian melirik Sasa, lalu menyeringai penuh arti. "Iya. Untung ada yang ngingetin." Dan dia pergi sebelum Reza bisa melempar bantal sofa ke arahnya.
Kini tinggal Reza dan Sasa, berdua di apartemen yang masih berantakan oleh sisa galon, kardus, dan plastik. Mereka duduk berdampingan di lantai, bersandar ke sofa, terlalu lelah untuk pindah ke atasnya. Cimol meringkuk di pangkuan Sasa, mendengkur, akhirnya damai setelah dapurnya bebas galon.
"Kita berhasil," kata Sasa pelan, kepalanya bersandar di bahu Reza. "Aku tadi pagi beneran mikir kita bakal hancur. Tiga puluh tujuh order. Aku panik banget."
"Aku juga panik," aku Reza. "Cuma aku nggak boleh nunjukin, soalnya kalau kita berdua panik bareng, abis kita."
Sasa terkekeh lemah. "Pembagian tugas yang bagus. Aku panik, kamu pura-pura tenang."
"Pembagian tugas yang sempurna." Reza memejamkan mata, menikmati berat kepala Sasa di bahunya, aroma sampo yang sudah dia hafal. "Tapi serius, Sas. Hari ini bikin aku sadar sesuatu."
"Sadar apa?"
Reza terdiam, memilih kata. Di kepalanya, toples receh di balik karung beras itu terasa lebih dekat dari sebelumnya. Hari ini, di tengah kekacauan, dia tidak pernah sekali pun merasa sendirian. Setiap kali dia memberi instruksi, Sasa sudah selangkah di depan. Setiap kali dia kehabisan akal, Sasa punya ide. Mereka bergerak seperti satu organisme, tanpa perlu banyak kata.
"Aku sadar kita ini... cocok," kata Reza akhirnya. "Bukan cuma cocok kayak pacaran. Cocok kayak tim. Kayak partner. Tadi pagi waktu semuanya kacau, kita nggak berantem, nggak saling nyalahin. Kita langsung bagi tugas, langsung gerak. Itu—" dia mencari kata, "—itu jarang, Sas. Itu nggak semua orang bisa."
Sasa mengangkat kepala, menatapnya. Lampu apartemen yang temaram membuat tahi lalat di pipi kirinya terlihat lebih jelas, persis seperti hari mereka mengangkat lemari dulu, jutaan tahun yang lalu rasanya.
"Kamu inget pertama kali kita ketemu?" tanya Sasa pelan. "Kamu maksa-maksa paket pupuk yang bukan punyaku, terus aku bantingin pintu di muka kamu."
"Mana mungkin lupa. Kamu manggil aku kurir sialan."
"Dan sekarang kurir sialan itu jadi partner usahaku, pacarku, orang yang aku percaya buat ngangkut dua belas galon dan lima belas kotak nasi dalam sehari." Sasa tersenyum, matanya berkaca. "Hidup itu lucu ya, Rez."
Reza menatapnya, dan dadanya terasa penuh oleh sesuatu yang terlalu besar untuk satu kata. Dia ingin sekali, saat itu juga, mengeluarkan isi hatinya. Tapi dia tahu—ini bukan tempatnya. Bukan di lantai yang berantakan, dengan badan bau keringat dan galon, dengan kelelahan yang membuat momen sebesar itu jadi tergesa. Sasa pantas mendapat yang lebih baik. Sasa pantas mendapat sesuatu yang dia rencanakan dengan hati, bukan yang keceplosan karena lelah.
Jadi dia menahan diri. Lagi. Dia hanya meraih tangan Sasa dan menggenggamnya, tangan yang masih sedikit kasar oleh kerja seharian.
"Hidup itu lucu," ulang Reza. "Dan aku bersyukur lucunya begini."
Sasa menyandarkan kepala kembali ke bahunya. Mereka duduk diam, mendengarkan dengkuran Cimol dan dengung lemari es, di tengah apartemen kecil yang berantakan tapi hangat.
"Eh, Rez," kata Sasa setelah lama.
"Hm?"
"Untung hari ini berapa, sih? Kamu udah hitung?"
Reza membuka mata. "Lumayan. Buat ukuran kita, lumayan banget. Bisa nambah ke toples."
"Toples dana darurat, atau toples beras-campur-kacang-ijo-yang-bunyinya-gemerincing?" Sasa bertanya dengan nada manis berbahaya.
Reza tersedak ludahnya sendiri. "Eh—dana darurat. Tentu. Dana darurat."
Sasa terkekeh, tidak mendesak lebih jauh. Tapi di kegelapan, Reza menelan ludah, menyadari bahwa macannya tidak pernah benar-benar berhenti mengendus. Dan toples di balik karung beras itu, suatu hari, harus dia buka di depan Sasa—di tempat dan waktu yang tepat. Sebentar lagi.