Bang Topan memanggil Reza ke ruangan pada Senin pagi, dan untuk pertama kalinya dalam karier Reza, empat kata "ke ruangan, sebentar" itu tidak membuat perutnya melilit.
"Duduk, Rez," kata Bang Topan, kumis tebalnya bergerak. Di meja, di antara tumpukan kertas dan kalender pantai yang sekarang sudah empat tahun usianya, ada dua gelas kopi sachet. Satu disodorkan ke Reza. Ini, Reza tahu, bukan pertanda buruk. Bang Topan tidak pernah menawari kopi sebelum memarahi orang.
"Ada apa, Bang?"
Bang Topan menyandar, kursinya berderit seperti biasa. "Aku denger usaha titip kamu makin rame. Kemarin sampe jadi vendor bazar. Tiga puluhan order sehari, katanya."
Reza menegang sedikit. Dulu, Bang Topan pernah khawatir usaha sampingannya bentrok dengan kerja kurir. Garis tegas pernah ditarik. "Iya, Bang. Tapi saya jaga betul jangan sampai ganggu kerja di sini. Shift saya nggak pernah saya korbankan. Usaha itu saya jalanin di luar jam, sama tim."
"Aku tahu." Bang Topan mengangguk. "Justru itu yang mau aku omongin. Setahun ini aku perhatiin kamu, Rez. Kamu dateng dari kurir yang salah baca nomor unit, yang bikin rating cabang anjlok, yang aku pikir bakal aku pecat dalam sebulan." Dia menyeruput kopinya. "Sekarang kamu kurir teladan cabang. Rating kamu tertinggi. Kamu ngebangun usaha dari nol pake recehan. Kamu ngerekrut tetangga yang nganggur. Kamu ngatur logistik bazar tiga ratus orang tanpa satu pun komplain."
Reza tidak tahu harus berkata apa. Mendengar Bang Topan—Bang Topan yang galak, yang kumisnya saja sudah menakutkan—merangkum semua itu, membuat dadanya hangat dan tenggorokannya tercekat.
"Bang, saya—"
"Belum selesai." Bang Topan mengangkat tangan. "Promosi koordinator yang kamu ambil kemarin itu—surat resminya udah turun dari pusat. Kamu lolos seleksi. Gaji baru, tunjangan, jadwal koordinator, semua sah mulai bulan ini. Aku cuma mau ngabarin langsung, biar kamu denger dari aku."
Reza terdiam, otaknya mencerna. Resmi. Beneran sah dari pusat. Itu—itu hal yang setahun lalu mustahil dia bayangkan.
"Dan," lanjut Bang Topan, menatapnya tajam, "aku tahu kamu masih jalanin usaha titip itu di luar jam. Jalan tengah yang kamu pilih kemarin itu bener. Jam koordinator lebih teratur, malah ada waktu lebih buat ngawasin tim kamu. Pertahanin. Tapi yang jelas—" suaranya melembut, hal yang langka, "—aku bangga sama kamu, Rez. Kamu udah jadi orang yang aku banggain dari cabang ini."
Reza menunduk, menahan haru. Dia teringat Bang Topan yang dulu memarahinya karena ulasan satu bintang, yang menyodorkan nomor telepon "macan" dan menyuruhnya menjinakkannya. Tanpa Bang Topan, tanpa marah-marah dan kepedulian garangnya, Reza tidak akan pernah menelepon Sasa hari itu. Seluruh kisahnya bermula dari ruangan ini.
"Bang," kata Reza, suaranya bergetar sedikit. "Makasih udah ngabarin langsung. Saya bakal jaga jabatan ini baik-baik. Tapi ada satu hal lagi yang mau saya omongin, dan ini bukan soal kerjaan."
"Soal apa?"
Reza menarik napas. Dia memutuskan, saat itu juga, untuk mengatakannya. "Saya mau lamar Sasa, Bang."
Hening sejenak. Lalu kumis Bang Topan bergerak naik, dan wajah galaknya pecah jadi senyum lebar yang jarang sekali terlihat. "AKHIRNYA." Dia menggebrak meja, membuat gelas kopi bergetar. "Astaga, Rez. Aku nungguin kalimat itu dari kamu dari setahun lalu! Si macan itu juga udah jelas-jelas mati-matian sama kamu. Kapan? Gimana? Udah punya cincin?"
"Lagi nabung, Bang. Pakai untung usaha. Recehan demi recehan." Reza tersenyum malu. "Saya pengen lamarannya sederhana, tapi berarti. Sesuai sama cara kita ketemu."
Bang Topan menatapnya, dan ada sesuatu yang nyaris seperti bangga seorang ayah di matanya. "Kalau kamu butuh apa-apa, Rez—pinjem mobil cabang, izin shift, atau apa pun—bilang aku. Anggap ini restu dari supervisormu yang paling galak." Dia mengulurkan tangan besarnya. "Selamat berjuang, kurir teladan."
Reza menjabat tangan itu, tangan yang setahun lalu mengetik teguran, kini memberinya restu. "Makasih, Bang. Beneran. Makasih."
Saat keluar dari ruangan pagi itu, dengan kopi sachet di tangan dan promosi di kantong, Reza merasa langkahnya lebih ringan dari biasanya. Satu restu sudah di tangan. Tinggal yang paling penting.