Ibu Sasa sudah sehat sepenuhnya. Pipinya kembali berisi, suaranya kembali lantang, dan—yang paling penting bagi Reza—matanya yang setajam mata Sasa kembali ke mode penuh: mengamati, menilai, dan menggoda.
Mereka berkunjung hari Minggu, membawa buah dan kue dari hasil usaha. Halaman rumah pinggiran kota itu kembali rimbun, tanaman yang dulu sempat layu karena tak terurus saat Ibu Sasa sakit kini tumbuh subur lagi—sebagian karena Reza yang diam-diam datang menyiram tiap minggu selama masa pemulihan.
"Reza! Sasa!" Ibu Sasa menyambut di pintu dengan pelukan, kini pelukan yang lebih erat dari yang pertama dulu. "Masuk, masuk. Ibu udah masak. Nasi goreng kesukaan kalian."
Di meja makan, di antara nasi goreng dan ayam dan sayur asem, suasana hangat seperti biasa. Tapi Reza tahu, dari pengalaman, bahwa di balik kehangatan Ibu Sasa selalu ada satu pertanyaan yang menunggu waktu.
Waktu itu datang saat Reza, seperti biasa, berdiri untuk mencuci piring setelah makan.
"Duduk dulu, Reza," kata Ibu Sasa, menahan lengannya dengan lembut. "Piringnya nanti aja. Ibu mau ngobrol."
Sasa, yang sedang menuang teh, langsung waspada. "Bu. Jangan mulai."
"Mulai apa? Ibu cuma mau ngobrol sama calon mantu Ibu." Ibu Sasa tersenyum manis, senyum yang membawa bahaya manis. "Reza, Ibu udah sembuh sekarang. Sehat walafiat. Tapi waktu Ibu sakit kemarin, Ibu sempet mikir banyak. Mikir soal umur. Soal masa depan Sasa."
"BU," desis Sasa, wajahnya mulai memerah.
Reza duduk kembali, jantungnya mulai berdebar. Dia tahu ke mana arah pembicaraan ini.
"Reza," Ibu Sasa menatapnya lurus, matanya tajam tapi hangat. "Kalian udah hampir setahun pacaran. Ibu udah liat sendiri kamu orang baik. Kamu rawat Ibu waktu sakit, kamu siram tanaman Ibu diam-diam—iya, Ibu tahu, tetangga sebelah lapor—kamu kerja keras, kamu jujur. Ibu nggak ragu lagi sama kamu." Dia menarik napas. "Jadi Ibu mau tanya, dengan hormat, sebagai ibu yang sayang anaknya: kalian ini mau dibawa ke mana? Sampai kapan pacaran terus?"
Sasa menutup wajah dengan tangan. "Ya ampun, Bu. Reza belum tentu—maksudku—ini—Bu, jangan bikin Reza nggak nyaman."
Tapi Reza tidak merasa tidak nyaman. Anehnya, dia merasa tenang. Karena dia tahu jawabannya. Karena toples receh di balik karung beras itu sudah hampir penuh. Karena di laci kosnya, sebuah rencana sudah tersusun rapi.
"Bu," kata Reza, suaranya mantap, membuat Sasa mengintip dari sela jari dengan kaget. "Saya nggak akan bilang banyak sekarang, karena ada hal yang harus saya kerjakan dengan benar dulu. Tapi Ibu boleh percaya satu hal."
Ibu Sasa mengangkat alis. "Apa?"
Reza menatap Sasa sebentar, lalu kembali ke Ibu Sasa. "Saya serius sama Sasa. Sangat serius. Lebih serius dari apa pun yang pernah saya kerjakan. Dan saya nggak akan biarkan dia nunggu lama-lama dalam ketidakpastian. Itu janji saya, Bu. Dari saya, ke Ibu."
Ruangan hening. Sasa menurunkan tangannya perlahan, menatap Reza dengan mata yang melebar, pipinya merah padam, tapi ada sesuatu di matanya—harapan, mungkin, yang dia coba sembunyikan.
Ibu Sasa menatap Reza lama. Lalu, perlahan, senyumnya melebar, dan matanya yang tajam itu berkaca-kaca. "Kamu tahu, Reza," katanya pelan, "Bagas dulu, kalau Ibu tanya kayak gini, dia ngeles. Bilang 'nanti', bilang 'masih sibuk', bilang 'belum siap'. Kamu—" dia mengusap sudut matanya, "—kamu malah ngasih Ibu janji. Cuma orang yang beneran serius yang berani ngasih janji ke ibu mertua."
"BU." Sasa berdiri tiba-tiba, wajahnya merah total. "Aku—aku ke dapur dulu. Cuci piring. Sekarang. Permisi." Dan dia kabur ke dapur, meninggalkan Reza dan Ibu Sasa yang saling tersenyum.
Ibu Sasa mencondongkan badan, berbisik pada Reza. "Dia kabur karena seneng, bukan karena marah. Ibu kenal anak Ibu sendiri." Dia menepuk tangan Reza. "Apa pun yang kamu rencanain, Reza, Ibu doain lancar. Dan—" matanya berkilat jahil, "—jangan kelamaan. Ibu udah nggak sabar pengen masak buat acara yang lebih besar dari nasi goreng."
Reza tertawa, dadanya hangat dan penuh. "Siap, Bu. Doain saya, ya."
Dari dapur, terdengar suara piring yang dicuci dengan terlalu bersemangat, dan dengung pelan seseorang yang sedang berusaha sangat keras untuk tidak tersenyum lebar. Reza mendengarnya, dan dia tahu—saatnya hampir tiba.