Toples receh itu, akhirnya, penuh.
Reza menumpahkan isinya di lantai kos pada suatu malam, di bawah cahaya lampu lima watt, dan menghitungnya koin demi koin, lembar demi lembar, seperti dulu dia dan Sasa menghitung modal usaha sampai larut. Hanya saja kali ini dia menghitung sendiri, dalam diam, dengan jantung yang berdebar bukan karena lelah, tapi karena harap.
Cukup. Untuk sebuah cincin sederhana—bukan berlian besar, bukan emas mahal, tapi cincin yang dipilih dengan hati, yang dia tahu akan disukai Sasa karena bentuknya minimalis, persis selera desain Sasa.
Reza sudah memesannya dua minggu lalu. Notifikasi "Cincin" yang nyaris membongkar rahasianya di hadapan Sasa itu. Sekarang cincin itu sudah ada di laci kosnya, dalam kotak beludru kecil, menunggu hari H.
Tapi cincin saja tidak cukup. Reza ingin lebih. Dia ingin lamarannya bukan sekadar berlutut dan bertanya. Dia ingin lamarannya menceritakan kisah mereka—kisah yang dimulai dari sebuah salah antar paket yang konyol.
Maka dia mulai menyusun rencana, dengan ketelitian seorang kurir yang menyusun rute pengiriman paling penting dalam hidupnya.
Pertama, tempat. Tidak ada tempat lain yang masuk akal selain koridor lantai sembilan, di depan unit 0905. Di sanalah Sasa pindah dengan uangnya sendiri, simbol kemerdekaannya. Di sanalah Reza berkali-kali berdiri di ambang pintu, ngobrol lima menit yang melebar jadi lima belas. Di sanalah Reza pernah memperbaiki atap bocor, pernah pura-pura jadi pacar di depan Bagas, pernah jatuh cinta tanpa berani menamainya. Koridor itu adalah panggung kisah mereka.
Kedua, cara. Reza tidak mau pesta besar. Tidak mau penyewa biola, tidak mau kelopak bunga ribuan—itu bukan mereka. Mereka adalah "cinta paket hemat". Lamarannya harus jujur, sederhana, dan penuh makna, bukan penuh biaya. Maka dia memutuskan: dia akan melamar Sasa dengan cara dia pertama kali datang ke hidupnya. Sebagai kurir. Dengan sebuah paket.
Dia merencanakan sebuah paket spesial—dibungkus kertas cokelat polos lalu diikat tali rami, dengan label alamat unit 0905, persis seperti paket pupuk yang dulu salah antar. Di dalamnya, bukan pupuk, tapi rangkaian kenangan: foto-foto kecil mereka, kopi sachet, secarik kertas berisi ulasan satu bintang pertama Sasa yang dia simpan screenshotnya, jas hujan kuning yang dulu dipinjamkan—dan, di kotak paling dalam, cincin itu.
Ketiga, sekutu. Reza tidak bisa melakukan ini sendiri. Dia diam-diam mengumpulkan tim: Dian, yang akan membantu mengatur agar Sasa tidak curiga; Pak Karyo, yang akan memastikan koridor lantai sembilan steril dari gangguan dan memegang kamera untuk mengabadikan momen; Bu Marsih, yang akan menjaga Cimol; dan Ibu Sasa, yang—setelah Reza menelepon dan mengaku rencananya—menangis di telepon selama lima menit penuh sebelum bisa berkata, "Ibu bantu apa pun, Nak. Apa pun."
"Bang Topan udah kasih restu, izin shift udah aman, motor udah aku servis buat hari H," lapor Reza pada Dian, di pos satpam, sambil membentangkan rencananya di atas kertas seperti peta operasi militer.
Dian menggeleng takjub. "Lu serius nyusun lamaran kayak nyusun rute pengiriman, Rez."
"Memang harus, Di. Ini paket paling penting dalam hidup gua. Nggak boleh salah alamat."
Pak Karyo, yang mendengarkan sambil mengisi teka-teki silang, mengangkat kepala. "Mendatar nomor tujuh, delapan huruf. 'Janji seumur hidup.' Apa hayo?"
Reza dan Dian menatapnya.
"Pernikahan?" tebak Dian. "Sembilan huruf, Pak."
"Lamaran," kata Reza pelan, tersenyum. "Tujuh."
Pak Karyo menghitung dengan jari, lalu menyeringai. "Pas. Kebetulan banget." Dia menatap Reza dengan mata berkaca. "Rez, Bapak jaga lantai sembilan ini bertahun-tahun. Bapak liat kamu dari kurir yang salah anter sampe—sampe sekarang. Bapak bangga, Nak. Bapak bantu jaga koridor, jamin nggak ada yang ganggu. Bapak kawal sampe tuntas."
Reza menelan haru. Di sekelilingnya, orang-orang sederhana yang dia temui karena pekerjaannya yang sederhana, kini berdiri bersamanya untuk momen terbesar hidupnya.
"Hari Sabtu," kata Reza, menatap rencananya. "Tiga hari lagi. Semua harus sempurna." Dia melipat kertas itu, memasukkannya ke saku, dan menarik napas. "Paket terakhir. Buat Sasa."