Jumat malam, sehari sebelum hari H, Reza mengemas paket itu sendirian di kosnya, di bawah cahaya lampu lima watt yang sama, dengan tangan yang sedikit gemetar.
Dia membentangkan kardus kecil di lantai. Bukan kardus baru—dia sengaja memilih kardus bekas yang sudah sedikit penyok di sudutnya, persis tipe kardus yang biasa dia antar setiap hari. Kemewahan bukan poinnya. Kejujuran adalah poinnya.
Satu per satu, dia memasukkan isinya, dan setiap benda membawa kenangan yang membuat dadanya penuh.
Foto pertama: hasil tangkapan layar ulasan satu bintang Sasa, yang dulu nyaris membuatnya dipecat. "Kurir TERPARAH yang pernah saya temui." Reza tersenyum membacanya ulang. Tanpa satu bintang itu, dia tidak akan pernah menelepon Sasa, tidak akan pernah membawa kopi, tidak akan pernah membantu pindahan. Satu bintang itu adalah bintang keberuntungan terbesar dalam hidupnya. Dia mencetaknya dan menyelipkannya dengan catatan kecil: "Ulasan yang mengubah hidupku."
Lalu, sachet kopi latte. Kopi pertama yang dia bawa sebagai "kompensasi tulang ekor". Dia menyelipkannya dengan catatan: "Kompensasi pertama kita."
Lalu, sepotong kain dari jas hujan kuning—Reza tidak tega memotong jas hujan aslinya yang masih disimpan Sasa, jadi dia menjahit replika kecil berbentuk hati dari kain kuning serupa. Catatannya: "Alasan biar aku selalu balik ke sini."
Lalu, foto mereka berdua dari acara makan siang di rumah Ibu Sasa—satu-satunya foto dari hari itu, hasil jepretan Ibu Sasa yang diam-diam. Di foto itu, mereka berdua tertawa di dapur, busa sabun di tangan Reza, dan keduanya menatap satu sama lain dengan cara yang—kalau dipikir sekarang—jelas bukan akting. Catatannya: "Hari aku sadar ini bukan skenario."
Lalu, secarik kertas dengan tulisan tangan Reza yang rapi (dia berlatih menulisnya tujuh kali agar tidak ada coretan):
"Sasa. Setahun lalu aku salah antar paket ke pintumu. Itu kesalahan terbaik yang pernah aku buat. Aku nggak punya banyak—gaji kurir, kos sempit, usaha kecil yang baru tumbuh. Tapi aku punya niat yang besar dan hati yang cuma buat kamu. Buka kotak yang paling dalam, Macan."
Dan di kotak paling dalam, terbungkus berlapis-lapis seperti hadiah yang malu-malu, kotak beludru kecil berisi cincin minimalis yang dia tahu cocok dengan selera Sasa.
Reza menatap paket itu lama. Dia menutupnya, membungkusnya dengan kertas cokelat polos lalu mengikatnya dengan tali rami, menempelkan lakban dengan tangan yang sudah ribuan kali menempel lakban tapi malam ini terasa asing karena gemetar. Lalu dia menempelkan label—stiker yang dia tulis tangan khusus.
Penerima: Sasa.
Alamat: Graha Asri Tower B, Unit 0905, Lantai 9.
Pengirim: Reza. Kurir yang dulu salah, sekarang nggak mau salah lagi.
Catatan kurir: Paket ini nggak bisa dititip ke tetangga. Harus diterima langsung. Selamanya.
Reza membaca label itu, dan matanya panas. Dia mengusapnya cepat. "Jangan nangis duluan, Rez," katanya pada diri sendiri. "Besok masih panjang."
Ponselnya bergetar. Pesan dari Sasa: "Besok kamu sibuk nggak? Aku pengen kita santai aja seharian. Capek minggu ini. Pengen di rumah aja sama kamu sama Cimol."
Reza menatap pesan itu, dan tersenyum, karena Sasa tidak tahu bahwa besok justru bukan hari santai. Besok adalah hari paling penting. Dia mengetik balasan dengan hati-hati, menjaga agar suaranya terdengar biasa:
"Aku ada satu pengiriman pagi. Bentar aja. Abis itu aku ke tempat kamu. Janji."
"Pengiriman di hari Sabtu? Tumben."
Reza menahan napas, lalu mengetik: "Paket spesial. Pelanggan khusus. Nggak bisa ditunda."
"Yaudah. Hati-hati ya. Jangan salah alamat kayak biasa 😼"
Reza menatap ikon kucing menyeringai itu, dan tertawa pelan di kos yang sunyi. "Justru, Sas," gumamnya, "besok aku bakal sengaja ke alamat yang paling bener seumur hidupku."
Dia meletakkan paket itu dengan hati-hati di atas meja, di tempat yang aman, di mana dia bisa melihatnya sebelum tidur. Lalu dia berbaring, menatap langit-langit kos, dan mengulang-ulang rencananya di kepala seperti dulu dia menghafal rute. Pukul tujuh bangun. Pukul delapan starter motor. Pukul sembilan koordinasi dengan Dian dan Pak Karyo di lobi. Pukul sepuluh, Ibu Sasa tiba diam-diam. Pukul setengah sebelas, Sasa dipancing turun. Pukul sebelas—
Reza memejamkan mata. Besok. Paket terakhir. Tidak boleh ada yang salah.
Dia tidak tahu bahwa takdir, yang punya selera humor buruk itu, sudah menyiapkan satu kejutan terakhir.