Sabtu pagi datang dengan langit cerah dan rencana yang, untuk satu jam pertama, berjalan sempurna.
Reza bangun pukul tujuh, mandi, mengenakan seragam kurir terbaiknya—dia memilih seragam, bukan kemeja, karena itulah dirinya, dan dia ingin melamar Sasa sebagai dirinya yang sebenarnya. Dia menstarter motornya pukul delapan. Dia tiba di Graha Asri pukul sembilan kurang, di mana Dian dan Pak Karyo sudah menunggu di lobi dengan wajah konspirator yang buruk dalam menyembunyikan kegembiraan.
"Semua aman, Rez," lapor Dian. "Bu Marsih udah siap jagain Cimol. Pak Karyo udah pasang 'tanda perbaikan koridor' di lantai sembilan biar nggak ada penghuni lewat. Ibu Sasa berangkat dari rumahnya, estimasi sampe jam sepuluh."
"Mendatar nomor satu," sela Pak Karyo, menyeringai, "tujuh huruf, 'hari yang ditunggu Reza seumur hidup.'"
"Pak, fokus, Pak," kata Reza, walau dia tersenyum.
Lalu Reza meraih ke kantong samping motornya—motor yang dia parkir di sisi pos sejak tiba—untuk mengambil paket itu, paket terakhir, paket terpenting, dengan cincin di dalamnya.
Kantong itu kosong.
Reza membeku. Dia membuka kantong satunya. Kosong. Dia membongkar jok, mengaduk tumpukan paket warga yang baru dia turunkan di sisi pos, paket-paket biasa yang ternyata—oh, tidak—tercampur dengan kotak cincinnya yang dia letakkan sebentar di antara mereka.
"Di," kata Reza, suaranya tercekat, keringat dingin membanjir. "Paketnya nggak ada."
"Maksudnya nggak ada?" Dian ikut panik. "Tadi lu bawa kan?"
"Aku—aku taruh di kantong samping, biar nggak ketuker. Tapi tadi tumpukannya kebawa ke troli pengantaran umum, terus—" Reza pucat pasi. "Fajar. Anak magang baru itu. Dia ambil troli pengantaran umum buat nganter paket warga subuh tadi. Dia pasti—dia pasti ngira paket aku salah satu kiriman biasa, terus dia—"
Mereka berlari ke pos. Reza menelepon Fajar dengan tangan gemetar. Tut. Tut. Tidak diangkat. Reza mencoba lagi. "Halo, Jar? Fajar! Paket di troli pengantaran tadi, yang dibungkus kertas cokelat diikat tali rami, label tulisan tangan—itu paket PRIBADI, Jar, bukan kiriman! Kamu anter ke mana?!"
Suara Fajar di seberang, polos dan ceria, menjadi mimpi buruk: "Oh, yang itu, Bang? Bareng kiriman lain saya anter. Label tulisan tangan, alamat 0905—eh tunggu, atau 0906 ya, Bang? Buram saya bacanya, hari pertama saya soalnya. Pokoknya saya naik dari bawah, lagi keliling lantai—"
Reza merasa lantai bergeser di bawah kakinya, persis seperti hari pertama dia membaca ulasan satu bintang. Sejarah, dengan kejam dan jenaka, mengulang dirinya sendiri. Sebuah paket. Salah dibaca. Salah antar. Hanya saja kali ini, di dalam paket itu ada cincin yang dia kumpulkan koin demi koin selama berbulan-bulan.
"Jar, kamu sekarang di lantai berapa?!" Reza nyaris berteriak.
"Mmm... saya naik dari lantai tiga, Bang. Sinyalnya jelek di koridor, putus-pu—" Lalu telepon mati.
Reza menatap Dian dan Pak Karyo dengan wajah pucat. "Paket cincinnya masih kebawa di troli Fajar, naik lantai demi lantai. Kalau dia keburu anter ke unit yang nomornya mirip 0905—" dia menelan ludah, "—cincin aku bakal nyangkut di apartemen orang yang nggak aku kenal. Atau lebih parah, nyampe ke Sasa duluan sebelum aku siap."
Pak Karyo berdiri tegak, teka-teki silangnya terlempar ke meja, mata satpamnya menyala oleh tugas mulia. "Lantai demi lantai. Bapak hafal tiap penghuni. Kita kejar trolinya sekarang."
Reza sudah berlari ke arah tangga darurat sebelum otaknya selesai berpikir, melompati anak tangga dua-dua, seragam kurirnya berkibar, mengejar paket terpenting dalam hidupnya untuk terakhir kalinya—
"FAJAR, JANGAN DIANTER DULU!" teriaknya, entah pada ponsel, entah pada gedung, entah pada takdir itu sendiri. "TUNGGU AKU!"