Reza berdiri di lobi Graha Asri Tower B dengan keringat dingin yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan cuaca. Di tangannya, surat jalan kosong. Di kepalanya, satu kalimat yang berputar seperti roda troli karatan: paket itu hilang.
Bukan sembarang paket. Kotak kecil terbungkus kertas cokelat polos, diikat tali rami, dengan stiker tulisan tangan "untuk penghuni 0905". Di dalamnya, sebuah cincin yang dia tabung selama berbulan-bulan dari uang jasa titip, dibeli dari toko kecil di pasar yang mau menerima cicilan. Dan pagi ini, di antara dua ratus paket yang menumpuk karena promo akhir bulan, kotak itu lenyap dari motornya.
"Tenang, Rez. Tenang," kata Dian, rekannya, sambil ikut panik. "Tadi kamu drop berapa paket di sini?"
"Dua belas. Tapi yang cincin itu... aku taruh di kantong samping, biar nggak ketuker. Pas aku cek lagi, kosong." Reza mengusap wajah. "Pasti kebawa di tumpukan biasa. Pasti udah masuk troli pengantaran umum tadi."
Pak Karyo, dari balik meja satpam, melepas kacamata bacanya dan ikut tegang. "Jadi cincin buat Mbak Sasa nyangkut di tumpukan paket warga?"
"Pelan, Pak!" Reza melirik ke arah lift, ngeri kalau-kalau Sasa turun. "Dia belum boleh tahu. Hari ini segalanya harus sempurna, dan sekarang malah—" dia menelan ludah. "Kita harus nemuin paket itu sebelum diserahin ke orang lain."
Masalahnya, troli pengantaran umum sudah berangkat. Bukan dibawa Reza, tapi dibawa anak magang baru bernama Fajar, yang hari pertamanya bekerja dan, seperti Reza dulu, kemungkinan besar membaca nomor unit dengan mata setengah terpejam.
"Astaga," gumam Reza. "Aku jadi Bagas masa lalu. Aku jadi diriku sendiri setahun lalu."
Dian sudah menempel ponsel ke telinga. "Fajar nggak ngangkat. Sinyalnya jelek di koridor dalam."
"Kita kejar manual." Reza menatap papan daftar unit di dinding lobi seperti jenderal menatap peta perang. "Fajar mulai dari lantai tiga, naik ke atas. Kalau dia konsisten, sekarang dia di sekitar lantai tujuh atau delapan. Cincin itu mungkin dia kira paket biasa, terus dia anter ke unit yang nomornya mirip nol sembilan nol lima."
Pak Karyo, yang seumur hidupnya mengerjakan teka-teki silang dan karenanya punya otak yang jago mengurai pola, menyalakan layar CCTV. "Nol sembilan nol lima. Yang mirip... bisa kebaca lima nol nol sembilan, bisa juga nol sembilan kosong tiga, atau—"
"Atau seribu sesuatu kalau matanya seburam mataku dulu," potong Reza. "Pak, Dian, kita bagi tugas. Pak Karyo pantau CCTV, kasih tahu Fajar ada di lantai berapa. Dian ke tangga darurat naik dari bawah. Aku naik lift, sergap dari atas. Kita jepit dia."
"Kayak ngepung penjahat aja," kata Dian.
"Ini lebih genting dari penjahat. Ini cincin." Reza sudah melompat ke lift.
Pintu lift menutup. Reza menekan lantai sembilan, menatap angka yang naik dengan kecemasan seorang lelaki yang tahu seluruh nasibnya bergantung pada secarik tali rami dan kotak cokelat. Di kepalanya, suara Sasa setahun lalu menggema: "Sistem Anda salah!" Dan kini sistem itu memang sedang sangat salah, dan kali ini bukan Sasa yang dirugikan, melainkan dirinya sendiri.
Pintu terbuka di lantai sembilan. Koridor sepi. Reza berlari kecil, membaca nomor pintu sambil berdoa. Dari ujung lorong, dia mendengar suara troli berdecit—decitan yang sangat dia kenal, decitan troli kecil yang sama dengan yang dulu dia seret dengan punggung pegal.
"FAJAR!" teriak Reza.
Sosok kurus berseragam Kilat Express yang kebesaran menoleh kaget, troli di tangannya goyah, tumpukan paket di atasnya nyaris longsor. "Eh, Bang Reza? Kenapa, Bang?"
Reza menyambar troli itu seperti orang kesetanan, mengaduk-aduk paket. Bubble wrap, kotak sepatu, kantong plastik berisi entah apa—tapi tidak ada kotak cokelat berikat tali rami.
"Mana paket cokelat kecil? Yang diikat tali? Tulisannya tangan, nol sembilan nol lima?" tanya Reza, napasnya memburu.
Fajar mengernyit, berpikir, lalu wajahnya berubah pucat persis seperti wajah Reza pagi tadi. "Yang... yang nomornya kayak nol sembilan nol lima itu, Bang? Saya... saya udah anter, Bang. Tadi. Soalnya nomornya jelas, jadi saya kira—"
"KAMU ANTER KE MANA?" Reza mencengkeram bahu anak itu, lalu langsung melepasnya, sadar dia sedang menjadi Bang Topan versi panik.
"Ke nol sembilan kosong enam, Bang. Lantai ini juga. Saya kira penerimanya benar, dia langsung nerima, langsung tanda tangan—"
Reza menutup mata sejenak. Nol sembilan kosong enam. Bukan nol sembilan kosong lima. Satu angka. Pintu sebelah. Persis kesalahan yang dulu dia buat. Lingkaran takdir yang konyol menutup dirinya sendiri dengan rapat.
Ponselnya bergetar. Pak Karyo, dari bawah: "Rez, aku liat di CCTV, anak magang itu tadi naro paket di unit nol sembilan kosong enam. Yang nerima... aduh, ini gawat, Rez. Yang nerima Bu Hartini."
Reza membeku. "Bu Hartini? Yang nenek tanaman itu? Yang paket pupuknya dulu—"
"Iya. Itu pindahan dia, sekarang di nol sembilan kosong enam, persis sebelah unit Mbak Sasa. Dunia ini sempit, Rez."
Reza menatap langit-langit koridor, antara ingin tertawa dan ingin menangis. Cincin yang dia siapkan untuk menutup kisah salah-antar-paket, kini salah-antar lagi, dan jatuh tepat ke tangan perempuan yang paketnya dulu memicu segalanya.
"Fajar, lanjutin tugasmu, jangan baca nomor sambil ngantuk," kata Reza, sudah berlari ke unit 0906. "Dan selamat datang di pekerjaan paling membahayakan jantung sedunia."
Dia berhenti di depan pintu 0906, menarik napas, lalu mengetuk dengan jantung yang berdebar lebih keras dari hari pertama dia berdiri di koridor ini, setahun lalu, sebagai kurir paling lelah di kota.