Pintu unit 0906 terbuka, dan Bu Hartini muncul dengan apron berbunga, tangan masih basah tanah pot, dan senyum ramah yang sama sekali tidak menyadari bahwa di rumahnya sedang tersimpan benda paling penting dalam hidup seorang kurir.
"Lho, Mas Reza! Tumben ke sini. Ada paket lagi buat Ibu?" tanya Bu Hartini riang.
"Eh, justru sebaliknya, Bu," kata Reza, mencoba tersenyum sopan meski jantungnya berlari maraton. "Tadi ada salah antar. Anak magang baru, masih hijau. Ada paket cokelat kecil, diikat tali, harusnya buat unit nol sembilan kosong lima, bukan nol sembilan kosong enam."
"Oh, paket cokelat manis yang itu!" Bu Hartini menepuk pipinya. "Aduh, Ibu kira itu kiriman bibit dari teman pengajian. Untung belum Ibu buka. Tunggu ya, Ibu ambilkan."
Reza menghela napas lega yang rasanya seperti menurunkan seratus paket dari punggung. Dia menunggu di ambang pintu, kaki gemetar. Dari ujung koridor, Dian muncul terengah-engah dari tangga darurat, dan ponsel Reza bergetar dengan pesan dari Pak Karyo: lift naik ke lantai sembilan, ada yang nyariin kamu, Rez.
Perut Reza melilit. Sasa. Pasti Sasa.
Bu Hartini kembali ke pintu, dan saat itulah segalanya runtuh dalam slow motion. Tangannya yang masih licin oleh tanah pot menyerahkan kotak cokelat itu, kotak itu tergelincir dari jemarinya, jatuh ke lantai koridor, talinya terlepas, kertasnya membuka, dan dari dalamnya menggelinding sebuah kotak beludru kecil yang terbuka—memamerkan cincin sederhana yang berkilau di bawah lampu koridor murah Graha Asri.
Dan di ujung koridor, baru saja keluar dari lift, berdiri Sasa.
Waktu seakan berhenti. Sasa menatap kotak beludru di lantai. Menatap cincin. Menatap Reza yang berjongkok setengah jalan untuk meraihnya dengan wajah pucat. Menatap Dian yang membeku. Menatap Bu Hartini yang menutup mulut dengan kedua tangan.
"Itu... apa?" suara Sasa pelan, nyaris berbisik, sama sekali tidak galak.
Reza menelan ludah. Seluruh rencananya—rencana yang dia susun selama berminggu-minggu, lengkap dengan momen sempurna dan kata-kata terlatih—berserakan di lantai koridor bersama tali rami dan kertas cokelat. Tidak ada lilin. Tidak ada musik. Tidak ada momen sempurna. Hanya seorang kurir berjongkok di lantai, sebuah cincin yang nyaris salah antar untuk kedua kalinya, dan perempuan yang dia cintai berdiri sepuluh meter jauhnya dengan mata berkaca-kaca.
Reza berdiri perlahan, memegang kotak beludru itu. Dia bisa berbohong. Dia bisa bilang itu titipan orang lain, menyembunyikannya, menunggu momen yang dia rancang nanti malam dengan lilin dan martabak kesukaan Sasa di rooftop. Tapi menatap wajah Sasa—wajah yang sudah setahun ini dia hafal tiap lekuk dan tiap tahi lalat di pipi kirinya—Reza tahu satu hal dengan pasti.
Mereka tidak pernah jatuh cinta lewat hal-hal yang sempurna. Mereka jatuh cinta lewat paket salah alamat, atap bocor, lemari tersangkut, dan kebohongan kecil yang kebablasan. Kesempurnaan bukan bahasa mereka. Kekacauan adalah.
"Sasa," kata Reza, suaranya bergetar tapi mantap. "Ini bukan rencananya. Maksudku, ini emang buat kamu, tapi caranya... ini bukan rencananya. Aku udah nyiapin yang bagus. Yang romantis. Tapi seperti biasa, paketnya salah antar duluan."
Sasa melangkah maju, satu langkah, dua langkah, air mata mulai menggenang tapi bibirnya bergetar antara mau marah dan mau tertawa. "Reza Pratama. Kamu... kamu mau ngomong apa?"
Bu Hartini, dengan kepekaan seorang nenek, mundur perlahan ke dalam apartemennya. "Ibu... Ibu tutup pintu dulu ya. Biar privat. Tapi pintunya Ibu tempelin telinga, jangan tersinggung." Pintu menutup, menyisakan celah kecil.
Dian mundur ke ujung koridor, mengangkat ponsel, dan tanpa malu-malu mulai merekam sambil bergumam, "Bang Topan harus liat ini. Pak Karyo juga."
Reza tidak peduli pada penonton. Dia hanya menatap Sasa. Dan dia melangkah maju, melewati tali rami dan kertas cokelat yang berserakan, menutup jarak di antara mereka, sampai mereka berdiri di tengah koridor lantai sembilan—koridor yang sama tempat setahun lalu dia menyodorkan paket salah, dan tempat beberapa bulan lalu dia mengaku-aku jadi pacar Sasa di depan Bagas.
"Aku capek nunggu momen sempurna," kata Reza pelan. "Karena kita berdua nggak pernah butuh yang sempurna. Kita butuh yang nyata. Jadi izinin aku ngomong sekarang, di sini, di tempat semuanya dimulai."