Reza berlutut.
Bukan lutut yang anggun. Lututnya berbunyi karena terlalu sering naik turun tangga darurat sebagai kurir, dan dia sempat meringis. Tapi dia berlutut, di lantai koridor abu-abu Graha Asri Tower B, di depan pintu unit 0905, memegang kotak beludru yang baru saja diselamatkan dari salah antar untuk kedua kalinya.
Sasa berdiri di hadapannya, satu tangan menutup mulut, air mata sudah mengalir, dan untuk pertama kalinya sejak Reza mengenalnya, sang macan benar-benar kehilangan kata-kata.
"Sasa," kata Reza. Suaranya serak. Dia menarik napas, dan kata-kata yang keluar bukan kata-kata yang dia latih, melainkan kata-kata yang sudah mengendap di dadanya selama setahun ini. "Setahun lalu, aku ngetuk pintu yang salah. Aku salah baca nomor unit, aku maksa paket yang bukan punya kamu, terus aku kabur dan ninggalin kotak sampai kamu nyaris patah tulang ekor."
Sasa tertawa di sela tangisnya, suara aneh antara isak dan tawa.
"Itu hari terburuk dalam kerjaku," lanjut Reza. "Dapat ulasan satu bintang, dimarahin Bang Topan, disuruh minta maaf sama macan paling galak di kota. Aku dateng bawa kopi sambil gemeteran." Dia menelan ludah. "Tapi sekarang aku tahu, hari itu hari terbaik dalam hidupku. Karena kalau aku nggak salah baca nomor unit, aku nggak akan pernah kenal kamu."
"Rez—" suara Sasa pecah.
"Aku ini cuma kurir, Sas," kata Reza, menatap matanya. "Gajiku pas-pasan. Aku tinggal di kos. Tabunganku ada di toples bekas selai. Cincin ini aku cicil dari pasar, batunya kecil, mungkin nggak sebanding sama yang Bagas dulu bisa kasih. Aku nggak bisa janji rumah mewah, atau mobil, atau liburan ke luar negeri."
Dia membuka kotak beludru itu lebih lebar. Cincin sederhana itu berkilau pelan di bawah lampu koridor.
"Tapi aku bisa janji ini: aku nggak akan pernah ngeluh kalau atap kita bocor—aku bakal benerin. Aku nggak akan pernah ninggalin kamu pas kamu sakit. Aku bakal selalu pulang, sejauh apa pun rute hari itu. Dan aku bakal selalu, selalu, anter cinta ini ke alamat yang bener—ke kamu. Cuma kamu. Eksklusif. Seperti syarat kamu dulu."
Sasa tertawa keras di sela isakan, menutup wajah dengan kedua tangan.
"Sasa," kata Reza, suaranya turun jadi bisikan yang penuh, "maukah kamu jadi paket terakhirku? Yang aku jaga seumur hidup, yang nggak akan pernah aku salah antar lagi? Maukah kamu nikah sama aku?"
Koridor lantai sembilan hening. Dari celah pintu unit 0906, terdengar isakan tertahan Bu Hartini. Dari ujung koridor, Dian sudah menangis sambil tetap merekam dengan tangan gemetar. Dari balik pintu unit 0905 yang setengah terbuka, terdengar suara mengeong panjang—Cimol, si hakim galak, mengintip dengan ekspresi yang anehnya terlihat menyetujui.
Sasa menurunkan tangannya dari wajah. Mata sembap, hidung memerah, pipi basah, dan di pipi kiri itu, tahi lalat kecil yang sudah jadi peta hati Reza. Dia membuka mulut. Menutupnya. Membuka lagi.
Dan untuk pertama kalinya sejak Reza mengenalnya, Sasa benar-benar tidak tahu harus berkata apa.