Sasa berjongkok perlahan, sampai wajahnya sejajar dengan wajah Reza yang masih berlutut di lantai koridor. Dia mengusap air matanya dengan punggung tangan, gerakan kasar yang sangat khas dirinya, lalu menatap Reza lurus-lurus.
"Kamu tahu nggak," katanya, suaranya bergetar tapi mulai pulih nada galaknya yang manis itu, "kamu ini benar-benar nggak bisa ngelakuin satu hal pun dengan rapi. Mau ngantar paket, salah. Mau ngaku pacar, di koridor. Mau ngelamar, paketnya jatuh duluan, cincinnya ketuker ke Bu Hartini." Dia tertawa di sela isak. "Setahun, dan kamu masih kurir paling berantakan di kota ini."
"Itu... bukan jawaban iya atau enggak, Sas," kata Reza, panik, lutut makin sakit.
"Diem dulu, aku belum selesai." Sasa menarik napas. "Aku ini perempuan yang dulu kamu kasih hari paling buruk. Aku galak, aku susah, aku gengsian, aku pesan paket tiap hari kayak orang gila cuma biar kamu naik ke lantai sembilan. Aku ini ribet, Rez. Aku ini repot."
"Aku tahu," kata Reza. "Aku suka yang ribet."
Sasa menahan tawa. Lalu wajahnya melembut, dan untuk sesaat tameng yang selama setahun ini dia turunkan pelan-pelan di depan Reza benar-benar lenyap, menyisakan perempuan yang dulu bersembunyi di balik piyama kucing marah dan ulasan satu bintang.
"Aku mau," bisik Sasa. "Tentu aja aku mau, dasar kurir bodoh. Dari hari kamu bantingin pintu di muka aku, eh—dari hari kamu maksa paket itu—aku udah—" dia tersedak kata-katanya sendiri. "Iya. Iya, Reza. Aku mau nikah sama kamu."
Untuk sepersekian detik, Reza tidak bisa memproses. Lalu seluruh tubuhnya seolah dialiri listrik. Dia hampir menjatuhkan cincinnya.
"Tapi ada syaratnya," tambah Sasa cepat, mengangkat satu jari, dan Reza tertawa karena tentu saja ada syaratnya, selalu ada syaratnya.
"Syarat apa, macan?" tanya Reza, mata berkaca-kaca.
"Tiga." Sasa mengacungkan tiga jari. "Satu: toples receh kita digabung jadi satu, dan aku yang pegang, karena kamu kalau pegang duit suka dibeliin donat. Dua: Cimol tetap anak pertama, nggak bisa diganggu gugat, dia yang restuin kamu duluan. Tiga—" suaranya melembut lagi, "—jangan pernah, sekali pun, salah antar hati kamu ke alamat lain. Cinta ini cuma punya satu penerima. Eksklusif. Seumur hidup."
"Disetujui," kata Reza, dan dia memasangkan cincin sederhana itu ke jari Sasa dengan tangan yang gemetar hebat. Cincin itu pas. Tentu saja pas. Dia sudah diam-diam mengukur jari Sasa berbulan-bulan lalu, pura-pura main tebak ukuran cincin sambil bercanda.
Sasa menatap cincin di jarinya, lalu menatap Reza, dan tanpa peringatan dia menarik kerah seragam Kilat Express itu dan memeluknya erat, di tengah koridor lantai sembilan, di lantai yang dingin, di antara serakan tali rami dan kertas cokelat.
Pintu unit 0906 terbuka lebar dan Bu Hartini keluar sambil bertepuk tangan dan menangis. "Alhamdulillah! Akhirnya! Ibu doain sejak paket pupuk dulu!" Dian, di ujung koridor, berteriak "SAH!" sambil mengangkat ponselnya tinggi-tinggi. Dan dari balik pintu 0905, Cimol melenggang keluar, melingkar di kaki Reza dan Sasa, mengeong puas seolah dialah dalang yang mengatur seluruh kekacauan indah ini sejak awal.
Reza, masih memeluk Sasa, menengadah ke langit-langit koridor murah yang dulu bocor, yang dulu dia tambal dengan lakban, dan dia tertawa pelan di antara air matanya.
"Kita berhasil, Sas," bisiknya. "Paket terakhir. Akhirnya sampai ke alamat yang bener."