Kabar itu menyebar lebih cepat daripada paket kilat di hari promo.
Video rekaman Dian—yang goyang, buram, dan diiringi suara isaknya sendiri—sampai ke ponsel Bang Topan dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Sore itu juga, supervisor berbadan besar berkumis tebal itu datang ke Graha Asri Tower B dengan motor dinasnya, masuk ke lobi dengan wajah garang seperti biasa, dan langsung memeluk Reza begitu erat sampai tulang rusuk kurir itu berbunyi.
"Anak ini," kata Bang Topan, suaranya bergetar, mata berkaca-kaca yang dia tutupi dengan pura-pura batuk, "dulu aku panggil ke ruangan gara-gara satu bintang. Sekarang dia mau nikah sama orang yang ngasih satu bintang itu. Hidup ini emang nggak ada yang bisa nebak."
"Bang, sesak," ringis Reza.
"Diem. Biarin aku terharu sebentar." Bang Topan melepaskan pelukannya, lalu menatap Sasa dengan tatapan macam ayah menatap menantu. "Mbak Sasa. Jaga anak ini ya. Dia kurir paling jujur dan paling ceroboh yang pernah saya punya. Tapi hatinya bener."
"Saya tahu, Bang," kata Sasa, tersenyum, cincin di jarinya berkilau. "Saya yang paling tahu."
Pak Karyo menyumbang teka-teki silang khusus yang dia buat sendiri sebagai kado, dengan jawaban mendatar nomor satu adalah R-E-Z-A dan menurun nomor satu adalah S-A-S-A, bersilangan di huruf A. "Biar nggak pernah lupa," katanya bangga. "Cinta itu kayak teka-teki silang. Kotaknya kecil-kecil, tapi kalau pas, semuanya nyambung."
Malam itu, mereka merayakan dengan cara paling hemat dan paling kaya yang bisa dibayangkan. Tidak ada restoran mahal. Mereka berkumpul di rooftop Graha Asri—tempat yang dulu jadi saksi saat Reza dan Sasa hampir menyerah pada tekanan usaha kecil mereka, lalu memilih bertahan. Dian membawa martabak. Bu Hartini membawa kue bolu kukus buatannya. Bang Topan membawa kardus berisi minuman dingin yang dia beli sendiri, hal langka yang membuat semua kurir terkejut. Cimol membawa dirinya sendiri, yang menurutnya sudah cukup.
Reza dan Sasa duduk berdampingan di tepi rooftop, kaki menjuntai, menatap lampu-lampu kota yang berkelip seperti ribuan paket kecil menunggu diantar.
"Aku masih nggak percaya," kata Sasa pelan, menyandarkan kepala di bahu Reza. "Dulu aku bener-bener benci kamu, lho. Bener-bener."
"Aku tahu. Satu bintang. Minus, kalau bisa." Reza tersenyum. "Tapi liat sekarang."
Sasa mengangkat tangannya, memandangi cincin sederhana itu di bawah cahaya kota. "Liat sekarang."
Lalu dia menoleh, dan dengan nada galak yang sudah jadi bahasa cinta mereka, dia berkata: "Tapi jangan kira kita bakal nikah mewah-mewah. Kita ini cinta paket hemat, Rez. Resepsi kita juga harus hemat. Aku desain undangannya sendiri, kamu yang anter undangannya pakai motor. Nol ongkos."
Reza tertawa terbahak. "Siap, Bos. Aku kurir pengantin paling murah sedunia."
"Eksklusif," koreksi Sasa.
"Eksklusif," ulang Reza, dan dia menggenggam tangan bercincin itu, di atas rooftop, di bawah langit kota yang sederhana, dengan keluarga kecil mereka tertawa di belakang—keluarga yang tidak terikat darah, melainkan terajut oleh paket-paket, kopi murah, dan cinta yang tumbuh dari hal-hal kecil yang paling membumi.