Pernikahan Reza dan Sasa berlangsung di aula serbaguna Graha Asri Tower B—ruangan yang biasanya dipakai rapat warga, kini disulap jadi tempat paling indah yang pernah Reza lihat, dan tidak satu pun dekorasinya dibeli mahal.
Sasa mendesain semuanya sendiri. Hiasan dinding dari kardus bekas paket yang dilukis ulang jadi rangkaian bunga. Lampu temaram dari toples-toples kaca bekas—toples yang sama yang dulu jadi tempat tabungan receh mereka—diisi lilin kecil. Karpet merah dari kain sisa yang dijahit tetangga. Undangannya, benar saja, didesain Sasa dan diantar Reza sendiri dengan motor ke seluruh penjuru kota, nol ongkos kirim, dengan senyum lebar tiap kali dia berkata "paket undangan, mohon tanda tangan, ini gratis."
Yang datang bukan orang penting atau pejabat. Yang datang adalah warga Graha Asri yang selama bertahun-tahun mereka layani lewat jasa titip. Bu Hartini, yang kini dianggap nenek angkat keduanya, duduk di barisan depan dengan sapu tangan yang sudah basah sejak akad belum dimulai. Pak Karyo memakai seragam satpamnya yang paling rapi, dengan teka-teki silang terlipat di saku dada seperti sapu tangan formal. Dian jadi pendamping pengantin pria, gemetar lebih hebat dari Reza sendiri. Bang Topan jadi semacam wali tidak resmi, berdiri di samping Reza sepanjang akad dengan tangan terlipat di dada dan air mata yang terus dia tuduhkan pada debu.
Ibu Sasa, yang sudah pulih sepenuhnya dari sakitnya dulu, duduk di sisi mempelai dengan senyum yang tak pernah pudar. Saat ijab dilafalkan dan Reza mengucap dengan suara mantap tanpa terbata sama sekali—hal yang membuat seluruh ruangan bersorak—Ibu Sasa berbisik pada putrinya, "Ibu udah bilang dari hari dia nawarin cuci piring. Cepat nikahin, kata Ibu. Untung kamu nurut, walau telat setahun."
"Bu," desis Sasa, wajahnya memerah di balik riasan sederhana, tapi dia menggenggam tangan ibunya erat.
Hidangannya nasi kotak dari katering tetangga yang harganya bersahabat, tapi rasanya, kata semua tamu, jauh lebih lezat dari resepsi mahal mana pun—mungkin karena dimasak dengan tangan orang-orang yang benar-benar sayang pada kedua mempelai. Tidak ada panggung megah. Tidak ada band mahal. Hiburannya adalah Dian yang menyanyi sumbang sambil menangis, dan Cimol yang berjalan di antara meja-meja dengan pita kecil di lehernya, menerima elusan dari setiap tamu seperti tuan rumah sejati.
Saat sesi foto, mereka tidak menyewa fotografer profesional. Mereka pakai ponsel bergantian, dan hasilnya buram, miring, banyak yang mata terpejam—tapi penuh tawa, penuh kehidupan, penuh cinta yang tidak bisa dibeli dengan lensa termahal sekalipun.
Di penghujung acara, Reza berdiri di depan tamu-tamunya, memegang mikrofon murahan yang sesekali mengeluarkan bunyi mendengung, dan dia tersenyum menatap Sasa yang berdiri di sampingnya dengan cincin di jari dan tahi lalat kecil di pipi kiri.
"Saya cuma kurir," kata Reza, dan ruangan langsung hening hangat. "Saya nggak punya banyak. Tapi hari ini saya orang paling kaya di kota ini. Karena saya punya kalian semua—keluarga yang nggak saya pesan lewat aplikasi, tapi datang sendiri ke hidup saya, satu paket di satu waktu. Dan saya punya dia." Dia menoleh ke Sasa. "Macan paling galak, paling hangat, paling saya cintai. Terima kasih udah nerima paket terakhir saya. Walau awalnya salah alamat."
Ruangan pecah oleh tawa dan tepuk tangan dan isak tangis bahagia. Sasa, di balik tawanya, menyeka air mata, lalu merebut mikrofon dan berkata, "Dan ini sah-nya, ya. Nggak ada retur. Garansi seumur hidup."