Setahun kemudian, di sebuah pagi yang cerah, Reza terbangun lebih dulu seperti biasa.
Mereka tidak lagi tinggal terpisah—Reza di kos, Sasa di unit 0905. Sekarang mereka menyewa unit yang sedikit lebih besar, masih di Graha Asri Tower B, masih di gedung murah yang atapnya kadang bocor, masih dengan koridor lantai sembilan yang kini terasa seperti tanah suci kecil bagi mereka berdua. Mereka tidak mampu pindah ke tempat mewah, dan jujur saja, mereka tidak ingin. Di sinilah semua bermula. Di sinilah mereka akan tumbuh.
Reza turun dari ranjang pelan-pelan, hati-hati agar tidak membangunkan Sasa yang masih meringkuk di balik selimut, satu tangan menjulur dengan cincin sederhana yang kini sudah jadi bagian dari jarinya. Di kaki ranjang, Cimol tidur melingkar bersama anak kucing yang dulu dia bawa pulang—kini sudah besar, oranye juga, sama menghakiminya, yang mereka beri nama Cilok karena harus senada dengan Cimol.
Usaha jasa titip mereka sudah tumbuh. Bukan jadi perusahaan besar—mereka tidak pernah mengincar itu—tapi cukup untuk menghidupi mereka berdua dengan layak, mempekerjakan beberapa tetangga yang butuh penghasilan, dan menyisakan untuk ditabung di toples receh yang sekarang sudah berganti jadi rekening sungguhan, walau toples lamanya masih mereka simpan di lemari sebagai jimat. Reza masih jadi kurir Kilat Express paruh waktu, tidak tega meninggalkan Bang Topan sepenuhnya, dan Bang Topan tidak tega melepasnya. Sasa mendesain dari rumah, brosurnya kini dipakai banyak usaha kecil di sekitar mereka, bakat yang dulu terpendam kini bersinar.
Di dapur, Reza menyeduh dua gelas kopi—latte sachet untuk Sasa, hitam pekat untuk dirinya. Dia melirik meja, dan di sana, sebuah kotak kecil sudah menunggu. Paket. Dia tersenyum. Hari ini ada satu paket spesial yang harus dia antar, paket yang dia pesan diam-diam dan dia ambil sendiri dari pos kemarin.
"Pagi," gumam Sasa, muncul dengan rambut acak-acakan persis seperti setahun lalu saat membuka pintu unit 1208, tapi tanpa wajah galak macan—kini hanya wajah perempuan yang bangun di sisi orang yang dia cintai. "Itu apa?"
"Paket," kata Reza, menyodorkan kotak kecil itu dengan senyum kurir terlatih yang dulu membuat Sasa ingin membanting pintu. "Untuk penghuni unit kita. Mohon tanda tangan."
Sasa memutar bola mata, tapi tersenyum, dan membuka kotak itu. Di dalamnya bukan cincin, bukan perhiasan. Hanya sepasang sepatu bayi rajut mungil berwarna kuning—warna jas hujan yang dulu Sasa pinjamkan—dan secarik kertas bertuliskan tangan: "Paket berikutnya, datang sekitar tujuh bulan lagi. Mohon disiapkan ruangannya."
Sasa membeku. Menatap sepatu mungil itu. Menatap Reza. Lalu air matanya tumpah, dan dia tertawa dan menangis bersamaan, dan dia memukul lengan Reza pelan sambil berkata, "Kamu tahu dari kemarin? Kamu tahu dan diem aja?!"
"Aku kan kurir, Sas," kata Reza, memeluknya erat, menahan harunya sendiri. "Tugasku nyimpen paket sampai waktunya dianter."
Cimol mengeong dari kaki ranjang, dan Cilok menguap. Di luar jendela, kota mulai bergerak, jalanan dipenuhi motor-motor kurir yang mengantar ribuan paket ke ribuan pintu, beberapa di antaranya mungkin salah alamat, beberapa di antaranya mungkin akan mengubah hidup orang asing menjadi keluarga.
Reza menggenggam tangan istrinya, menatap sepatu bayi kuning kecil di telapak tangan Sasa, dan dia menyadari bahwa kisah mereka tidak pernah tentang hal-hal besar. Tidak pernah tentang rumah mewah, atau mobil, atau cincin berlian besar. Kisah mereka adalah kisah paket hemat—dirangkai dari kopi sachet, risol pinggir jalan, jas hujan kuning, atap bocor, toples receh, dan cinta yang tumbuh sabar dari satu hal kecil ke hal kecil berikutnya, satu paket di satu waktu.
Dan paket terbesar mereka, ternyata, baru akan datang.
"Selamat pagi, keluarga kecil," bisik Reza, mencium puncak kepala Sasa. "Mari kita antar yang berikutnya. Bareng-bareng."
Di luar, matahari naik perlahan di atas Graha Asri Tower B, menyinari gedung murah yang menyimpan kisah cinta paling hemat dan paling kaya di seluruh kota—kisah seorang kurir yang salah baca nomor unit, dan seorang macan yang membuka pintu, dan benang takdir tipis nan konyol yang, pada akhirnya, mengantar mereka tepat ke alamat yang benar.
Selamanya.