Hari-hari berlalu begitu cepat, Laurent kini sudah menjadi gadis remaja berusia tiga belas tahun dengan wajah lembut, mata bening yang memantulkan rasa ingin tahu, dan senyum yang hangat. Tubuhnya mulai tinggi, tangannya lentik, dan gerak-geriknya tetap polos meski mulai menunjukkan kedewasaan. Semua itu tidak lepas dari sosok yang selalu hadir di sisinya yaitu Willy.
Bagi Laurent, Willy bukan hanya seorang paman, ia adalah sahabat, pengganti orang tua, dan tempat ia bersandar ketika dunia terasa berat. Setiap kali Laurent membawa pulang nilai bagus dari sekolah, Willy akan menyambutnya dengan senyum hangat dan hadiah kecil. Kadang sekotak cokelat, kadang boneka lucu, atau buku cerita yang sudah lama diidamkan Laurent. Senyuman Willy selalu cukup membuat gadis itu merasa bangga dan dicintai.
Suatu sore, Laurent duduk di meja kayu tua di ruang tamu sambil menekuni PR-nya. Willy duduk di kursi di samping sambil menyeruput teh hangat dan sesekali menatap gadis itu.
“Laur,” Willy memulai, suaranya lembut. “Kamu ini pintar banget, ya. Kalau kamu terus rajin belajar, bisa jadi apa saja yang kamu mau, loh.”
Laurent menunduk dengan pipi yang memerah karena malu.
“Aku… aku mau jadi anak yang paman banggakan,” jawabnya lirih.
Willy tersenyum dengan mata yang hangat. Ia meraih tangan Laurent dan mengacak-acak rambutnya lembut.
“Hah, kalau gitu, paman pastiin kamu selalu bisa bangga sama diri sendiri dulu, ya. Nilai bagus itu penting, tapi hati yang baik lebih penting, Laur.”
Laurent menatap paman Willy dengan penuh kagum, lalu tersenyum kecil.
“Aku janji… akan berusaha, paman.”
Siapa sangka bila kebahagiaan kecil itu tidak bertahan lama. Suatu hari, Willy terlihat sangat lelah. Ia sering batuk, wajahnya pucat, dan langkahnya lambat. Kakek Brata segera membawa Willy ke rumah sakit dan diagnosis yang mereka dapat, sangat mengejutkan, yaitu gejala awal kanker, penyakit yang sama yang dulu merenggut kedua orang tua Willy.
Kabar itu membuat dunia Laurent serasa runtuh. Hatinya panik, pikirannya kalut. Ia tidak ingin kehilangan satu-satunya orang yang selalu menemaninya.
Malam pertama setelah kabar itu muncul, Laurent menolak tidur di kamarnya sendiri. Ia masuk ke kamar Willy dengan mata yang memerah dan penuh air mata.
“Laur, kamu harus tidur. Besok sekolah, kan?” suara Willy terdengar lemah, tapi lembut.
“Aku enggak mau tidur sendiri, paman. Kalau aku bangun dan… dan paman enggak ada… aku takut,” jawab Laurent sambil menggenggam tangan Willy erat.
Willy tersenyum pahit. Ia menggeser tubuhnya sehingga Laurent bisa naik ke pangkuannya. Gadis itu menempelkan kepalanya ke d**a Willy sambil mendengarkan detak jantung Willy.
“Dengar, Laur… Jantungku masih tetap berdetak, aku ada di sini. Aku enggak akan ninggalin kamu,” kata Willy dengan suara yang serak tapi tegas.
Laurent menatap wajah Willy dengan mata berkaca-kaca. “Tapi… kalau nanti paman juga pergi?”
Willy menunduk sambil mengusap rambut Laurent dengan lembut.
“Aku janji, Laur. Selama aku masih hidup, kamu enggak akan sendirian. Jangan takut.”
Sejak itu, rutinitas Laurent berubah total. Setiap pagi, sebelum sekolah, ia selalu memastikan pamannya masih bernapas dengan menempelkan telinganya ke d**a Willy atau meletakkan jarinya di bawah hidung Willy.
“Masih ada, kan, Paman?” gumam Laurent sambil tersenyum lega.
Willy hanya tertawa pelan. “Ya ampun, Laur. Aku bisa kegelian kalau kamu terus kayak gitu,” ujarnya sambil menepuk kepala gadis itu lembut.
Sepulang sekolah, Laurent tak pernah mampir ke mana pun. Ia langsung menuju rumah, membuka sepatu dengan tergesa, dan mencari Willy. Jika tak menemukannya di kamar, ia langsung panik. Pernah suatu sore, Willy duduk di teras dengan kakek Brata, mereka sedang menikmati teh hangat. Laurent menangis sesenggukan begitu menyadari Willy tidak ada di kamarnya.
“Tenang, Laur. Aku di sini, nggak kemana-mana,” kata Willy sambil membuka tangan agar Laurent bisa langsung memeluknya.
Malam hari, Laurent sering menolak untuk tidur sendiri. Ia selalu ingin berada di pelukan Willy agar bisa memastikan bahwa Willy aman. Sekali pun Willy bergeser sedikit, Laurent bisa terkejut dan langsung mengecek keadaan Willy.
“Laur, kamu enggak capek gitu terus?” tanya Willy suatu malam dengan tubuh yang masih lemah.
“Kalau aku lengah, nanti paman bisa pergi… aku nggak mau,” jawab Laurent lirih.
Willy menghela napas panjang sambil menatap gadis kecil itu dengan lembut. Ia tahu trauma kehilangan membuat Laurent begitu ketakutan.
Ketika tubuh Willy melemah karena pengobatan, Laurent selalu siap. Ia menyiapkan handuk basah, menyeduhkan air jahe hangat, dan belajar dari kakek Brata bagaimana merawat pamannya.
“Laur, kamu masih kecil, ini tugas orang dewasa, bukan kamu,” kata kakek Brata suatu kali.
Laurent menggeleng. “Aku enggak mau diam saja, kek. Aku harus bisa jaga paman. Kalau aku enggak bisa apa-apa, nanti kalau paman benar-benar butuh aku, bagaimana? Aku cuma bisa diam.”
Setiap kali Willy menggigil, Laurent selalu memeluknya erat dari samping dengan tubuh mungilnya.
“Kalau paman kedinginan, aku bisa jadi selimut, loh,” ujarnya polos.
Willy tersenyum lemah, hatinya hangat mendengar itu.
Suatu malam, saat Willy tertidur pulas. Napasnya terdengar pelan, hingga membuat Laurent panik. Ia mengguncang tubuh pamannya sambil menangis histeris.
“Paman! Bangun! Jangan pergi!”
Willy tersentak sambil menarik Laurent ke dadanya. “Ssst… aku masih di sini, Laur. Aku cuma tidur. Nggak apa-apa.”
Gadis itu menggenggam tangan pamannya erat, seakan takut kehilangan lagi.
Berbulan-bulan pengobatan dijalani Willy dengan telaten. Laurent tidak pernah lelah untuk menjaganya, tetap sekolah, tetap belajar, tapi pikirannya selalu kembali pada Willy. Bagi Laurent, nilai bagus atau prestasi sekolah tidak ada artinya jika ia kehilangan orang yang dicintai.
Hingga suatu siang, dokter datang membawa kabar yang ditunggu-tunggu.
“Hasil pemeriksaan terakhir menunjukkan perkembangan yang sangat baik. Saudara Willy dapat dikatakan sembuh untuk saat ini,” kata dokter sambil tersenyum.
Laurent menatap dokter, lalu menoleh ke arah Willy. Air matanya tumpah deras dan ia memeluk Willy dengan sekuat tenaga.
“Paman sembuh… Tuhan terima kasih. Jangan sakit lagi, ya,” ucap Laurent sambil menepuk halus pundak Willy.
Willy membalas pelukan itu sambil menahan haru.
“Aku janji… aku akan menjaga diri. Karena aku tahu, kamu masih butuh aku. Tapi kita harus berjanji juga, Laur. Kita harus sama-sama kuat dan saling menjaga.”
Laurent menatapnya dengan mata berkaca dan mengangguk berkali-kali.
“Kita janji, ya… kita nggak akan ninggalin satu sama lain,” gumamnya.
Willy tersenyum, sambil mengusap air mata Laurent. “Janji, Laur.”
Malam itu, Laurent tidur di pelukan pamannya, hati terasa aman. Namun hujan di luar terus mengguyur deras hingga terasa sangat dingin. Laurent tahu hidup mereka tidak selalu mudah, tapi selagi mereka saling memegang satu sama lain, tak ada yang tidak bisa dilewati.
Laurent meringkuk di pelukan Willy sambil menatap hujan deras di jendela.
“Paman… hujan terus ya,” gumamnya pelan dengan suara penuh rasa aman tapi ada sedikit gelisah.
Willy menatap gadis itu dan tersenyum lembut. “Iya, Laur… tapi nggak apa-apa. Selama aku di sini, kamu nggak sendirian.”
Laurent menunduk sambil menyentuh tangan Willy yang hangat.
“Aku takut, paman… kalau suatu hari… kamu nggak ada lagi.”
Willy menghela napas dan menepuk lembut rambut Laurent.
“Aku janji…, aku akan selalu ada buat kamu. Kamu nggak perlu takut.”
Dan saat itu, keduanya sama-sama diam dan saling menatap, sementara suara hujan yang deras di luar seakan menandai bahwa perjalanan mereka baru akan dimulai. Sesuatu yang lebih besar mungkin menunggu di depan, tapi untuk sekarang, mereka hanya bisa menggantungkan janji di hati dan berharap agar semua tetap baik – baik saja. Di balik tirai jendela, dunia seakan menunggu kisah mereka….
***