Hari-hari Laurent dipenuhi dengan canda tawa, pelukan hangat, dan kasih sayang yang tak pernah berkurang dari Willy serta kakek Brata. Meski kehilangan kedua orang tua dan kakeknya, gadis itu merasa tidak pernah benar-benar sendiri. Kehidupan mereka bertiga perlahan membentuk keluarga baru yang sederhana tapi terasa hangat.
Setiap pagi, Laurent selalu menyempatkan diri menyiapkan sarapan untuk Willy. Ia tahu pamannya suka kopi panas, roti panggang, dan telur setengah matang. Hari itu, saat Laurent menata piring di meja, Willy masih duduk memandangi jendela dengan mata teduhnya.
“Laur, kamu nggak perlu repot-repot, aku bisa membuat sarapan sendiri,” ucap Willy sambil tersenyum tipis.
Laurent menggeleng. “Enggak, paman. Aku mau ini dan aku senang bisa membuat sarapan untuk kita.”
Willy tertawa pelan sambil mengacak rambut Laurent lembut.
“Ya ampun, anak ini… kalau terus-terusan dimanja gini, nanti aku bisa lupa akan tanggung jawabku padamu.”
Laurent tersipu, tapi hatinya berdebar. Setiap detik yang ia habiskan bersama Willy selalu terasa hangat dan menenangkan. Tapi semakin hari, ia mulai menyadari perasaan aneh yang muncul dan tak bisa ia jelaskan.
Sejak usia tujuh belas, Laurent merasa jantungnya berdegup sangat kencang ketika dekat dengan Willy. Saat mereka duduk berdampingan, ia memperhatikan garis rahang tegas pamannya, bibirnya yang tipis, dan mata yang teduh itu. Ia terpesona akan semua itu, namun ia segera menunduk cepat ketika sadar telah menatap terlalu lama.
Suatu sore, mereka duduk di sofa sambil menonton film. Laurent tanpa sadar menempelkan bahunya ke bahu Willy.
“Eh, Laur… kenapa nyender gitu? Kamu nggak capek?” tanya Willy sambil menoleh.
Laurent cepat-cepat menunduk.
“Ah… nggak apa-apa, paman. Aku cuma… capek duduk tegap, kayaknya.”
Willy tersenyum sambil menepuk rambut gadis itu.
“Oke… tapi jangan ketiduran ya…, nanti bisa – bisa, pundakku kaku sebelah.”
Laurent hanya tersenyum malu, tapi hatinya terasa hangat. Setiap sentuhan pamannya membuatnya semakin bingung dengan perasaannya sendiri.
Beberapa hari kemudian, saat mereka sedang memasak makan malam bersama, Laurent menyenggol lengan Willy dengan sengaja ketika mengambil panci.
“Laur… hati-hati, ya. Nanti bisa terpentok panci,” kata Willy sambil menahan senyum.
Laurent tertawa kecil dan wajahnya tampak memerah.
“Aku cuma mau dekat sama paman, jadi enggak sengaja menyenggol panci.”
Willy menatap gadis itu lama, ada sesuatu yang seolah ingin ia ucapkan tapi ia menelan kata-kata itu. Hatinya bergejolak, tapi ia tahu posisi dirinya sebagai pamannya membuat segalanya menjadi rumit.
Malam itu, Laurent menulis di buku hariannya, berbisik pada dirinya sendiri.
“Apa ini, ya? Kenapa jantungku merasa deg-degan terus kalau dekat dengan paman? Kenapa aku nggak bisa melepaskan pandanganku pada paman? Apa ini… cinta?”
Hari demi hari, rasa itu semakin terasa jelas. Saat mereka berbelanja, Laurent sengaja berjalan terlalu dekat hingga menyentuh bahu Willy. Sesekali ia memberanikan diri untuk menggandeng tangan Willy sebentar. Tiap kali itu terjadi, jantungnya terasa seperti mau melompat keluar.
Suatu pagi, ketika mereka duduk sambil minum teh di teras, Laurent mencoba menguji perasaannya lagi. Ia menempelkan kepala di bahu Willy sambil pura-pura menguap.
“Laur… kamu lagi ngapain nih?” tanya Willy sambil tersenyum dan menatap mata gadis itu.
Laurent hanya tersipu dan tak mampu menjawab. Hatinya berdebar sangat keras, setiap detik di dekat Willy seperti bom yang siap untuk meledak.
Hari ulang tahun yang ke -18nya tiba. Rumah sederhana itu kini dihiasi balon warna-warni, kue tart kecil dengan lilin menyala, dan tentu saja, senyum hangat dari Willy.
“Selamat ulang tahun, Laurent,” kata Willy sambil menepuk lembut bahunya.
Laurent tersenyum dengan matanya berkaca-kaca. “Terima kasih, paman…”
Willy kemudian menyerahkan sebuah kotak kecil berbalut kertas biru.
“Ini hadiah untukmu. Dari paman.”
Laurent membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya, terlihat sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk salju. Tampak indah, sederhana, dan penuh makna.
“Paman… ini cantik banget,” ucap Laurent lirih dengan mata yang berbinar.
“Seperti kamu, Laur… indah seputih salju, tulus, dan selalu menghangatkan hati meski dunia terasa dingin,” jawab Willy lembut.
Hatiku akan meledak…
Ia menatap Willy lebih lama dengan napas yang terengah dan tangan gemetar.
Aku nggak bisa menahan ini… aku harus menyatakan perasaanku…
Ia melangkah mendekat, udara di ruangan tiba-tiba terasa sangat berat dan waktu seakan melambat.
“Paman…” suara Laurent bergetar.
“Iya, Laur?” Willy tersenyum hangat, tak menyadari badai yang sedang mengamuk di hati gadis itu.
Laurent menatap mata Willy, lalu menempelkan bibirnya.
Chup…
Ciuman itu terasa lembut, tapi penuh perasaan yang telah ia simpan bertahun-tahun. Tangannya menggenggam lengan Willy dan matanya terpejam erat.
Willy terdiam, matanya melebar dan bibirnya merasakan sentuhan lembut itu. Ia menelan ludah dan merasakan ribuan emosi bercampur bersamaan - kebahagiaan, kebingungan, rasa bersalah, dan keinginan. Tapi ia tahu, ia tidak bisa membalas itu semua.
Laurent melepaskan bibirnya dan mundur selangkah dengan wajah yang memerah dan napas yang terengah.
“Paman… aku… aku jatuh cinta padamu. Aku cinta paman bukan sebagai pamanku, tapi sebagai seorang laki-laki.”
Keheningan menyelimuti ruangan itu. Hanya terdengar suara detak jam yang berjalan lambat.
Willy menatap Laurent cukup lama, tapi ia tetap diam. Wajahnya tak berubah dan ekspresinya tetap netral, hanya senyum tipis sesekali muncul, seolah ingin berkata banyak tapi menahan diri.
“Paman… paman enggak akan bilang apa-apa padaku?” tanya Laurent dengan suara lembut tapi sedikit bergetar.
Willy menunduk sebentar, menatap lantai kayu, kemudian kembali menatap Laurent. Ia menelan ludah dan mencoba menenangkan dirinya sendiri. Semua perasaan muncul bersamaan, tapi ia tahu posisinya membuatnya harus tetap diam.
Laurent menunggu jawaban dan matanya menatap secara intens, tapi Willy tetap diam.
“Kalau paman diam… itu artinya apa?” bisik Laurent.
Willy menunduk lagi, menatap keluar jendela, hujan turun deras di luar. Ia tetap diam dan membiarkan udara antara mereka penuh dengan ketegangan dan pertanyaan yang tak terjawab.
Laurent menarik napas panjang.
“Baiklah… aku cuma pengen bilang apa yang aku rasakan selama ini. Aku hanya nggak mau menahan perasaan ini lagi.”
Ia duduk di kursi dekat jendela, menatap hujan, tampak tetesan air menempel di kaca seperti simbol perasaan yang membeku. Hatinya bercampur aduk - harap, takut, dan penasaran.
Willy duduk di sofa, menatapnya dari jauh, hatinya bergolak. Ia ingin mengatakan sesuatu, ingin memeluk Laurent, ingin menghapus ketakutan gadis itu… tapi kata-kata itu tetap tersegel. Keadaan membuatnya harus terdiam.
Hujan terus turun di luar jendela, tetes demi tetes seakan menunggu jawaban dari hati yang diam.
***