Kilasan itu masih jelas membekas di kepala Laurent. Di hari ulang tahunnya yang ke-18, saat ia, dengan keberanian luar biasa, mengecup bibir Willy. Segalanya terjadi begitu cepat, namun terasa sangat lambat untuknya. Ia masih bisa merasakan kelembutan bibir Willy dan suasana yang membuat wajahnya memerah padam.
Willy tampak terkejut, dengan mata yang melebar dan tubuhnya menegang. Seluruh aliran darahnya seakan berhenti mengalir. Ia tak pernah menyangka gadis kecil yang dulu ia gendong dan jaga, kini berdiri di hadapannya sebagai seorang gadis yang mengaku jatuh cinta padanya. Detik-detik itu menyesakkan d**a, bahkan detak jarum jam terdengar seperti palu besar yang menghantam kesadaran mereka.
Setelah keheningan panjang, Willy akhirnya menarik napas berat. Ia mendekati Laurent perlahan dan menatap matanya dengan lembut, lalu bersuara dengan nada serius namun hati-hati:
“Laurent… yang kamu katakan barusan… itu salah. Aku ini pamammu. Perasaan seperti itu tidak seharusnya ada di antara kita.”
Laurent tertegun. Matanya membesar, lalu perlahan berkaca-kaca. Air matanya jatuh satu per satu membasahi pipinya yang memerah. Hatinya sakit, seperti ditusuk ribuan jarum, tapi keberanian itu justru semakin menyala.
“Paman…” suara Laurent bergetar dengan mata yang tetap lurus menatap Willy. “Aku tahu! Semua orang mungkin akan mengatakan bahwa aku salah. Mungkin juga dunia akan menentangku. Tapi perasaan ini nyata. Aku jatuh cinta padamu, dan aku enggak bisa berpura-pura tidak merasakannya. Bukankah kita juga tidak memiliki ikatan darah?”
Willy menelan ludah, dadanya terasa semakin sesak. Ia ingin marah, ingin menegur keras, tapi bibirnya kelu. Pandangan gadis itu terlalu jujur, terlalu murni, bahkan ia tahu bahwa Laurent tidak sedang main-main.
“Laurent… kamu masih muda!” katanya akhirnya dengan nada yang dipaksakan agar terdengar tegas. “Perasaanmu itu… hanya kebingungan sesaat. Kamu akan mengerti suatu hari nanti kalau itu hanyalah emosi remaja. Itu bukan cinta yang sebenarnya.”
Mata Willy bergetar meski ia mencoba terlihat dingin. Ada ketakutan, ada dilema yang membunuhnya secara perlahan. Laurent menggigit bibirnya untuk menahan isak. Pipinya tampak basah, tapi tatapannya tidak lari sedikit pun.
“Tidak, paman. Aku tahu perasaanku. Aku sudah berusaha menyangkal berkali-kali, tapi setiap kali melihatmu, mendengar suaramu, aku semakin yakin. Ini adalah cinta sejati. Aku enggak akan menyerah, meski paman menolakku.”
Willy terdiam sambil menunduk. Senyum pahit muncul di wajahnya, seperti luka. Ia menggeleng pelan.
“Laurent… jangan buat hatimu semakin sakit. Aku adalah pamammu. Itu hal yang tidak bisa dan tidak mungkin!”
Sejak malam itu, Laurent tak berhenti berusaha. Ia ingin menunjukkan bahwa cintanya bukan hanya sekadar kata-kata. Ia mulai berpikir untuk memberikan sebuah hadiah, sesuatu yang dapat melekat pada Willy setiap hari, sebagai simbol cintanya yang tulus.
Beberapa minggu ia menahan diri untuk tidak membeli hal – hal kecil agar bisa menyisihkan uang sakunya. Tabungannya mulai terkumpul, dan akhirnya ia berhasil membeli sebuah dasi biru tua yang merupakan warna kesukaan Willy. Laurent tahu, Willy menyukai hal-hal sederhana tapi rapi, dan ia berharap dasi itu dapat menyentuh hati Willy meski sedikit saja.
Malam sebelum ia memberikan hadiah, Laurent berlatih di depan cermin. Ia memegang kotak kecil berbalut pita, tersenyum, dan berkata pelan:
“Paman… ini hadiah dariku untukmu.”
Setiap kali mengulang kata – kata itu, pipinya memerah, dadanya berdegup kencang seakan benar-benar berhadapan dengan lelaki yang ia sukai.
Malam itu, Willy sedang duduk di ruang tamu, menikmati teh hangat setelah pulang kerja. Laurent berdiri di ambang pintu dengan tangan gemetar sambil memegang sebuah kotak. Ia menatap pamannya sebentar, lalu melangkah mendekat.
“Paman… ini untukmu,” suara Laurent bergetar.
Ia menyodorkan kotak itu dengan senyum manis, meski jantungnya berdegup kencang. Willy menatap kotak itu dengan raut wajah yang terkejut. Willy menerima perlahan, lalu membuka pita dengan hati-hati, dan mengangkat tutupnya. Di dalamnya terlipat rapi sebuah dasi berwarna biru tua. Sekilas, matanya melembut, seakan sesuatu bergetar di balik ketegasannya.
Namun itu hanya sesaat. Willy menutup kotak itu dan menyerahkannya kembali pada Laurent.
“Terima kasih… tapi aku tidak bisa menerimanya.”
Suara Willy tenang, tapi menusuk hati Laurent. Gadis itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit.
“Tapi… kenapa, paman?” suaranya pecah. “Kenapa paman selalu menolakku? Apa… apa tidak ada sedikit pun perasaan untukku?”
Willy menatap wajah Laurent yang tulus, penuh cinta, namun juga terluka. Sekilas, ia tampak ingin mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya hanya menggeleng pelan.
“Aku pamammu, Laurent. Itu jawabannya. Walau kita tidak sedarah, aku sudah merawatmu sejak kecil. Aku hanya pantas menjadi pamanmu,” kata Willy lembut dengan suara penuh dilema.
Laurent menggigit bibir, lalu ia menunduk sambil menatap dasi, lalu menatap Willy lagi.
“Aku mengerti… tapi setidaknya aku ingin paman menerimanya sebagai tanda cintaku, walau aku tahu aku salah.”
Willy menunduk sejenak, menatap gadis itu, lalu mengangkat wajahnya.
“Aku… tidak bisa, Laur. Aku sudah bilang. Ini bukan hanya tentang perasaan, tapi tentang peran kita. Aku tidak boleh…,” ia berhenti sejenak tampak ragu, lalu menatap Laurent dengan mata lembut. “Aku tidak boleh salah langkah. Maafkan aku.”
Laurent tersenyum tipis, meski air mata masih menggenang.
“Aku akan mencoba mengerti… tapi aku tak akan menyerah. Aku akan terus mencintaimu, sampai paman benar-benar bisa melihat perasaanku.”
Willy hanya terdiam. Ia menatap Laurent dengan penuh dilema, bibirnya bergerak seakan ingin mengucapkan sesuatu, tapi tak ada kata yang keluar. Hanya tatapan yang sarat makna dan seribu bahasa dalam diamnya.
Hari-hari berikutnya diisi oleh keheningan dan kecanggungan. Laurent tetap berusaha menunjukkan kasihnya, dengan tetap menyiapkan teh hangat atau kopi panas dan mencoba tetap menyiapkan sarapan pagi untuk pamannya. Setiap upaya selalu mendapatkan respon penolakan dari Willy. Percakapan mereka terkadang penuh kehangatan, namun seringnya akan berakhir dengan ketegangan.
“Laur… kamu terlalu sering mencoba membuatku terharu,” ucap Willy sambil tersenyum pahit.
“Aku ingin paman tahu… aku serius akan perasaanku,” jawab Laurent dengan mata berbinar.
“Benarkah? Tapi aku tetap tidak bisa membalas perasaanmu,” kata Willy pelan sambil menatap lantai.
Laurent menghela napas.
“Aku tahu… tapi aku tetap ingin paman tahu akan cintaku.”
Willy tersenyum tipis.
“Aku tahu… dan itu membuatku bahagia sekaligus sedih.”
Malam hari saat hujan deras, Laurent duduk di kursi sambil menatap Willy yang tengah duduk di sofa. Suara hujan menjadi saksi kebingungan, cinta, dan penolakan. Laurent memecah keheningan:
“Paman… apakah suatu hari nanti… aku bisa berharap?”
Willy menatap gadis itu, namun dalam diam. Bibirnya bergerak seakan ingin berkata banyak, tapi akhirnya hanya mengangguk pelan. Laurent tersenyum tipis, meneteskan air mata bahagia sekaligus sedih.
“Terima kasih, paman… aku akan menunggu.”
Willy tetap diam, sambil menatap hujan di luar jendela, hatinya campur aduk. Ia ingin mengatakan banyak hal, namun kata-kata itu tak bisa keluar dari mulutnya. Semua yang ia rasakan terbungkus dalam diam seribu bahasa.
Hujan malam itu menjadi saksi, bahwa kedua hati itu mungkin saling memegang, meski satu menolak dan satu terus berharap. Dan mereka hanya bisa menggantungkan perasaan di antara tatapan dan hujan yang deras di luar jendela, menunggu hari di mana semua akan menemukan jalan.
***