Hari-hari terasa begitu berat bagi Laurent, ia mencoba tersenyum dan mencoba berbicara biasa dengan Willy, namun hatinya terasa sakit akan penolakan yang terus di sampaikan Willy. Seakan semua itu telah terstempel dan tidak bisa di ubah. Namun, setiap tatapan Willy, setiap senyumnya, seakan menembus jantung Laurent, membuatnya melupakan kesakitan itu. Dan membuatnya berpikir bahwa, jika Willy menolak, semakin besar tekatnya untuk membuktikan cintanya pada Willy.
Di sisi lain, Willy pun berada dalam dilema yang sama beratnya. Setiap kali ia menatap Laurent, hatinya bergetar, dadanya sesak, dan pikirannya kacau. Ia seolah ingin membalas cinta gadis itu, ingin memeluknya, ingin berkata bahwa ia juga menyimpan rasa yang sama. Tapi batas moral, perbedaan usia, dan perannya sebagai pamannya selalu menahan setiap langkahnya.
Suatu sore, Laurent duduk di meja makan sambil menatap Willy yang sedang membaca koran. Ia menunduk sejenak, kemudian menatap pamannya dengan mata berbinar.
“Paman…” suara Laurent terdengar lembut tapi tegas, “aku ingin bicara sebentar.”
Willy menurunkan korannya dan menatap gadis itu. “Tentang apa, Laur?”
Laurent menelan ludah. “Tentang… tentang perasaanku.”
Willy menghela napas panjang dan menatap ke luar jendela.
“Laur… kita sudah membicarakan ini berkali - kali. Aku sudah bilang… aku tidak bisa…”
“Tapi paman… aku tidak bisa berhenti mencintai paman. Aku… aku hanya ingin paman tahu. Aku sungguh-sungguh. Aku tidak main-main,” kata Laurent dengan mata yang berkaca-kaca.
Willy menunduk sambil menatap tangan Laurent yang berada di meja.
“Laur… kamu begitu polos, begitu tulus… tapi aku… aku adalah pamammu. Aku harus menjaga batas itu. Aku tidak bisa membiarkan hatiku terbawa perasaan yang salah.”
Laurent menggigit bibir dan dengan suara yang pelan tapi penuh tekad.
“Kalau begitu… aku akan terus mencintai paman. Aku tidak peduli harus menunggu atau menghadapi penolakan berapa puluh kalipun. Aku hanya ingin paman tahu akan cintaku.”
Willy menutup mata dan merasakan perasaan yang berkecamuk di dadanya.
“Kenapa paman selalu menolak?” tanya Laurent dengan mata yang berkilat. “Aku tahu… aku bisa melihatnya di matamu. Kamu juga memiliki perasaan yang sama, bukan? Tapi kamu menahannya. Mengapa?”
Willy menghela napas, “Laur… kamu salah! Jika aku membiarkan perasaan ini muncul dan terlena oleh perasaan sesaatmu, mungkin suatu saat semua ini akan menghancurkanmu. Aku sudah menanggung tanggung jawabmu sejak kamu kecil. Aku hanya pantas menjadi pamammu… tidak lebih.”
Laurent menatap Willy dengan hati yang bergetar, tapi suaranya tetap tegas.
“Aku mengerti, paman… tapi aku tidak peduli. Aku ingin paman tahu… aku mencintai paman dengan tulus, dan aku tidak sedang bermain – main dengan perasaanku.”
Willy hanya diam, menatap gadis itu. Ia ingin berlari, ingin memeluk, ingin menenangkan, ingin menghapus air mata itu… tapi ia tidak bisa. Ia hanya bisa duduk diam dan membiarkan hati dan pikiran mereka berperang satu sama lain.
Beberapa hari kemudian, Laurent memutuskan untuk membuat sebuah kejutan yang lebih besar. Ia ingin Willy merasakan cintanya melalui tindakan, bukan hanya kata-kata.
Ia mulai menyiapkan sebuah malam spesial. Malam itu, tampak lampu-lampu kecil yang berkelip menghiasi ruang tamu. Meja makan tertata rapi, lengkap dengan sop hangat kesukaan Willy beserta ayam goreng bumbu spesial dari resep kakek Brata dan puding cokelat yang tampak cantik. Sebelumnya, Laurent telah belajar bermain gitar dan menulis sebuah lagu sederhana yang dibuat khusus untuk Willy. Meski jari-jarinya sakit karena memetik senar terus-menerus, semangatnya tidak goyah.
Saat semua telah selesai dipersiapkan, Laurent menunggu Willy pulang. Begitu Willy membuka pintu, ia berhenti sejenak dan tampak matanya membesar melihat suasana ruang tamu.
“Laur… kamu… membuat semua ini?” tanya Willy dengan suara pelan.
Laurent mengangguk sambil tersenyum gugup.
“Aku ingin paman tahu… aku bersungguh-sungguh. Aku ingin paman merasakan cintaku, walau paman terus menolak.”
Willy menatapnya lama, hatinya terguncang. Ia ingin memeluk Laurent, ingin menenangkan dan ingin berkata…
Tapi ia tetap memilih untuk diam.
Laurent menggenggam gitar dan dengan nada yang sedikit fals karena tangan yang gemetar. Suaranya pelan tapi penuh ketulusan,
“Setiap hari kujalani… hanya ingin engkau tahu… hatiku milikmu… diri ini milikmu…”
Willy menutup mata dan merasakan getaran di dadanya. Lagu itu sederhana, naif, tapi justru itu yang membuat hatinya melunak. Namun sekaligus, membuat tembok pertahanan moralnya mulai retak, dan membuatnya ketakutan.
Laurent menaruh gitarnya dan mendekat. Ia menatap Willy dengan mata berbinar dan pipi yang memerah.
“Paman… aku tahu ini mungkin salah di mata orang lain, tapi aku tidak bisa membohongi diriku. Aku benar-benar mencintai paman. Aku ingin paman jadi segalanya buatku…”
Tangan kecil Laurent meraih tangan Willy dan menggenggamnya erat. Namun, Willy menarik tangannya dengan cepat, lebih keras dari biasanya.
“Cukup, Laurent!!” suaranya meninggi, hingga membuat Laurent mundur tersentak dan selangkah.
“Paman… aku hanya ingin paman tahu akan cintaku,” kata Laurent sambil menahan air mata.
“Berhenti! Kamu pikir aku nyaman dengan semua ini? Kamu pikir aku tidak terguncang setiap kali melihatmu berusaha sekeras ini?” Willy menatapnya dengan suara yang bergetar. “Aku ini pamammu! PAMANMU!! Laurent! Apa kamu tidak mengerti batas itu?”
Laurent menunduk dan dengan suara lirih, “Tapi kita tidak ada ikatan darah…”
“Cukup! Aku tidak mau melihat hal-hal seperti ini lagi!”
Kata-kata itu menghantam Laurent lebih keras dari sebelumnya. Air matanya tumpah sangat deras. Ia berlari menuju kamarnya dan meringkuk di pojok gelap sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangisnya mengguncang seluruh tubuh kecilnya.
“Kenapa, paman… kenapa harus menolak aku sekeras ini?” lirihnya. “Aku cuma ingin paman menjadi milikku seorang… apakah itu salah?”
Di ruang tamu, Willy tampak duduk sendiri sambil menatap meja yang masih memancarkan kehangatan, gitar yang tergeletak, dan lampu-lampu yang berkelip.
“Apa yang harus kulakukan, Tuhan…” gumamnya.
Setiap tatapan Laurent, setiap senyumannya dan setiap kejutan kecil yang tulus, perlahan meluluhkan benteng yang ia bangun cukup tinggi. Namun membiarkan perasaan itu berkembang berarti mengkhianati batas moral, kepercayaan keluarga, bahkan dirinya sendiri.
Di dalam hati, Willy ingin berlari ke kamar Laurent. Ia ingin memeluk dan menenangkan gadis itu…
Tapi langkahnya selalu terhenti. Ia hanya bisa duduk terpaku, sambil membiarkan dilema menghancurkan hatinya.
Sementara itu, di kamar, Laurent masih menangis, tapi ia tetap berbisik di antara isaknya:
“Aku tidak akan menyerah… aku akan terus mencintai paman…”
Malam itu, rumah terasa sunyi. Hanya tersisa suara tangis Laurent yang tertahan dan helaan napas berat Willy. Dua hati yang mungkin saling mencintai, tapi terpisah oleh tembok besar bernama batas dan moralitas.
***