Darren tertawa geli menatap Jero yang baru saja menyelesaikan cerita pertemuannya dengan Amira.
“Gue nggak percaya lu bakal seperti ini. Ini bukan lu banget, Jer ... ” Darren menggeleng tak percaya.
Jero menghembuskan napasnya. Dia menatap ke arah jalan yang banyak dilalui orang. “Gue juga ngerasa kalau perasaan gue ini konyol banget," balas sambil tertawa kecil.
“Artinya, elu belum tau banyak siapa cewek ini?”
Lelaki itu menggeleng. “Gue Cuma tau namanya Amira , itu pun dari Joe. Anak majikan dia.”
“Joe?”
“Anak laki-laki tempat dia kerja.”
Darren mengangguk dan menatapnya jahil. “Tapi ini nggak bakal ada kan kisah persaingan elu sama si Joe ini untuk mendapatkan si Cinderella ini?”
Jero tertawa. “Jonathan Prakoso jelas nggak tertarik pada Amira.”
Darren mengangkat alisnya tinggi. “Jonathan Prakoso? Anaknya David Prakoso?”
Jero mengangguk.
“Wow! “
“Lu kenal?”
“Langganan makan di sini, dia itu. Bentar lagi dia pasti datang.”
Jero mengangguk mengerti. Tadinya dia ingin meminta bantuan kepada pria itu, tapi tampaknya mustahil. Namun bagi Jero yang terlihat mustahil, dia akan ubah menjadi mungkin. Dan sekarang dia melihat Jonathan yang memasuki restoran. Pria itu mengenakan kemeja biru muda yang digulung hingga ke siku. Rambut yang sedikit berantakan sangat cocok dengan wajahnya yang dingin.
Seketika rasa cemburu menyeruak di hati Jero karena membayangkan kemungkinan yang terjadi antara Jonathan dan Amira. Meskipun dia memperhatikan kalau pria itu menunjukkan rasa tidak suka dan juga rasa tidak tertarik pada Amira, tetapi dia tahu, segala sesuatu bisa saja terjadi.
Dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Jero akan membuat berbagai cara agar Amira tertarik padanya dan gadis itu bisa menjadi miliknya selamanya. Jero akan mendekati Jonathan dan dia akan selalu mengatakan kalau dia sangat menyukai Amira, sampai Jonathan bosan mendengarnya.
"Gue mau jumpai dia dulu."
"Siapa?"
"Jonathan Prakoso." Tunjuk Jero pada Jonathan.
Darren mengangguk. Dan Jero pun berjalan pergi menghampiri Jonathan yang sekarang duduk sambil memperhatikan ponselnya.
"Hey, Joe," sapa Jero ramah dan langsung duduk di hadapan pria itu.
Jonathan terkejut sekilas melihat Jero yang muncul di hadapannya. " Hey, Jer!" Pria itu tersenyum lebar padanya.
"Kamu kelihatan cerah, Joe.”
Jonathan tertawa geli. “Aku pasti kelihatan kacau. Aku kerja di rumah sampai siang ini.”
Jonathan sebetulnya memang tampak kacau dibalik sikap tenang. Lelaki itu selalu berusaha memperbaiki kesalahannya dengan tenang.
“Sepertinya kamu lupa untuk santai, Joe." Jero terkekeh. "By the way, kita ber elu-gue aja ya?" ucapnya dengan semangat.
“Gue, nggak masalah.”
Makanan mereka pun datang dan keduanya pun menikmati makan siang mereka.
"Lu sama siapa tadi ke sini?" tanya Jonathan.
"Sendiri," jawab Jero sambil menguyah makanannya.
Jero meletakkan rokok di atas meja setelah mereka selesai makan. "Kemudian dia mengambil satu batang dan menyelipkan di bibirnya. "Rokok?" Jero menawarkan rokoknya pada Jonathan.
Jonathan membuka bungkus tersebut dan mengambil satu batang dan menyalakan rokok tersebut.
"Jadi gimana keputusan elu, soal membantu bokap lu?" tanya Jonathan pada Jero sambil menghembuskan asapnya ke udara.
"Gue bakal stay. Ditambah gue udah nemu juga seseorang yang bikin gue mau bertahan di sini." Jero tersenyum padanya.
Jonathan sangat tahu siapa seseorang yang dimaksud oleh Jero. Dan tidak lain orang tersebut adalah Amira. Mau tidak mau akhirnya Jonathan menjadi tertarik mencari tahu keseriusan Jero terhadap gadis seperti Amira. Bukan karena dia ingin melindungi gadis itu, tetapi lebih penasaran kepada Jero yang dia tahu banyak disukai banyak perempuan. Dan menurut Jonatha, hal itu sangat menarik.
"Kayaknya gue bisa menebak siapa seseorang ini." Pancing Jonathan.
Jero tersenyum pada pria itu. "Dan kayaknya gue bisa berharap elu bakal bantu gue mendekati Amira."
Jonathan tertawa. "Gue nggak berbakat menjadi mak comblang."
"Elu nggak perlu jadi mak comblang. Gue cuma perlu dukungan elu mendekati Amira."
Kali ini Jonathan benar-benar tertawa. "Gue juga baru kenal sama dia. Dan gue nggak keberatan kalau lu mau dekatin dia. Tapi tetap hati-hati, Jer."
"Maksud lu?" tanya Jero dengan rasa tertarik.
"Kita dan dia berbeda. Bukan maksud gue merendahkan Amira. Tapi waktu lu berniat deketin dia, pastikan dia siap dengan dunia kita, Jer. Dan juga dunia yang biasa elu nikmati."
Jero terdiam mendengar ucapan Jonathan yang dia benarkan dalam hatinya. Dia tidak memikirkan memang sejauh itu. Bisa saja orang tuanya tidak setuju. Bisa saja teman-teman dalam lingkungan pergaulannya mengucilkan Amira yang bukan dari lingkungan pergaulan mereka.
Bisa saja Amira tidak menerima masa lalunya yang bebas, yang dia tahu kalau gadis itu pasti sangat asing dengan dunia yang digelutinya.
"Gue bukan bermaksud bikin elu patah semangat mendekati Amira. Gue hanya mengingatkan kenyataan yang ada di depan mata," ucap Jonathan setelah melihat Jero yang tampak merenung.
Jero menghela napasnya lalu meraih gelas berisi kopi di atas meja di Hadapannya dan meneguk kopi tersebut, lalu meletakkannya kembali. Setidaknya, kopi barusan yang dia minum bisa sedikit memberinya ketenangan.
"Gue ngerti maksud lu, Joe. Thank's karena lu udah ingatin gue," Jero tersenyum dengan ekpresi berterima kasih.
Keduanya pun kembali mengobrol dan kali ini topik pembicaraan mereka adalah dunia bisnis. Dan Jonathan langsung tahu kalau Jero adalah pebisnis yang handal.
Bahkan dia baru tahu, jika restoran tempatnya sekarang makan adalah milik pria yang sekarang duduk berhadap-hadapan dengannya tersebut.
Jero menawarkan berkerja sama pada Jonathan dan dia langsung tertarik untuk mempelajari langkah-langkah baru yang diberikan Jero untuk mengembangkan. Setelah selesai makan keduanya pun beranjak pergi dari restoran tersebut.
Jonathan mengemudikan mobilnya ke kantor dan kembali mengingat, obrolannya bersama Jero tadi.
Kali ini, mau tidak mau, akhirnya pria itu pun mengingat wajah lugu Amira yang membuat dia kesal. Mata tulus dan polos yang membuatnya jengkel. Belum lagi kecepatan gadis bekerja di rumahnya dan juga tambah membuatnya jengkel.
Jonathan memejamkan mata dan mengusap wajahnya. Seharusnya dia tidak bersikap sekanak-kanak itu terhadap Amira yang dia tahu berusaha membangun hubungan yang akrab sebagai majikan dan pekerjanya karena bagaima pun mereka akan bayak berinteraksi.
Lelaki itu kembali melajukan mobilnya ketika lampu lalu lintas sudah berganti warna.
Dia nanti akan berbicara kepada Amira. Dan Jonathan akan mencoba menepis rasa kesal dan jengkelnya.
Tiba-tiba dia teringat bagaimana gadis itu sudah memasak untuk dirinya tetapi dia malah mengabaikannya dan tidak mengucapkan terima kasih.
Lelaki itu baru menyadari jika sore ini Amira sudah kembali ke rumah keluarganya. Jonathan menggelengkan kepalanya cepat, menepis isi pikirannya yang diisi oleh Amira.