Jonathan mengernyitkan keningnya ketika mendengar suara bel di pintu apartemennya. Lelaki itu berjalan ke arah pintu dan melihat siapa orang yang datang melalui layar monitor kecil yang menempel di dinding di dekat pintu. Dia bisa melihat supir keluarganya sedang membawa dua kantong plastik besar di tangannya. Dengan rasa penasaran lelaki itu membuka pintu dan sang supir langsung tersenyum padanya.
“Maaf, Mas Joe … saya disuruh sama Ibu anterin ini, Mas,” ucap pria itu sambil mengangkat kedua kantong plastik besar di tangannya yang berisi penuh dengan bahan makanan.
“Biar aku yang membawa ke dalam, Pak.” Jonathan tersenyun kecil dan mengambil kedua kantong plastik berwarna putih tersebut dari tangan sang supir.
"Kalau begitu, saya pemisi dulu ya, Mas Joe. "Sang supir pun pamit.
Jonathan yang merasa kesal, membawanya ke dapur.
“Kamu yang minta semua ini?” tanya Jonathan dari belakang Amira yang sedang membersihkan dapur dan meletakkan kedua kantong plastik tersebut di atas meja.
Amira berbalik dan menatapnya terkejut. Dia melihat belanjaan bahan makanan di hadapannya, lalu berkata, “Tadi ibu menelepon saya, Mas, tanya bahan makanan di sini.”
Jonathan menatapnya datar. “Kamu bikin Mamaku repot saja.”
“Ibu yang telepon saya, masa saya harus bohong? Kan nggaj boleh, Mas?” Amira menatap polos pada Jonathan yang tampak kesal. Lelaki itu berbalik tanpa menjawab dan meninggalkan Amira untuk melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Amira hanya mengangkat bahu menatap kepergian lelaki itu.
Jonathan menutup laptopnya setelah menyelesaikan pekerjaannya dan mengirim email kepada para pemilik perusahaan yang menjadi relasi perusahaannya. Aroma masakan tercium dari dapur ketika dia berjalan ke arah kamarnya. Jonathan yang terbiasa hidup sendiri merasa tidak nyaman dengan kehadiran Amira, ditambah aroma masakan yang tercium olehnya, menurutnya semua terlalu intim dan priabadi.
Lelaki itu pun masuk ke kamarnya untuk mandi dan bersiap ke kantor, karena pukul dua siang dia harus mengikuti rapat di perusahaannya.
Amira menatap masakannya dengan ragu, dia tidak yakin apakah Jonathan akan mau memakan masakannya. Gadis itu membawa makanan ke meja makan, lalu menyiapkan semua peralatan makan di atas meja tersebut.
Jonathan keluar dari kamarnya dan sudah berpakaian rapi sambil menenteng jas yang belum dipakainya. Amira bergumul dengan hatinya antara menawari lelaki itu untuk makan atau tidak.
Ketika Amira hendak memberitahu Jonathan kalau makan siang sudah selesai, lelaki itu mengambil tas laptopnya dan berjalan ke arah pintu hendak keluar. Tanpa mempedulikan Amira yang memperhatikannya, Jonathan pergi meninggalkan apartemennya tanpa mengatakan apa pun.
Amira menghembuskan napasnya lega. Sebenarnya dia juga tidak peduli kalau lelaki dingin itu ingin makan atau tidak, yang penting dia sudah memasak sesuai intruksi Connie. Dia juga tahu kalau Jonathan tidak akan memakan masakannya.
Gadis itu menutup semua makanan, kemudian melanjutkan pekerjaannya, membersihkan seluruh ruangan apartemen itu. Amira merasa kalau tempat tinggal pria itu sangat dingin, tidak ada kehangatan di sana.
Jeremiah Carlos atau yang biasa dipanggil Jero melangkah masuk ke dalam salah satu restoran terkenal di Jakarta sekarang sedang populer dan banyak dikunjungi. Restoran itu tidak pernah sepi dan selalu dipenuhi oleh tamu. Desain restoran yang modern dan tidak terlalu kaku namun tetap menampilkan kesan elegan dan mahal, yang menunjukkan jika yang datang makan atau bersantai ke restoran tersebut adalah kalangan atas, membuat restoran itu diminati. Di dalam restoran itu, juga ada area formal dan juga santai. Untuk yang area santai biasanya paling banyak dikunjungi anak muda atau pun pasangan muda. Sedangkan area yang formal tamu paling banyak adalah pebisnis dan orang tua atau keluarga.
Jero menyapa manajer restoran yang menyambut kedatangannya dengan senyum lebar sakaligus hormat, karena dia adalah pemilik restoran tersebut.
"Finally, Bos gue akhirnya stay di sini," sambut manajer restoran tersebut dengan sambil memeluk Jero. Keduanya saling menepuk punggung. Mereka memang sudah lama bersahabat dan lelaki itu sangat tahu bagaimana Jero sebenarnya.
"Gue di sini atau nggak, ini restoran pasti bakalan aman di tangan lu," sahut Jero terkekeh. "Lu apa kabar, Darren?"
"Good, dan masih seperti biasa." Pria bernama Darren itu menatap Jero dengan gembira membawa bosnya ke salah satu meja di bagian paling depan yang langsung menghadap jalan tempat orang berlalu lalang.
Di sepanjang pinggir area tersebut ditumbuhi tanaman hijau yang dipangkas rapi dan berfungsi sebagai pagar atau pembatas restoran tersebut dengan jalan.
"Seperti biasa yang elu maksud itu gimana?" tanya Jero tertawa.
"Yah ... kayak yang elu taulah, rumah restoran, rumah lagi restoran lagi."
"Nggak ada kencan?"
"Sesekali. Sekarang aplikasi banyak untuk satu malam."
"Ah ... " Jero meraih gelas berisi kopi hitam yang baru saja diletakkan oleh pelayan. "Gue yakin, tanpa aplikasi kencan pun banyak yang rela tidur sama elu."
Darren mengangkat bahunya tak peduli. "Terlalu banyak proses pendekatannya dan sering bikin nggak nyaman. Kalau melalui aplikasi tinggal pilih, harga cocok dan cari service yang sesuai selera, lalu tinggal go! Bertemu, take and give, selesai."
"Sialan lu!" Jero tertawa puas.
"Kayak lu nggak aja," balas Darren sambil terkekeh.
"Gue nggak main aplikasi."
Darren tertawa hingga datak peduli. "Jadi, elu memang bakal stay di Jakarta sekarang?"
Jero menghela napasnya dan menjawab dengan setengah hati. "Rencananya sih gitu .... "
Darren mengangkat alisnya sambil menatap Jero yang meneguk kembali kopinya. "Kalau gitu, elu masih ada rencana untuk balik ke Paris?"
"Kembali ke Paris, itu sudah pasti. Tapi mungkin bukan lagi sebagai fotografer." Jero menghela napasnya panjang.
"Elu udah janji ke bokap lu, kalau fotografer cuma hobby, Jer. " Darren mengingatkan.
Jero mengangguk. "Tapi sekarang gue sangat menikmati pekerjaan di Paris."
"Lu udah coba bicara ke bokap lu?"
Lelaki itu mengangguk. "Lu pasti udah tau hasilnya."
Darren menyalakan dua batang rokok dan memberikannya satu pada Jero.
"Tujuan bokap lu, pasti biar lu dan adek lu punya masa depan yang baik."
Jero tertawa sambil menghembuskan asap rokoknya ke atas. "Bokap gue adalah orang tua yang egois, Darren. Dan lu tau itu."
Darren menatap sahabatnya sekaligus bosnya tersebut dengan rasa simpati. "Kalau bukan elu yang mengurus perusahaan keluarga, ya siapa lagi?"
"Makanya gue nggak bisa nolak, men. Belum karyawan di perusahaan keluarga gue menggantungkan harapan mereka ke perusahaan."
Darren tersenyum padanya. "Bakal ada yang bikin elu betah sini."
Jero mengangkat gelasnya, meneguk urusan serius dengan bercanda. "Udah ada, tapi gue nggak yakin. "
Darren terbelalak terkejut, karena yang dia tahu, Jero bukan laki-laki yang suka dengan komitmen. Dia tahu persis teman baiknya sejak SMA itu.
"Tumben lu nggak pede. Secantik apa sih perempuan ini? Cewek mana?" tanya Darren penasaran.
"Dia bukan tipe cewek yang biasa kita gauli." Jero langsung menatap jauh sambil membayangkan wajah Amira. "Dia sederhana, tapi sempurna. Gue sampai mati gaya dan langkah."
Darren mengangkat kedua alisnya dengan rasa tertarik yang tak ditutupi. "Kayaknya kali ini dalam banget nih, Jer?"
Jero menghembuskan asap terakhir rokoknya. "Gue sampai nggak pede berhadapan sama ini cewek. By the way namanya Amira dan sampai sekarang kami belum berjabat tangan untuk saling berkenalan." Gurat kecewa jelas tergambar di wajah lelaki itu.
Darren menggeser posisi duduknya karena rasa penasarannya yang besar. "Kenal di mana sih lu sama ini cewek?"