Amira meremas kedua tangannya dengan cemas ketika dalam perjalanan menuju apartemen Jonathan. Gadis itu diantar oleh supir pribadi keluarga Prakoso yang nanti juga akan menjemputnya. Namun menurut informasi yang tadi dia dapatkan dari Connie, kalau Jonathan pagi-pagi sekali sudah berangkat ke kantor, dan hal itu membuat Amira merasa lebih lega. Dia sudah memperhitungkan hingga dia menyelesaikan pekerjaannya sampai pukul empat sore, dia tidak akan bertemu dengan Jonathan.
Dia tahu perasaannya itu sangat konyol. Siapa dia yang harus dipikirkan Jonathan?
Amira menggelengkan kepalanya, menepis asumsi dalam pikirannya sendiri.
Ingat Amira, kamu hanya pembantu. Fokus bekerja! Batinnya mengingatkan diri sendiri.
Akhirnya Amira pun tiba di apartemen paling mewah di Jakarta. Gadis itu mengangkat kepalanya untuk menengadah ke atas memandang gedung tinggi itu.
"Ayo, Mbak Mira," ajak sang supir memasuki lobi apartemen. Udara sejuk dari pendingin ruangan dan aroma apel hijau dari pengharum ruangan mengingatkan gadis itu pada kampung halaman. Seketika rasa rindu akan kampung halaman berdesir memenuhi hatinya.
Sang supir bicara kepada resepsionis memberitahu perihal kedatangan Amira ke apartemen. Si resepsionis mengangkat telepon dan menghubungi seseorang.
"Mbak Amira, mari saya antar, " ajak salah satu karyawan yang memakai seragam yang sama seperti dipakai oleh resepsionis yang tadi berbicara dengan supir keluarga Prakoso.
Di sepanjang perjalanan menuju lantai apartemen Jonathan, Amira merasa gugup. Tenyata Jonathan belum berangkat bekerja.
Jantung Amira bergemuruh ketika kakinya melangkah masuk ke dalam apartemen bergaya minimalis tersebut. Dia melihat laki-laki yang duduk di belakang meja yang terdapat di ruang tengah tersebut, bahkan tidak repot-repot mengangkat kepalanya yang berambut gelap ketika dia sudah masuk.
Amira menelan ludahnya susah payah karena gugup. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan Jonathan pagi ini. Karena Connie jelas tadi mengatakan kalau lelaki itu pagi-pagi sekali sudah berangkat bekerja.
Cahaya menyorot masuk dari jendela-jendela raksasa yang menghadap ke salah satu dari gedung pencakar langit yang megah dan taman apartemen yang indah. Posisi yang langsung memperlihatkan pemandangan, membuat nomor apartemen Jonathan menjadi salah satu termahal di gedung itu.
Tapi pemandangan memesona tersebut tak ada apa-apanya apabila dibandingkan dengan laki-laki menyeramkan yang sedang duduk sambil fokus bekerja di laptopnya. Perhatiannya sepenuhnya terpusat pada laptop dan setumpuk kertas di hadapannya.
Cahaya matahari pagi menerangi rambut hitam tebal pria itu dan mempertajam sosok atletis tubuh Jonathan. Pundaknya yang bidang dibungkukkan dan tegang, kesan kuat maskulin memancar dari sosoknya yang kekar sehingga gemuruh di jantung Amira berubah menjadi lompatan-lompatan tak keruan saat dia menatap pria itu. Tapi bukan jatuh cinta atau terpesona. Amira tidak memikirkan hal-hal romansa saat ini. Lebih tepatnya dia hanya takut Jonathan membuat dirinya dipecat, karena sejak awal, Jonathan memperlihatkan rasa tidak sukanya.
Amira gugup, lebih gugup daripada yang dia rasakan untuk waktu yang cukup lama karena Jonathan sama sekali belum mengangkat wajahnya dari kertas-kertas yang sekarang dia periksa. Gadis itu berdiri dengan gelisah menunggu reaksi dan perintah dari Jonathan.
Gadis itu menemui Jonathan di sarang pribadinya, tanpa peringatan apa pun, dan seseorang yang berkuasa seperti lelaki itu itu biasanya tidak mau repot-repot berhubungan atau berkomunikasi dengan orang-orang seperti Amira.
Di balik celana jins yang pudar dan kaus oblongnya yang longgar Amira merasa kepanasan dan tidak tenang.
Jonathan Prakoso pasti tahu Amira berdiri di sana, tapi pria itu terus bekerja seolah ruangan itu kosong dan tak ada gadis itu di sana, sehingga membuat Amira merasa kalau dirinya tidak kasatmata. Kecuali bila majikannya itu sengaja berbuat demikian, sebuah cara untuk menunjukkan kepada Amira siapa yang memegang kendali.
Lelaki itu perlu memberitahu Amira secara tidak langsung bahwa bekerja dengannya tidak sama bekerja dengan ibunya. Lelaki itu gila kendali dan sangat menikmati kekuasaannya sekarang ini. Setahun belakangan ini, dia menikmati arogansinya.
Amira dengan perasaan gundah, gugup dan gelisah seolah seperti hendak membawakan pidato pertamanya, berdeham. "Mas Jonathan?" sapanya sopan, pelan dan lembut.
Mendengar itu, Jonathan mengangkat kepalanya yang berambut hitam pekat, menunjukkan fitur-fitur keras dan kasar wajahnya yang berkulit kecokelatan. Tiba-tiba tatapan kedua mata lelaki itu mengejutkan Amira dan semua orang lain yang memandangnya karena menimbulkan kesan was was seperti awan badai.
Mata Jonathan mengerjap ke arah Amira dan menangkap seluruh penampilan dirinya dengan sinar yang aneh dan tak suka.
Sesuatu di dalam diri Amira menegang. Sesuatu yang tidak dia kenali, tapi membuat hatinya seolah tertimpa sesuatu yang berat. Mungkin dia hanya gugup. Apa lagi majikannya menatapnya dengan dingin.
Mata Jonathan menatapnya malas dan lelaki itu mengatupkan rahangnya, lalu berkata, "Ada apa?"
Amira mencoba tersenyum ragu.
Apakah pria itu sengaja berbicara seakan-akan dia tidak tahu mengapa dirinya berada di apartemennya? batin gadis itu.
"Ibu menyuruh saya untuk bekerja di apartemen, Mas, sampai sore nanti." Amira merasa seperti orang bodoh karena menjelaskan hal yang pria itu sebenarnya tahu.
Jonathan bersandar di kursi, tatapannya yang cermat dan perlahan tak pernah menunjukkan keraguan saat ia mengalihkan perhatiannya kepada Amira. "Oh ... begitu?" sahutnya pelan sambil menunjuk kursi yang terletak di seberang mejanya. "Silakan duduk, Amira.''
Bulu kuduk gadis itu langsung meremang ketika mendengar Jonathan mengucapkan namanya.
"Terima kasih," sahut Amira dengan suara hampir tercekik karena gugup.
Di dalam hati, gadis itu sebenarnya merasa malu karena penampilannya yang lusuh. Apakah itu alasan ekspresi Jonathan terlihat begitu meresahkan karena penampilannya terlihat sangat tidak menarik? Dan mengapa Amira memikirkan penampilan yang menarik?
Sebagai pebisnis yang menyibukkan diri dengan pekerjaan, nyaris tak ada waktu bagi Jonathan untuk menikmati waktu senggang. Bahkan pagi ini pun dia harus menyelasaikan beberapa pekerjaan kantornya dari rumah, karena merasa di rumah dia lebih fokus dan bisa menyelasaikan dengan lebih cepat.
"Jadi, kamu akan bekerja padaku untuk mengurus tempat ini," ujar Jonatahan.
"Iya, Mas," sahut Amira was-was.
"Aku nggak suka keributan apa pun, karena aku sering bekerja dari rumah kalau pekerjaanku banyak dan mendesak."
Amira cepat mengangguk.
"Aku juga nggak suka, jika di tempat ini ada hubungan para pekerja di luar sana yang dibawa ke tempat ini." tambah lagi Jonathan sambil menatap tajam Amira yang kembali mengangguk dengan wajah gugup dan tertekan.
"Untuk pembayaran gajimu, aku yang membayarnya. Nggak ada lagi hubungannya dengan ibuku," beritahu Jonathan pada Amira yang baru saja duniar luar sekeras ini. Mata menatap matanya terus
"Baik, Mas." Amira memberanikan diri menatap Jonathan ketika menjawab pria itu.
"Aku yakin kalau kamu juga sudah tahu jam-jam kerjamu," ucap Jonathan meraih gelas kopi yang sudah sangat dingin tak lagi enak tersebut, dia meneguk sedikit dan meletakkan kambali gelas tersebut ke atas meja di hadapannya. Lalu Jonathan kembali melanjutkan, "Kamu sudah tahu 'kan berapa lama kamu berada di sini?"
"Sudah, Mas. Jam empat atau jam lima, saya sudah kembali ke rumah keluarga, Mas," sahut Amira.
"Baiklah kalau begitu. Kamu bisa mulai bekerja dan tolong jangan bersik," kata Jonathan penuh peringatan.
Amira mengangguk, lalu bangkit berdiri dari kursi tempatnya duduk, menuju dapur sambil bernapas lega, karena sudah selesai berhadapan dengan Jonathan.