Rissa menatap ponselnya kesal karena Jonathan hanya membaca pesan tersebut tanpa membalasnya.
Dia mengatupkan rahangnya karena dan mengepalkan satu tangannya lalu memukul meja kerjanya.
Kali ini, wanita itu tidak akan melepaskan Jonathan dan menyia-yiakan lelaki itu seperti dulu. Rissa menyadari dirinya telah melakukan sebuah kesalahan yang besar karena berbuat sesuka hati dalam bergaul tanpa memikirkan perasaan Jonathan dan justru menyalahgunakan kebaikan Jonathan.
Wanita itu dan Jonathan menempuh sarjana mereka di Australia dan satu kampus, lalu keduanya melanjutkan pendidikan master mereka ke Amerika dan dalam satu kampus yang sama. Namun, ketika itu Rissa tiba-tiba bosan dengan hubungan mereka berdua. Rissa pun mulai mencari teman untuk mengatasi rasa jenuh dan bosanya. Dia pergi bersenang-senang dengan sesuka hati.
Dia mengabaikan Jonathan yang kala itu memintanya agar tidak lagi bergaul dengan teman-temannya. Rissa terbawa arus dan memutuskan Jonathan karena menjalin kasih dengan seorang mahasiswa kampus yang populer saat itu.
Jonathan hanya diam tak menjawab ketika Rissa mengucapkan kata perpisahan. Dan mereka sama-sama menyelesaikan pendidikan mereka. Rissa tetap lulus dengan nilai cemerlang karena dia memang cerdas dan pintar. Setelah kelulusan itu, keduanya putus komunikasi. Dan empat bulan yang lalu keduanya bertemu tanpa sengaja di Plaza Indonesia ketika Rissa pulang untuk berlibur.
"Joe!" panggil Rissa ketika dia melihat lelaki itu melintas di hadapannya yang kala itu sedang berbicara di ponselnya. Tetapi lelaki itu tidak mendengar panggilannya karena sibuk mengobrol dengan orang di seberang ponsel.
Rissa yang sangat yakin kalau yang dilihatnya tadi adalah Jonathan, mencoba mengikuti lelaki itu dari belakang dan menepuk bahu Jonathan pelan sambil memanggil nama lekaki itu.
Jonathan berbalik dan melihat Rissa yang tersenyum lebar padanya. Rissa terlihat cantik seperti biasa. Jonathan sangat terkejut karena setelah delapan tahun lamanya tidak melihat Rissa.
"Rissa?" tanya Jonathan memastikan.
Wanita langsung mengangguk. Keduanya pun langsung pergi duduk ke sebuah restoran di dalam mall tersebut. Mereka mulai mengobrol, menayakan kabar dan kegiatan masing-masing sekarang.
"Jadi kamu sekarang menetap di Kanada?" tanya Jonathan sambil memasukan potongan kue ke dalam mulutnya.
Rissa mengangguk. "Setelah lulus kuliah, aku mencoba melamar kerja di sana, dan diterima."
"Kenapa nggak di perusahaan ayahmu?"
Rissa mengangkat kedua bahunya. "Sekarang aku sedang mempertimbangkan kerja dengan Papa. Sepertinya aku akan menetap di sini."
Keduanya kembali mengobrol tanpa menyinggung hubungan asmara mereka dulu.
Rissa sudah memutuskan keluar dari pekerjaanya yang sangat menjanjikan, demi, supaya bisa mendapatkan kembali Jonathan, setelah pertemuan mereka hari itu. Selain karena pria itu adalah mantan kekasihnya, latar belakang keluarga lekaki itu dan posisinya sebagai pemimpin salah satu perusahaan besar, salah satu alasan Rissa untuk kembali mendekati pria itu.
Pada hari minggu, keesokan harinya, begitu keluarga Prakoso pulang dari beribadah, saat siang acara arisan pun di mulai. Amira, Rini dan Bik Asih sangat sibuk karena banyaknya tamu yang datang.
Rini duduk sambil menghela napasnya begitu mereka selesai membersihkan seluruh dapur dan semua peralatan makanan, begitu acara arisan selesai. Halaman belakang dan seluruh ruang tamu juga telah selesai mereka bersihkan.
Gadis itu menatap Amira yang juga tampak kelelahan dan duduk bersandar di kursi yang terletak di dapur tempat mereka biasa duduk. Di sana terdapat juga sebuah meja sebagai tempat mereka bekerja.
Bik Asih langsung meminta izin istirahat duluan ke kamarnya karena kelelahan.
"Gila ya? Rame bener yang datang. Sampai jam segini kita baru selesai," ucap Rini sambil melihat ke arah jam dinding di dapur yang menunjukkan pukul sebelas malam.
"Aku juga capek banget," sahut Amira sambil memijat bahunya sendiri. "Kita istirahat yuk? Aku juga mau mandi, biar seger dan langsung tidur."
Rini mengangguk setuju dan keduanya pergi meninggalkan dapur menuju kamar masing-masing. Di dalam kamar para pekerja rumah tangga itu terdapat kamar mandi di dalam setiap kamar tidur mereka.
Amira membalur tubuhnya dengam minyak angin setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian paling nyaman menurutnya, kemudian membaringkan tubuhnya yang sudah sangat lelah di atas tempat tidur dan dia pun jatuh terlelap.
"Mama mau menjodohkan Jonathan dan gadis bernama Amira itu? " tanya David pada istrinya Connie dengan tatapan geli.
Connie menatap David jengkel sambil membaringkan tubuhnya di samping suaminya di atas tempat tidur.
"Memangnya salah? Amira itu datang dari keluarga baik-baik juga. Ibu tirinya saja yang gila," ucap Connie ketus begitu mengingat cerita Amira mengenai ibu tirinya.
David tertawa sambil menarik tubuh istrinya yang masih terlihat cantik di usia paruh baya, dan menbawa Connie ke dalam pelukannya.
"Kamu 'kan tahu bagaimana, Joe, Ma? Jangan libatkan gadis manis itu ke dalam masalah."
"Ya, aku nggak bilang mereka harus bersama, Pa. Siapa tahu keberadaan Amira membuat hati Joe sedikit melunak."
"Kamu ini terlalu banyak menonton drama di televisi. Semuanya nggak semudah itu, Ma .... " David kembali menimpali perkataan istrinya.
"Pasti bisa, Pa. Amira ini berbeda. Aku sekarang sedang mencari cara, bagaimana supaya Amira bisa tinggal bersama di apartemen Joe."
David terbelalak menatap istrinya, lalu tertawa terbahak-bahak sampai tubuh Connie terguncang karena tawa suaminya itu. Wanita itu melepaskan diri dari pelukan David dan menatap David semakin kesal melihat tawa dan tatapan geli suaminya padanya.
"Ma, energi kamu pasti banyak sekali ya, sampai kamu bisa mengurus hal-hal konyol seperti itu. Masih banyak yang lebih penting yang bisa kamu urus, Ma. Contohnya seperti acara pertunangan Jessie."
"Rencanaku ini bukan hal konyol, Pa!" seru Connie. "Papa nggak lihat bagaimana Joe, sekarang? Anak kita itu perlu cinta."
David kembali menatap istrinya terkejut dan berusaha menahan tawanya, karena takut menyinggung perasaan Connie.
"Kamu sedang membicarakan cinta, Connie?"
Wanita itu menatap tajam David karena dia bisa merasakan nada sindiran di dalam pertanyaan suaminya itu. "Papa menyindir aku?"
"Bukan ... " David menggeleng cepat sambil menahan tawa melihat ekspresi istrinya yang kesal padanya. "Yah... aku agak terkejut kamu bicara cinta, padahal kamu sendiri nggak pernah bilang cinta padaku." Lelaki itu menyipitkan matanya dan memasang ekspresi protes di matanya.
"Kita sudah tua, Pa. Nggak perlu lah kita kayak anak remaja yang selalu bilang aku cinta padamu," sahut istrinya ketus.
"Selalu?" David mengangkat sebelah alis matanya tinggi. " Kamu belum pernah sekali pun, bilang cinta padaky, Ma."
Connie langsung berdecak jengkel dan berkata, " Kamu nggak akan mengerti."
David tertawa dan meraih tubuh istrinya tersebut dan mengusap punggung Connie lembut. "Sayang, kita nggak bisa terlibat terlalu jauh untuk perasaan Joe. Dan kamu jangan melibatkan juga gadis yang nggak bersalah dalam masalah Joe yang rumit. Dia pasti bisa menyelesaikannya sendiri, Ma."
Connie kembali menggeleng, tak terima dengan pernyataan suaminya. "Memang pada akhirnya, semua keputusan akan kembali pada Joe, Pa. Tetapi harus ada yang membuka jalan untuk membuat keputusan anak itu. Dan aku akan membantunya."
David menarik napasnya dan memilih mengalah daripada berdebat dengan istrinya yang dia tahu, pasti akan tetap menjalankan rencana-rencananya.