Jonathan menatap tajam pada Amira yang tercengang karena ajakan Jero yang ingin berkenalan dengannya. Lelaki itu tidak ingin di rumah keluarganya ada drama atau percintaan antara tamu dan pekerja di rumahnya yang menurut Jonathan murahan dan bisa saja akan menyeret nama keluarganya.
Dia mendengus, menatap jengkel Amira, dan dia yakin kalau gadis ini tidak akan melepaskan kesempatan besar, ketika laki-laki seperti Jero dan dari keluarga kaya raya menyukai dirinya yang hanya seorang pembantu.
Amira melirik sekilas ke arah Jonathan yang memberinya tatapan membunúh, hingga membuat gadis itu gemetar ketakutan dan gugup.
"M–maaf, Mas, saya harus kembali bekerja," tolaknya buru-buru dan langsung berbalik meninggalkan kedua lelaki itu.
Jero menatap kepergian Amira dengan rasa kecewa yang mendalam. Perasaannya saat ini sebenarnya sedikit koyol menurutnya, karena Jero sangat terbiasa dikelilingi oleh wanita-wanita cantik dan séksi, tapi kali ini dia bisa terpesona pada gadis yang tidak masuk dalam kriteria teman kencannya.
Namun apa yang dirasakan oleh Jero malam ini sangat berbeda. Amira yang tidak memperdulikan kehadirannya justru manarik seluruh perhatiannya. Wajah lembut dan polos Amira membuatnya terpesona saat itu juga. Jero juga sudah terbiasa tidur dengan banyak perempuan, bahkan ketika dia berkenalan seorang wanita, Jero akan mengutamakan rasa ketertarikan secara séksual. Tapi kali ini, dirinya bahkan tidak berani membayangkan hal tersebut. Dia tidak mau dan takut gadis itu tidak menyukainya jika mengetahui bagaimana Jero sebenarnya.
Tanpa Jero sadari, dirinya mendengus sambil menggeleng, karena sekarang dia memperdulikan moral. Lelaki itu dimenyadari bahwa caranya berkenalan dengan gadis itu juga kurang pantas. Amira sedang bekerja dan dia mengganggunya saat jam kerjanya.
Jero melirik sekilas kepada Jonathan yang menatap dengan tajam kepergian gadis yang dia taksir.
"Joe ... " panggil Jero dan lelaki itu langsung menatapnya dan tersenyum ramah padanya. "siapa nama pekerja rumahmu barusan? tanyanya serius.
Senyum Jonathan tampak sangat kaku dan tegang. Dia bingung antara harus menjawab dan tidak, tetapi akhirnya lelaki itu berdehem dan menjawab, "Namanya Amira. Aku juga baru mengenal dia hari ini. Dia pekerja baru kami."
Jero mengangguk sambik mengangkat alisnya dengan rasa tertarik yang tak ditutupi. Dia tahu kalau Jonathan jelas tidak tertarik pada Amira tapi apa pun bisa terjadi kedepannya.
“Aku berniat mendekati dia,” kata Jero dengan penuh keyakinan. Dia tersenyum pada Jonathan yang terbelalak menatapnys. “Nanti aku akan bicara pada Tante Connie, kerena mamamu sepertinya sangat melindungi cewek itu.” Jero tersenyum lebar dan gembira.
Jonathan hanya bisa menanggapi dengan senyuman dan sedikit anggukan. Dia bahkan tidak peduli jika Jero menikahi gadis itu dan menurutnya itu justru lebih baik. Tidak lama kemudian, Jero dan keluarganya pamit pulang dari rumah kelurga Prakoso dan diantar oleh Jonathan dan keluarganya sampai ke teras.
Lalu Connie dan suaminya David kembali masuk ke dalam rumah setelah kepergian calon besan mereka. Jessie juga menyusul masuk ke dalam rumah.
Amira berjalan ke ruang tamu, lalu meletakkan nampan di atas meja ruang tamu tempat tadi kedua kelurga tadi berkumpul. Gadis itu memindahkan semua gelas kotor ke atas nampan. Ketika dia berdiri hendak mengangkat gelas-gelas tersebut, kembali dirinya berpapasan dengan Jonathan yang baru masuk dari luar.
Amira merasakan wajahnya merah padam. Jonathan menatap tajam Amira dan bertanya-tanya respon seperti apa yang akan diperihatkan gadis itu ketika dia menatapanya seperti itu. Namun gadis itu tidak mengatakan apa pun hanya diam mematung sambil menatapnya.
Jonathan sendiri merasa heran kepada dirinya sendiri mengapa dia begitu kesal setiap melihat Amira. Mungkin karena sejak awal dia tahu maksud terselubung ibunya atas keberadaan gadis itu di sekarang. Dia yakin kalau Connie pasti memiliki sebuah rencana untuk dirinya yang melibatkan Amira yang selalu tampak gugup ketika berada di hadapannya. Dia tidak akan mudah percaya pada wajah lugu gadis itu seperti Jero.
Menurutnya wanita penuh tipu muslihat, dan dia yakin ketika Amira mengetahui kalau Jero menyukainya, gadis itu pasti melompat kegirangan seperti memenangkan sebuah lotre.
Amira berusaha menenangkan dirinya sekeras mungkin dan menyingkir untuk memberi jalan lewat untuk pria itu dan Jonathan pun berlalu dari hadapannya tanpa melihatnya sedikit pun. Gadis itu mengerang putus asa karena dia tidak tahu, kesalahan apa yang dirinya perbuat hingga anak majikannya itu seperti sangat tidak menyukai dia.
“Bik Asih dan Rini istirahat aja dulu. Tinggal gelas ini kok yang harus dicuci, biar aku aja yang mengerjakan,” ucap Amira pada kedua rekan kerjanya yang tampak lelah.
Rini langsung menggeleng dan berkata, “Nggak bisa gitu, Mir. Ibu akan marah kalau kita meninggalkan teman menegerjakan sisa pekerjaan.”
Akhirnya Rini membantu Amira mencuci gelas bekas kopi dan setelah semua perkerjaan mereka selesai, ketiganya pun masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Amira menatap langit-langit kamarnya sambil memeluk bantal guling dan memikirkan hidupnya. Dia sebenarnya belum merasa tenang, bahkan mungki tidak akan pernah merasa tenang seumur hidupnya.
Gadis itu mengangkat tangannya ke atas dan menatap jari-jari tangannya yang kasar. Selama ini dia bekerja di rumah dan pertaniannya sendiri melebihi seorang pekerja. Laras benar-benar membuatnya sesengsara mungkin. Amira menangis tanpa suara sambil memandang pantulan cahaya lampu di sela-sela jemarinya. Dia sangat merindukan kedua orang tuanya, terlebih ayahnya. Dia sering berandai-andai kalau saja ayahnya tidak menikah lagi, kira-kira seperti apa kehidupannya?
Gadis itu mengusap air matanya dan mulai memejamkan matanya. Besok hari adakah hari yang sibuk karena majikannya memiliki acara arisan, dan menurut Rini, biasanya yyang datar akan sangat ramai. Bahkan Connie sudah memesan sebagian makanan dari catering untuk tamu-tamunya. Dia menepis wajah Jonathan yang tiba-tiba melintas di matanya.
Amira tidak bisa membayangkan bagaimana kedepannya jika dirinya memang benar-benar dikirim bekerja untuk membersihkan apartemen pria itu.
Amira menggeleng sambil berdecak putus asa. Sudah sangat jelas kalau Connie mengatakan tadi siang bahwa dirinya akan bekerja pada lelaki itu. Gadis itu kembali membuka matanya yang tadi sudah terpejam. Setidaknya aku tidak menginap di sana, dan laki-laki sombong tidak akan berada di apartemennya karena pasti dia sibuk bekerja, batin Amira.
Gadis itu pun menggeser posisi tidurnya miring sambil memeluk bantal guling dengan erat dan jatuh tertidur karena kelelahan bekerja seharian.
Jonathan menatap layar notebooknya dengan serius dan fokus dan melanjutkan pekerjaannya karena dia belum merasa mengantuk. Sudah lama dia tidak bisa tidur nyenyak dan Jonathan pasti akan mengalihkan ke pekerjaan. Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponselnya.
Rissa
Mas ... lusa aku sudah sampai di Indonesia. Kamu bisa jemput aku kan ke Bandara?
Jonathan menghela napasnya panjang, lalu mengabaikan pesan tersebut.
Rissa ... wanita itu sempat menjadi kekasihnya sebelum bersama Gitta yang sudah mengkhianatinya. Dan sekarang mantan kekasihnya itu semakin sering menghubunginya begitu mengetahui dia tak lagi bersama Gitta.
Jonathan sedang tidak tertarik dengan hubungan apa pun saat ini. Bukan karena dia belum berhasil menghapus semua perasaannya pada Gitta, tetapi karena dia sedang tidak ingin melibatkan perasaan apa pun saat ini pada seseorang, bahkan mungkin dalam waktu panjang ke depan. Jonathan hanya ingin hidup tenang seperti sekarang ini. Hanya saja sering manusia lupa, bahwa segala rencana dan apa yang kita pikirkan tidak selalunya berjalan sesuai keinginan kita.
Amira dan Jonathan yang saat ini tinggal di satu atap, dalam situasi berbeda, tidak menyadari bahwa Tuhan sedang membawa keduanya menyusuri jalan yang asing dan yang tak pernah mereka pikirkan sekali pun.