Amir mengerjakan semua tugas dengan teliti. Dia memang sangat takut jika Connie sampai memecatnya. Walaupun Rini mengatakan hal itu tidak akan terjadi, tetapi tetap saja ia merasa was was. Terlebih melihat reaksi anak majikannya itu terhadap dirinya. Sangat jelas sekali kalau pria itu merasa terganggu dengan kehadirannya.
Gadis itu menaruh semua lauk di atas meja. Dia dan Rini meletakkan piring dan semua peralatan makan yang akan dipakai malam itu.
Setelah memastikan bahwa semua hidangan untuk makan malam keluarga Prakoso sudah lengkap, dia pun izin untuk mandi dan bertukar pakaian bersih.
Joenathan mengambil kaos berkerah berwarna hijau tua dan memadukannya dengan celana jeans. Tadi Connie memberitahunya kalau malam ini , keluarga mereka akan kedatangan tamu yaitu keluarga dari kekasih adik perempuan Jonathan bernama Jessie.
Kata ibunya ini hanya makan malam biasa dan santai. Jonathan gembira untuk adiknya yang sepertinya akan bertunangan dengan kekasihnya tersebut. Begitulah tadi Connie menjelaskan padanya, dan malam ini kedua keluarga ingin berbincang dan saling mengenal lebih dekat.
Jonathan mengambil parfum dan menyemprotkan ke tubuhnya. Dia kembali melihat penampilannya. Wajahnya selalu tampak suram seperti biasa. Sudah lama lelaki itu tidak tertawa apa adanya. Hidupnya belakangan ini selalu tegang dan mencari pengalihan.
Lelaki itu pun keluar dari kamarnya. Tiba-tiba dia bertemu dengan Amira yang sedang membawa pakaian Connie. Gadis itu tiba-tiba berhenti dan langsung kehilangan kata-kata begitu Jonatahan menatapnya tajam.
Sentakan arus listrik menyetrum dirinya ketika dia menyadari sedang bertatapan langsung dengan mata Jonathan yang juga langsung menatap ke dalam matanya.
Selama sedetik Amira tak berdaya melakukan apa pun selain membalas tatapan pria itu. Dibalik kaos berwarna hijau tua yang melekat dengan sempurna di tubuh berotot Jonthan, kulit kecokelatan pria itu sangat cocok dengan karakter wajah Jonathan yang sangat dingin.
Lelaki itu diakui oleh Amira di dalam hatinya memanglah sangat tampan, tetapi dia bergidik ngeri ketika merasakan aura permusuhan pria itu pada dirirnya.
Jonathan beranjak melangkah meninggalkan Amira yang masih mematung. Begitu pria berlalu dari hadapannya, gadis itu memejamkan matanya dan memarahi dirinya sendiri yang tampak seperti gadis bodoh di hadapan pria itu.
Sambil mengerang kesal pada dirinya sendiri, Amira berjalan ke arah kamar Connie dan membawa pakaian wanita itu yang baru saja tiba dari laundri.
Amira mengetuk pintu kamar majikannya itu dan suara Connie terdengar dari dalam mempersilahkan dia masuk.
"Ini, Bu, pakaian Ibu dari laundry," beritahu Amira.
"Letakkan aja di atas tempat tidur itu. Biar aku yang menyusunnya." Connie tersenyum padanya.
Amira langsung mengangguk. " Baik, Bu."
"Eh, Mir, " Panggil Connie sambil memperhatikan tubuh Amira. "Kamu punya baju yang bagus 'kan?"
Amira menggeleng. "Pakaian saya, ya seperti ini, Bu." Gadis itu menunjuk kaos lusuh yang membuat Connie sedikit meringis.
"Sebentar, ya?" Connie beranjak bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke lemari dan membukanya. "Ibu kemarin beli ini, dan ternyata kekecilan. Kamu coba dulu, Mir, siapa tahu cocok."
Amira menerima tas kertas yang berisi pakaian tersebut dengan ragu lalu melihat isi dalam tas kertas tersebut.
"Kamu pakai malam ini, ya?" Connie tersenyum padanya.
Amira membalas senyuman wanita itu lalu permisi meninggalkan kamar Connie. Sesampai di kamar, dia mengambil pakaian dari dalam tas tersebut yang berisi blouse berwarna pink muda dan celana panjang model khaki berwarna nude. Dia tahu kalau pakaian tersebut tidak mungkin salah beli, karena sangat jauh berbeda ukuran tubuh Connie dengan pakaian tersebut.
Amira melipat pakaian tersebut dan memasukan kembali ke dalam tas kertas tersebut. Dia memutuskan tidak akan memakainya walaupun Connie sendiri yang memintanya. Amira khawatir hal ini akan membuat rekan sekerjanya, Rini dan Bik Asih merasa tidak diperlakukan sama seperti dirinya. Sementara dia baru bekerja di rumah itu tapi sudah mendapat perlakuan yang lain dibandingkan dengan kedua teman kerjanya.
Setelah mandi, Amira mengenakan pakaiannya yang paling bagus. Setidaknya paling bagus di antara semua. Rok model A-line berwarna kuning muda melewati lutut dengan aksen bunga-bunga kecil berwarna putih dipadukan dengan kaos berwarna putih. Gadis itu mengikat rambutnya tinggi.
Amira keluar dari kamarnya dan langsung menuju dapur menemui Bik Asih dan Rini.
"Kamu cantik banget, Mir!" ucap Rini antusias. Dia memperhatikan Amira dalam penampilan sederhana tetapi tetap cantik seperti biasa.
"Ah, kamu." Amira menepuk lengan Rini. "Tamunya udah datang belum?" tanyanya.
"Udah. Tapi masih mengobrol di ruang tamu. Eh ... itu ibu datang," tunjuk Rini pada Connie yang menghampiri mereka. " Pasti udah mau siap-siap ini."
Connie memperhatikan Amira yang tidak mengenakan pakaian yang tadi dia berikan. Awalnya dia sedikit terkejut, tetapi akhirnya tersenyum memaklumi. "Ayo siap-siap, ya?"
"Baik, Bu," jawab ketiganya serempak.
Amira memasukan ke dalam mangkuk kaca berukuran besar sup yang baru mereka panaskan dan mengangkatnya ke meja makan menyusul Rini. Sedangkan Bik Asih tetap di dapur menyediakan keperluan jika ada yang kurang.
Keluarga dari kekasih Jessie memasuki ruang makan bersama keluarga Prakoso.
David Prakoso, suami Connie duduk di ujung meja, kursi yang biasa ia duduki dan istrinya Connie duduk di sampingnya. Dan di samping Connie duduk Jessie dan Jonathan.
Kedua orang tua kekasih Jessie duduk di seberang Connie bersama dua orang putranya salah satunya kekasih Jessie yang bernama Arnold dan putra tertua mereka bernama Jero.
Dengan ramah Connie mempersilahkan calon besannya untuk menikmati hidangan di meja.
Jero memperhatikan dan tak melepas pandangan matanya dari Amira yang datang membawa menu lain. Gadis itu membuat Jero terpaku. Rambut panjang Amira yang diikat tinggi dan bergoyang ketika gadis itu bergerak membuat Jero terpana. Kulit putih dan mulus Amira dalam balutan pakaian sederhana itu membuat mulut Jero kering karena terpana.
Amira tidak melihat ke arahnya barang sedetik pun. Bisa dikatakan Amira terlalu fokus pada pekerjaannya.
Jonathan memperhatikan Jero yang bertubuh tinggi seperti dirinya dan berambut panjang yang digulung dan diikat rapi, sedang menatap Amira lekat.
Lelaki itu pun mau tidak mau memperhatikan Amira seperti Jero dan dia melihat gadis itu tampak biasa saja. Jonathan mendengus dalam hati, dan membuatnya bertanya-tanya, apa yang membuat Jero tampak terpersona pada gadis seperti Amira.
Makan malam kedua keluarga itu berlangsung dengan akrab. Sesekali Jero mencuri pandang ke arah Amira yang jauh dari mereka sambil mempersiapkan makanan penutup.
Connie yang tampak sangat fokus berbincang dengan suami dan kedua calon besannya, tetap memperhatikan apa yang terjadi di sekitar meja makan tersebut.
Tak luput dari pandnagannya Bagaimana tadi Jero tampak sangat tertarik pada Amira yang manis. Sedangkan putranya tidak terpengaruh sedikit pun pada gadis itu. Connie mengerang kesal dalam hati melihat Jonathan yang dingin seperti biasa.
Makan malam pun akhirnya selesai Kedua keluarga tersebut kembali ke ruang tamu. Jonathan dan Jero yang baru malam itu berkenalan pergi duduk ke joglo yang berada di taman belakang. Keduanya menghisap rokok mereka sambil berbincang.
"Jadi kamu baru pulang dari Paris?" tanya Jonathan sambil menghisap rokoknya.
Jero mengangguk. "Ayahku menyuruhku pulang. Sebenarnya aku lebih suka di sana."
Jonathan megangguk mengerti. "Apa pekerjaanmu di sana?"
"Aku fotografer untuk beberapa rumah mode."
Jonathan tertawa sambil mengangguk. "Aku mengerti mengapa kamu sedikit kesal diminta kembali ke Indonesia."
"Aku senang, kau memahami kekesalanku," sahut Jero dan keduanya pun tertawa.
Jonathan tahu kalau lelaki dalam balutan celana jeans hitam dan kaos sweater berwarna putih tersebut adalah teman mengobrol yang menyenangkan. Jero memiliki banyak topik untuk bicara.
Amira tiba-tiba muncul di antara keduanya, gadis itu membawa dua gelas kopi. Dia meletakkan masing-masing gelas di hadapan keduanya.
"Silahkan, Mas," ucap Amira sopan pada Jero.
Ketika Amira hendak berbalik, Jero menahan langkahnya dengan pertanyaan, "Apa kita bisa berkenalan?" Jero menatap langsung ke dalam mata Amira yang menatapnya terkejut.