Jonathan menghirup aroma bunga gerdenia ketika memasuki rumahnya. Sudah cukup lama dia tidak pulang ke rumah karena lebih banyak menghabiskan waktu di kantor hingga malam dan Jonathan memilih tinggal di apartemennya daripada mendengar nasehat-nasehat Connie mengenai menjaga kesehatan.
Vas bunga kristal dalam ukuran besar yang berisi bunga mawar berbagai warna dari taman bunga milik Connie terletak di meja besar dengan ukiran klasik yang harganya sangat mahal dan di letakkan di sudut ruangan.
Ruang tamu utama selalu sejuk dan wangi. Lantai marmer mewah yang mengkilat berwarna putih dengan garis halus biru muda mengingatkan orang yang melangkahkan kaki ke dalam rumah tersebut seperti berada di di pinggir pantai yang di penuhi bungan dan aromanya.
Foto keluarga yang di dalamnya terdapat ayah dan ibu sambungnya tersebut, juga adik perempuan digantung dinding dengan bingkai mewah dan mahal.
Rumah ini masih seperti biasa, batin Jonathan. Sambil melangkahkan kakinya mencari Connie yang suaranya samar-samar terdengar oleh Jonathan dari belakang. Dia tersenyum kecil, dan dia tahu kalau ibunya itu pasti sedang mengatur masakan seperti apa untuk ayahnya yang mengidap diabetes.
"Bik Asih ... Bapak kan—" Connie langsung menghentikan ucapannya ketika dia melihat Jonathan yang berdiri tidak jauh dari mereka. "Joe!!! Mama pikir kamu nggak bakalan datang lho." Wanita itu tersenyum lebar bahagia.
"Kan aku udah janji ke Mama kalau pasti pulang."
Connie menatapnya sambil menyipitkan matanya seolah-olah dia marah, tetapi, sangat jelas guras gembira terlihat di wajahnya.
Wanita itu berbalik menatap Bik Asih dan juga Rini yang bersiap akan memasak untuk makan malam dan berkata, "Jangan salah, ya? Untuk menu makan malam Bapak."
"Baik, Bu," jawab Bik Asih dan Rini kompak.
"Tumben kamu cepat pulang?" tanya Connie yang berjalan bersama Jonathan meninggalkan dapur.
"Udah kangen sama Mama." Jonathan menatap Connie sambil tersenyum jahil.
Connie memasang mimik wajah pura-pura kesal dan merajuk.
"Kamu itu nggak kangen sama mama atau semua yang di rumah ini. Kamu nggak pulang-pulang. Tadi aja karena mama ancam makanya kamu datang."
Keduanya sekarang duduk di ruang tengah dan Jonathan langsung merangkul ibunya yang sedang merajuk.
"Aku yakin, Mama maksa aku pulang, pasti ada sesuatu." Jonathan tersenyum geli manatap Connie.
Wanita itu langsung berdehem dan Jonathan semakin yakin pada kecurigaannya. "Mama dan papa kamu itu kangen sama kamu. Jessie juga. Kamu jangan nuduh mama sembarangan deh. "
"Terakhir Mama paksa aku pulang karena mau mnegenalkan aku pada anak perempuan sahabatnya Mama."
Connie mengangkat dagunya sedikit tinggi dan berkata, "Itu kebetulan aja, Joe. Kebetulan sahabatnya mama datang, eh anaknya dibawa juga. Ya, sekalian aja Mama kenalin sama kamu."
Jonathan megangguk seakan-akan percaya. "Gitu ya, Ma?"
"Eh, Mira ... kenapa lama sekali bawa kopinya untuk Mas Joe."
Jonathan langsung menatap ibunya curiga ketika melihat reaksi Connie yang berlebihan kepada pekerja rumah mereka.
"Mira, ini anak ibu paling besar. Namanya Jonathan." Connie memberitahu pada Amira yang sedang meletakkan kopi di hadapan Jonathan.
Gadis itu tersenyum kaku sambil mengangguk. Ia dan Jonathan saling bertatapan. Amira langsung bergidik ngeri melihat tatapan dingin Jonathan padanya.
"Joe ... ini orang kerja kita yang baru. Namanya Amira, panggilannya Mira." Connie menatap putranya dengan antusias dan memperkenalkan keduanya.
Jonathan mengangguk tak peduli sama sekali. Amira yang sangat menyadari jika Jonathan tidak menyukai kehadirannya di sana, dia pun hendak beranjak pergi. "Bu, saya permisi dulu."
"Eh ... Mira, tunggu dulu, jangan pergi." Tahan Connie dan membuat Amira yang sudah berbalik meninggalkan kedua majikannya itu, kembali berdiri saling berhadapan dengan keduanya.
"Joe ... kemarin, kamu kan minta sama mama untuk dicarikan orang kerja di aparamtemen kamu? Nah ... Mama memilih Mira yang akan mengurus kamu di sana." Connie tersenyum ceria pada putranya.
Jonathan memang belum mengerti sepenuhnya apa rencana Connie pada gadis di hadapannya sekarang, tetapi dia yakin, jika ibunya tersebut memiliki maksud dan tujuan.
"Aku mencari pekerja yang mengurus apartemenku untuk tidak tinggal bersamaku Ma," sahut Jonathan tegas.
"Siapa yang bilang kalau Amira akan menginap di apartemen kamu?" Connie mengangkat sebelah alisnya tinggi.
"Mana baiknya saja menurut Mama." Jonathan yang tidak ingin berdebat memilih mengikuti keinginan Connie yang pada akhirnya pasti hal itu juga yang akan terjadi.
Connie langsung mengangguk gembira. "Okay ... kalau begitu, mulai hari senin, Mira sudah bekerja sama kamu." Dia menatap Amira yang sejak tadi diam dalam gelisah.
"Saya sudah bisa permisi, Bu?" tanya Amira tanpa berani menatap Jonathan yang terlihat menahan kesal.
"Ya, sudah. Terima kasih, Mira, untuk kopinya," sindir Connie pada Jonathan yang tidak mengucapka kata terima kasih pada gadis itu.
"I–iya, Bu," sahut Amira gugup dan meninggalkan kedua majikannya.
"Mama kenal dia dari mana?" tanya Jonathan.
"Satu kampungnya Rini. Dia itu—" Connie menatap Jonathan. "Pokoknya Mira itu cara kerjanya bagus. Kamu pasti suka."
Jonathan menahan dengusan demi menjaga perasaan Connie. Sejak tadi dia tahu ucapan terselubung ibunya.
"Bagaimana, Mir?" tanya Rini sambil mencolek lengan Amira yang sedang membersihkan sayuran di wastafel.
"Bagaimana apanya?" tanyanya sambil tetap fokus mengerjakan tugasnya.
"Mas Joe itu cakep kan?" Rini tersenyum lebar padanya sambil menaikkan kedua alisnya.
"Lah... apa hubungannya sama aku?" tanya balik Amira heran.
"Bu Connie mengenalkan kamu loh sama Mas Joe. Kamu bisa tanya Bik Asih, dia mana pernah dikenalkan ke Mas Joe. Aku juga ndak."
Amira yang tidak mengerti maksud dari sahabatnya itu mengerutkan keningnya. "Mungkin kebetulan aja, Rin, aku dikenalkan ibu sama anaknya."
Rini menghela napasnya melihat kurangnya kepekaan gadis itu dan berkata, "Menurutku ya, Mir ... pasti Ibu Connie seneng sama kamu. Buktinya ibu semalam banyak tanya kan sama kamu?"
Amira meletakkan sayur yang sudah selesai dia bersihkan dan mengambil handuk kecil untuk melap tangannya yang basah. Dia menatap Rini dan bertanya, "Memangnya kamu nggak diwawancarai sama Ibu?"
"Ya, diwawancarai, tapi nggak sedetail kamu, seperti yang kamu bilang."
Amiran langsung tampak gelisah membuat Rini menatapnya heran. "Kamu kenapa, Mir?"
Gadis itu menatap Rini cemas. "Rin ... apa ibu nggak percaya sama aku ya? Makanya ibu banyak tanya? Jangan-jangan aku bakal dipecat, Rin?"
Rini menghela napasnya panjang sambil menggelengkan kepalanya putus asa. "Ayo kita kerja. Sama kamu capek kalau ngomong Mir."
Amira menarik tangan Rini agar berhadapan dengannya. "Rin ... bilang ke ibu, ya? Kalau aku ini nggak pernah punya masalah di mana pun."
Bik Asih yang mendengar percakapan kedua gadis itu sejak tadi hanya tersenyum sambil mengerjakan tugasnya.
"Mira ... " Rini menatapnya serius. "Kemarin Ibu Connie bilang apa sama kamu?"
Amira menelan ludahnya sambil meremas tanganya dan berkata, "Aku kerja sama anaknya. Ya itu tadi, si Mas Joe itu."
"Ya, sudah. Kenapa kamu takut dipecat?" Amira tetap saja merasa gelisah meskipun perkataan Rini itu benar
Rini menepuk bahu Amira dan menatap sahabatnya itu dengan yakin. "Ibu Connie nggak akan memecat kamu. Tapi aku punya yang masih terlalu dini untuk aku ungkapkan," kata Rini sok bijak.
"Ayo lanjut kerja. Kamu nggak usah pikir yang aneh-aneh, Mir." Rini merangkul bahu Amira sambil tersenyum lebar.