Tiga tahun setelah Aksel pergi, Maya hamil lagi.
Anak kedua. Dan saat USG menunjukkan jenis kelaminnya—perempuan—Maya dan Eirik sudah tahu nama yang mereka inginkan.
Mereka memberi tahu Lara di teras rumah putih, di sore musim panas.
"Mama. Kami hamil lagi. Perempuan."
Lara memeluk putrinya, bahagia. "Oh, Maya! Cucu perempuan!"
"Mama. Kami sudah pilih namanya." Maya menggenggam tangan ibunya. "Kami mau menamainya Maja."
Lara terdiam. Maja—nama istri pertama Aksel, mama pertama Mathias, perempuan yang pertama mengucapkan "cinta tidak terbatas," perempuan yang Lara tidak pernah temui tapi yang bayangannya selalu hadir dengan hormat di keluarga mereka.
"Maja," bisik Lara, air mata mengalir. "Maya, kau yakin? Maja itu... dia istri pertama papamu. Bukankah itu—"
"Mama. Dengar saya." Maya menggenggam tangan ibunya lebih erat. "Maja yang pertama mengucapkan 'cinta tidak terbatas.' Kalimat itu jantung keluarga kita. Dia mama pertama mas Mathias. Dan dia—lewat cerita, lewat rekaman, lewat lukisan—bagian dari hidup saya, walaupun saya tidak pernah ketemu dia."
"Saya mau anak perempuan saya membawa namanya. Supaya Maja juga hidup terus, seperti Mathias hidup di bintang-bintang, seperti papa hidup di Aksel kecil. Keluarga kita tidak melupakan siapa pun, Mama. Kami membawa semua nama ke depan."
Lara menangis, memeluk putrinya erat.
"Maya. Itu... itu hadiah paling indah. Untuk Maja. Untuk papamu, di mana pun dia. Dia akan—oh, Aksel akan sangat terharu."
Maja kecil lahir di musim dingin. Sehat, dengan mata cokelat dan rambut hitam, dan tangis yang kuat.
Mereka membawanya ke rumah putih saat dia berumur beberapa minggu. Dan Lara menggendong cucu perempuannya—Maja kecil—di koridor, di depan lukisan tiga-orang-dan-satu-bayi.
"Maja kecil," bisik Lara pada bayi itu. "Kau membawa nama perempuan yang mengajari keluarga kita bahwa cinta tidak terbatas. Bawa dengan baik, sayang."
Dia menatap lukisan Mathias di dinding—tiga orang dan satu bayi.
"Mathias," katanya pelan pada lukisan. "Mama-mu Maja punya nama yang hidup lagi sekarang. Lewat keponakanmu. Lingkaran yang kau gambar—masih berputar."
Dan rumah putih, yang kehilangan Aksel tiga tahun lalu, terisi suara baru lagi—tangis bayi, tawa Aksel kecil yang sekarang punya adik, dan suara seorang nenek yang bercerita.
Suara baru. Selalu, suara baru.
(bersambung...)