Aksel kecil dan Maja kecil tumbuh bersama di Bergen, dua anak keluarga Berg generasi baru.
Aksel kecil—sekarang enam tahun—serius dan ingin tahu, seperti kakeknya yang namanya dia bawa. Dia bertanya tentang segalanya, terutama tentang es, terutama tentang kakeknya yang tidak pernah dia ingat.
Maja kecil—tiga tahun—ceria dan banyak bicara, dengan imajinasi yang liar. Dia suka cerita lebih dari apa pun, dan akan duduk berjam-jam mendengar nenek Lara bercerita.
Di kamar mereka, di rumah Maya dan Eirik, bintang-bintang fluoresen bersinar di langit-langit—termasuk beberapa bintang asli dari kamar Mathias, yang Aksel berikan sebelum dia pergi.
Suatu malam, Maya menidurkan kedua anaknya, dan Maja kecil bertanya:
"Mama. Cerita. Cerita tentang es."
Maya tersenyum—permintaan yang sama yang setiap anak keluarga Berg minta. Dia mulai bercerita, cerita yang sudah diceritakan turun-temurun:
"Dulu, ada perempuan bernama Lara—nenek kalian. Dia pergi ke Antartika, tempat paling dingin di dunia, karena hatinya patah. Dan di sana, di es, dia bertemu seorang pria bernama Aksel—kakek kalian, yang namanya kakak kalian bawa..."
"Dan mereka jatuh cinta!" seru Aksel kecil, yang sudah hafal ceritanya.
"Iya, sayang. Mereka jatuh cinta. Di es."
"Dan paman Mathias?" tanya Maja kecil.
"Paman Mathias adalah anak kakek Aksel dengan istri pertamanya, Maja—yang namanya kamu bawa, Maja kecil. Paman Mathias sakit, dan pergi ke surga waktu masih kecil. Tapi sebelum pergi, dia menempel bintang-bintang ini, karena dia takut gelap. Dan dia menggambar lukisan—lukisan yang ada di rumah nenek, tiga orang dan satu bayi. Bayi itu mama. Paman Mathias tahu mama akan lahir, sebelum siapa pun tahu."
Kedua anak menatap bintang-bintang di langit-langit dengan kagum.
"Mama," kata Aksel kecil. "Saya mau dengar es berbicara. Kayak mama. Kayak kakek Aksel."
Maya mengelus rambut anaknya. "Suatu hari, sayang. Saat kamu cukup besar, mama akan bawa kamu ke gletser. Dan mama akan ajari kamu mendengar es. Seperti kakek Aksel ajari mama."
"Janji?"
"Janji, sayang."
Maja kecil sudah hampir tidur, tapi dia bergumam: "Saya gak mau dengar es. Saya mau nulis cerita. Kayak nenek Lara."
Maya tersenyum—dua anak, dua panggilan berbeda. Satu menuju es, satu menuju kata-kata. Seperti keluarga selalu—setiap anak menemukan jalannya sendiri.
"Kalian berdua bisa jadi apa pun yang kalian mau," bisik Maya, mematikan lampu. "Dengar es, atau tulis cerita, atau apa pun. Yang penting—cintai. Sepenuhnya. Seperti keluarga kita selalu."
Bintang-bintang fluoresen bersinar di gelap, menjaga dua anak yang tertidur.
(bersambung...)