Lara menulis buku ketiganya di usia tujuh puluhan.
Buku pertama tentang menemukan cinta di Antartika. Buku kedua tentang Mathias. Dan buku ketiga—ini yang paling sulit, dan paling penting—tentang seluruhnya. Tentang keluarga. Tentang cinta yang mengalir lintas generasi.
Judulnya: "Cinta Tidak Terbatas: Kisah Sebuah Keluarga."
Di dalamnya, Lara menulis tentang semuanya. Tentang dirinya yang lari ke es dengan hati patah. Tentang Aksel, duda dengan anak yang sekarat. Tentang Mathias, anak yang mengajari mereka mencintai. Tentang Maya, yang lahir dari permintaan terakhir Mathias. Tentang Eirik, yang Maya temukan di es. Tentang Aksel kecil dan Maja kecil, generasi baru.
Tentang bagaimana cinta, di keluarganya, tidak pernah berhenti—mengalir dari hati ke hati, dari generasi ke generasi, lewat kehilangan dan kelahiran, lewat duka dan sukacita.
"Aku menulis buku ini," tulis Lara di pengantarnya, "bukan karena keluargaku istimewa. Setiap keluarga punya cinta dan kehilangan. Aku menulis karena aku ingin mengatakan satu hal pada siapa pun yang membacanya:"
"Cinta tidak terbatas. Bukan oleh jarak—suamiku dan aku dipisahkan benua sebelum kami bertemu. Bukan oleh perbedaan—aku perempuan Indonesia, dia pria Norwegia. Bukan oleh kematian—aku kehilangan anak, lalu suami, dan cintaku pada mereka tidak berkurang sedikit pun."
"Cinta yang kau berikan tidak pernah hilang. Ia mengalir ke depan, lewat orang-orang yang kau cintai, lewat cerita yang kau ceritakan, lewat nama-nama yang diteruskan. Anakku Maya membawa cintaku. Cucuku Aksel kecil membawa nama kakeknya. Cucuku Maja kecil membawa nama perempuan yang pertama mengucapkan kalimat ini."
"Tidak ada cinta yang sia-sia. Tidak ada cinta yang berakhir. Cinta, sungguh, tidak terbatas."
Buku itu terbit, dan menjadi yang paling dicintai dari ketiganya. Pembaca dari seluruh dunia menulis pada Lara, berbagi kisah keluarga mereka sendiri, kehilangan mereka sendiri, cinta mereka sendiri.
Lara membaca setiap surat. Dan dia membalas sebanyak yang dia bisa—seorang perempuan tua di rumah putih di Bergen, menghubungkan kisahnya dengan kisah orang-orang yang tidak pernah dia temui, lewat satu kebenaran sederhana yang dia pelajari di es.
Maya, membaca buku ibunya, menangis di setiap bab.
"Mama," katanya. "Kau menangkap kami semua di sini. Mas Mathias. Papa. Mama Maja. Kita semua, hidup di halaman-halaman ini."
"Itu yang dilakukan cerita, Maya," kata Lara. "Mereka membuat cinta abadi. Selama cerita kita diceritakan—kita tidak pernah benar-benar hilang."
(bersambung...)