Saat Aksel kecil berumur sepuluh tahun, Maya menepati janjinya.
Dia membawa anaknya ke gletser pertamanya—Folgefonna, gletser yang sama tempat Aksel sang kakek dulu membawa Maya, tempat Maya mendengar es untuk pertama kalinya.
Lingkaran demi lingkaran, di tempat yang sama.
"Aksel," kata Maya saat mereka mendaki dengan crampon, tali pengaman menghubungkan mereka—persis seperti papanya dulu mengajarinya. "Aturan pertama di es. Es itu hidup. Dia bergerak, dia retak, dia bernapas. Hormati dia, dan dia akan mengajarimu. Lalai, dan dia akan menyakitimu."
"Iya, Mama."
"Kakek Aksel mengajari mama kalimat itu, di es ini, saat mama seumurmu. Sekarang mama mengajarimu."
Mereka mencapai dataran es di siang hari. Putih membentang ke cakrawala, biru di celah-celah dalam, dengan suara retak pelan dari kedalaman.
Maya berhenti. "Sekarang, Aksel. Diam. Dengar."
Aksel kecil berlutut dan meletakkan tangan bersarungnya di permukaan es. Dia menunggu—seperti mamanya dulu menunggu, seperti kakeknya, seperti nenek buyutnya.
Maya menahan napas. Akankah anaknya mendengar? Apakah panggilan es diwariskan?
Aksel kecil diam lama. Lalu, pelan, matanya melebar.
"Mama," bisiknya. "Saya... saya dengar."
Air mata mengambang di mata Maya, membeku di bulu matanya.
"Apa yang dia katakan, sayang?"
Aksel kecil menatap es yang membentang, lalu mamanya, dengan ekspresi penuh keheranan.
"Dia bilang... dia bilang dunia diam. Dan saya kecil. Tapi saya... saya terhubung. Pada sesuatu yang besar." Dia mengernyit, mencari kata-kata anak sepuluh tahun. "Susah dijelasin, Mama."
Maya memeluk anaknya, menangis. "Itu persis yang dia katakan, sayang. Pada mama. Pada kakek Aksel. Pada nenek Lara. Kau mendengar es, Aksel. Seperti seluruh keluarga kita."
"Mama. Kakek Aksel dengar es ini juga?"
"Es ini juga, sayang. Dan Antartika. Dan banyak es lain. Kakekmu mendengar es seumur hidupnya."
Aksel kecil menatap es, lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya—foto kecil lukisan tiga-orang-dan-satu-bayi, yang Maya berikan padanya sebelum perjalanan, seperti tradisi.
"Paman Mathias," katanya pada es, meniru apa yang dia tahu dari cerita-cerita. "Saya bawa kamu ke es. Saya Aksel kecil. Saya dengar es berbicara sekarang."
Maya menyaksikan anaknya, generasi baru, melakukan ritual keluarga yang sama—di es yang sama, dengan lukisan yang sama, dengan cinta yang sama.
"Cinta tidak terbatas," bisik Maya. "Dan panggilan es—mengalir terus. Generasi ke generasi. Tepat di sini, di Bumi, di gletser keluarga kita."
(bersambung...)