Sementara Aksel kecil menuju es, Maja kecil menuju kata-kata.
Sejak kecil, Maja kecil mencintai cerita. Dia akan duduk berjam-jam mendengar nenek Lara bercerita. Dia membaca semua buku di rumah—termasuk, saat dia cukup besar, ketiga buku nenek Lara. Dan dia mulai menulis ceritanya sendiri, di buku catatan, dengan tulisan tangan anak yang penuh semangat.
Saat Maja kecil berumur dua belas, dia menunjukkan pada nenek Lara sebuah cerita yang dia tulis.
Lara—sekarang delapan puluhan, rambut putih semua, tapi mata masih tajam—membaca cerita cucunya dengan hati-hati. Cerita tentang seorang anak yang punya keluarga besar, sebagian di rumah dan sebagian "di awan," dan bagaimana cinta menghubungkan mereka semua.
Lara menurunkan kacamata bacanya, air mata di matanya.
"Maja kecil. Ini... ini indah, sayang."
"Beneran, Nenek? Nenek gak cuma baik?"
"Nenek tidak pernah berbohong tentang tulisan, sayang. Ini sungguh indah. Kau punya bakat. Kau melihat hal-hal yang orang lain lewatkan, dan kau menulisnya dengan hati."
Maja kecil berseri-seri. "Nenek. Saya mau jadi penulis. Kayak Nenek. Saya mau nulis cerita keluarga kita, supaya gak ada yang lupa."
Lara memeluk cucunya erat, lama.
"Maja kecil. Itu... itu hadiah paling indah yang bisa kau berikan pada keluarga ini. Kakakmu Aksel akan mendengar es, meneruskan jalan kakek Aksel. Dan kau—kau akan menjaga cerita kita, meneruskan jalan nenek. Dua jalan, satu keluarga."
"Nenek. Boleh saya tanya sesuatu?"
"Tentu, sayang."
"Kalau nenek... kalau nenek suatu hari pergi—kayak kakek Aksel, kayak paman Mathias—siapa yang akan terus menulis cerita keluarga kita?"
Lara menatap cucunya, anak dua belas tahun yang sudah memikirkan hal-hal besar—seperti Mathias dulu, seperti keluarga selalu.
"Kau, Maja kecil," kata Lara lembut. "Kau yang akan menulis. Itu sebabnya kau di sini, mungkin. Setiap generasi keluarga kita, ada yang mendengar es dan ada yang menjaga cerita. Nenek menjaga cerita untuk generasi nenek. Kau akan menjaganya untuk generasimu, dan meneruskannya pada anak-anakmu nanti."
Maja kecil mengangguk serius, memeluk buku catatannya ke dada.
"Saya akan jaga, Nenek. Saya janji. Cerita keluarga kita gak akan pernah hilang. Selama saya hidup, saya akan terus tulis."
Lara menatap cucunya, dan merasakan kedamaian yang dalam. Ceritanya—cerita keluarganya—akan aman. Diteruskan. Tidak akan pernah hilang.
"Cinta tidak terbatas," bisik Lara. "Dan cerita—cerita juga tidak terbatas, selama ada yang menceritakannya."
(bersambung...)