Maya dan Eirik mendedikasikan hidup mereka untuk es—bukan hanya mencintainya, tapi menjaganya.
Di zaman mereka, es kutub terancam. Pemanasan global mencairkan gletser, menipiskan lapisan es, mengancam tempat-tempat yang keluarga Berg cintai selama generasi. Antartika tempat Lara dan Aksel bertemu, Svalbard tempat Maya dan Eirik bertemu, gletser-gletser Norwegia—semuanya surut.
Maya dan Eirik berjuang melawannya. Lewat penelitian, lewat kebijakan, lewat pendidikan. Mereka tahu mereka tidak bisa menyelamatkan semua es—sebagian sudah hilang selamanya. Tapi mereka berjuang untuk apa yang masih bisa diselamatkan.
"Eirik," kata Maya suatu malam, setelah hari panjang di laboratorium. "Kadang aku merasa kita kalah. Es terus mencair, lebih cepat dari yang bisa kita perlambat."
Eirik memeluk istrinya. "Maya. Ingat apa yang ayahmu katakan? Es mengajari kerendahan hati. Kita tidak bisa menyelamatkan semuanya. Tapi kita bisa menyelamatkan sebagian. Dan sebagian—itu sudah berarti."
"Aku tahu. Aku hanya... aku ingin Aksel kecil dan Maja kecil punya es untuk dicintai juga. Dan anak-anak mereka. Aku tidak mau keluarga kita kehilangan es yang membuat kita ada."
"Maka kita berjuang," kata Eirik sederhana. "Sekuat yang kita bisa. Untuk selama yang kita bisa. Dan kita ajari anak-anak untuk berjuang juga. Itu yang bisa kita lakukan."
Dan mereka melakukannya. Maya menulis—mengikuti tradisi keluarga—tapi tulisannya tentang es: artikel, esai, seruan untuk melindungi kutub. Dia menggabungkan sains keluarganya dengan kata-kata keluarganya, menjadi suara untuk es yang tidak bisa berbicara untuk dirinya sendiri—kecuali pada mereka yang mendengar.
Pelan-pelan, lewat kerja banyak orang seperti Maya dan Eirik di seluruh dunia, dunia mulai berubah. Tidak cukup cepat, tidak cukup banyak—tapi lebih dari sebelumnya. Beberapa gletser distabilkan. Beberapa es diselamatkan.
"Lihat, Maya," kata Eirik suatu hari, menunjukkan data. "Gletser Nordenskiöld—tempat kita bertemu, di Svalbard—lajunya melambat. Sedikit. Tapi melambat."
Maya menatap data itu, air mata di matanya. "Es tempat kita bertemu. Masih di sana."
"Masih di sana. Dan akan tetap di sana, kalau cukup banyak orang peduli."
Maya menyandarkan kepala di bahu suaminya.
"Kita lakukan ini untuk mereka, Eirik. Untuk Aksel kecil. Maja kecil. Untuk anak-anak mereka. Supaya keluarga kita selalu punya es untuk dicintai. Selalu punya tempat untuk mendengar es berbicara."
(bersambung...)