Lara menua dengan anggun di rumah putih, dikelilingi keluarga.
Di usia delapan puluhan, dia lebih lambat, lebih rapuh, tapi matanya masih tajam dan pikirannya masih jernih. Dia menghabiskan hari-harinya di teras, menulis sesekali, merawat mawar Aksel sebisanya, dan—di atas segalanya—bersama cucu-cucunya.
Aksel kecil, sekarang remaja, akan datang dan duduk dengannya, berbagi cerita tentang gletser yang dia kunjungi, tentang mimpinya pergi ke Antartika suatu hari seperti mama dan kakeknya.
Maja kecil, juga remaja sekarang, akan datang dengan buku catatannya, membaca cerita-cerita barunya untuk nenek, meminta nasihat tentang menulis.
"Nenek," kata Maja kecil suatu sore. "Saya menulis cerita tentang nenek. Tentang nenek lari ke Antartika, dan ketemu kakek Aksel. Boleh?"
Lara tersenyum. "Tentu, sayang. Tapi nenek sudah menulis itu sendiri, di buku pertama nenek."
"Saya tahu. Tapi saya mau tulis versi saya. Untuk generasi saya. Supaya cerita nenek terus hidup, dengan suara baru."
Lara menggenggam tangan cucunya. "Itu... itu persis yang seharusnya terjadi, Maja kecil. Setiap generasi menceritakan ulang cerita keluarga, dengan suaranya sendiri. Begitulah cerita tetap hidup—bukan dengan dibekukan, tapi dengan diceritakan ulang, lagi dan lagi."
Suatu malam, seluruh keluarga berkumpul di rumah putih—Maya, Eirik, Aksel kecil, Maja kecil, dan Karen yang sangat tua sekarang. Mereka makan di kebun, di bawah pohon apple, dengan lampu-lampu kuning kecil.
Lara menatap mereka semua—keluarganya, yang dibangun dari cinta dan kehilangan, yang bertahan dan tumbuh lintas generasi.
"Aku ingin mengatakan sesuatu," kata Lara, mengangkat gelas. "Aku sudah tua. Aku tidak tahu berapa banyak malam seperti ini yang masih aku punya."
"Nenek—" mulai Aksel kecil.
"Biar nenek selesai, sayang." Lara tersenyum. "Aku hanya ingin mengatakan: terima kasih. Untuk keluarga ini. Aku datang ke Bergen tiga puluh tahun lebih lalu sebagai perempuan asing yang patah hati. Dan sekarang—lihat. Aku dikelilingi cinta. Anak, cucu, sahabat. Lebih dari yang aku berani impikan."
Dia menatap fjord di kejauhan, lalu keluarganya.
"Cinta tidak terbatas. Maja yang pertama mengajariku itu, lewat suaminya. Aku menghabiskan hidupku membuktikannya. Dan sekarang, melihat kalian semua—aku tahu itu benar. Cinta yang kita beri, tidak pernah hilang. Ia ada di sini. Di meja ini. Di kalian semua."
Mereka mengangkat gelas bersama, di kebun rumah putih, di bawah cahaya musim panas Bergen yang panjang.
"Cinta tidak terbatas," kata mereka bersama.
(bersambung...)