Lara terus menulis sampai usia tuanya—bukan buku lagi, tapi jurnal. Jurnal kulit cokelat, sama jenisnya dengan yang dia tulis sejak Mathias meninggal, bertahun-tahun lalu.
Dia menulis untuk Maya, untuk cucu-cucunya, untuk siapa pun di keluarga yang akan membacanya nanti.
Tentang hari-harinya. Tentang kenangannya—Aksel, Mathias, Maja, ibunya. Tentang pikiran-pikirannya tentang hidup, cinta, kehilangan, dan apa yang dia pelajari dari semuanya.
Suatu hari, Maja kecil—sekarang hampir dewasa—menemukan neneknya menulis di teras.
"Nenek nulis apa?"
"Jurnal, sayang. Untuk kalian. Untuk dibaca nanti, saat nenek sudah tidak ada."
"Nenek, jangan ngomong gitu."
Lara tersenyum, menepuk tangan cucunya. "Maja kecil. Nenek delapan puluh tujuh. Nenek tidak takut. Nenek sudah hidup penuh—lebih penuh dari yang nenek berani harapkan. Dan saat waktunya datang, nenek akan pergi ke Aksel, ke Mathias, ke Maja, ke ibu nenek. Mereka menunggu."
"Tapi saya akan rindu nenek."
"Iya, sayang. Dan nenek akan rindu kau. Tapi dengar—nenek tidak akan benar-benar hilang. Nenek ada di jurnal-jurnal ini. Di buku-buku nenek. Di cerita yang kau tulis tentang nenek. Di Maja kecil, yang membawa nama Maja yang pertama. Nenek ada di mana-mana, di keluarga ini."
Maja kecil duduk di samping neneknya. "Nenek. Boleh saya baca jurnalnya? Suatu hari?"
"Semuanya, sayang. Saat nenek sudah pergi, semua jurnal ini untukmu, dan untuk Maya, dan untuk Aksel kecil. Nenek menulis untuk kalian. Supaya kalian tahu nenek—bukan hanya sebagai nenek tua, tapi sebagai perempuan yang pernah muda, yang pernah patah hati, yang pernah jatuh cinta di es, yang pernah kehilangan dan bertahan."
Lara menatap fjord, lalu cucunya.
"Itu yang nenek pelajari, Maja kecil—orang tidak benar-benar hilang selama mereka diingat, selama cerita mereka diceritakan. Ibu nenek, yang kau tidak pernah temui, hidup karena nenek menceritakannya. Kakek Aksel hidup karena Aksel kecil membawa namanya. Paman Mathias hidup karena bintang-bintangnya, lukisannya, ceritanya."
"Dan nenek akan hidup—lewat jurnal-jurnal ini. Lewat kau. Lewat cerita yang kau tulis."
Maja kecil memeluk neneknya, lama, di teras rumah putih, di sore yang tenang.
"Saya akan jaga cerita nenek," bisiknya. "Selamanya."
(bersambung...)