Aksel kecil tumbuh menjadi pemuda, dan panggilan es yang dia rasakan di Folgefonna tidak pernah pergi.
Dia belajar glasiologi, seperti mama dan kakeknya. Dan di usia dua puluhan, kesempatan datang yang dia impikan sejak kecil: ekspedisi ke Antartika.
Sebelum berangkat, Maya memberinya sesuatu.
Kompas tua. Kompas kakek Aksel, yang menuntun kakeknya pulang selama empat puluh tahun, yang menuntun Maya pulang dari Antartika, dan sekarang—
"Kompas kakek Aksel," kata Maya, menaruhnya di tangan anaknya. "Dia bawa ini di setiap ekspedisi. Lalu mama bawa ke Antartika dan kembali. Sekarang giliranmu, Aksel. Bawa dia ke es. Dan biar dia menuntunmu pulang. Itu syaratnya—sama seperti kakekmu beri syarat pada mama. Kau boleh pergi ke es. Tapi kau harus pulang."
Aksel kecil menggenggam kompas tua itu, terharu. "Saya janji, Mama. Saya akan pulang."
Dia juga membawa, tentu saja, foto lukisan tiga-orang-dan-satu-bayi. Dan sebuah eksemplar buku nenek Lara, "Cinta di Negeri Salju."
Sebelum berangkat, dia mengunjungi nenek Lara di rumah putih.
"Nenek. Saya akan ke Antartika. Ke tempat nenek dan kakek bertemu."
Lara—sangat tua sekarang, di kursi di teras—memegang tangan cucunya dengan tangan yang gemetar.
"Aksel kecil. Kau akan berdiri di es tempat semuanya dimulai. Tempat nenek menemukan kakekmu. Tempat keluarga kita lahir." Matanya berair. "Saat kau di sana, dengar es untuk nenek. Dan rasakan kami semua—kakekmu, paman Mathias, mama Maja, dan nenek juga, kalau nenek sudah pergi saat itu."
"Nenek akan masih di sini saat saya pulang," kata Aksel kecil.
Lara tersenyum, tapi tidak menjawab. "Bawa kompas kakekmu, sayang. Pulang. Itu yang paling penting."
Aksel kecil pergi ke Antartika. Dan saat dia berdiri di es itu untuk pertama kalinya—es tempat nenek buyutnya menemukan cinta, es yang membuat keluarganya ada—dia berlutut dan meletakkan tangannya di permukaan, dan mendengar es berbicara.
Lalu, mengikuti tradisi keluarga, dia mengeluarkan foto lukisan tiga-orang-dan-satu-bayi.
"Paman Mathias," katanya pada es Antartika. "Saya Aksel kecil, keponakan buyut kamu. Saya bawa kamu ke es lagi, seperti mama dulu. Keluarga kita—masih datang ke es ini. Masih mendengar. Masih mencintai."
Dan, seperti yang sudah terjadi tiga kali sebelumnya di keluarganya, Aksel kecil—di es Antartika—bertemu seseorang. Seorang peneliti muda dari ekspedisi yang sama, yang sama-sama mencintai es.
Es, sekali lagi, mempertemukan orang yang bergerak ke arah yang sama.
(bersambung...)