Aksel kecil menelepon rumah dari Antartika, lewat sambungan satelit, seperti mamanya dulu.
"Mama. Saya... saya ketemu seseorang. Di es. Namanya Ingrid. Peneliti dari ekspedisi yang sama."
Maya tersenyum di teleponnya, air mata di matanya. "Es mempertemukan kalian."
"Iya, Mama. Persis seperti cerita keluarga kita. Saya... saya gak nyangka itu benar-benar terjadi. Saya pikir itu cuma cerita lama."
"Itu bukan cuma cerita, Aksel. Itu kebenaran keluarga kita. Es mempertemukan orang yang bergerak ke arah yang sama. Nenek Lara dan kakek Aksel. Mama dan papa Eirik. Dan sekarang kau."
"Mama. Boleh saya bawa Ingrid ke rumah putih, saat kami pulang? Saya mau dia ketemu nenek Lara."
Maya terdiam sejenak. Nenek Lara semakin lemah. Setiap minggu terasa rapuh sekarang.
"Iya, sayang. Bawa dia. Secepat kalian bisa setelah pulang. Nenek... nenek akan senang sekali bertemu dia."
Saat Aksel kecil dan Ingrid pulang dari Antartika—bertunangan, cincin di jari, seperti mama dan papanya dulu, seperti nenek dan kakeknya—mereka langsung pergi ke rumah putih.
Lara, di kursinya di teras, menyambut mereka dengan senyum yang lebar walau tubuhnya rapuh.
"Jadi ini Ingrid," kata Lara, memegang tangan gadis muda itu. "Gadis yang ditemukan Aksel kecilku di es."
"Senang bertemu Anda, Nyonya Berg," kata Ingrid, sedikit gugup. "Saya sudah baca buku Anda. 'Cinta di Negeri Salju.' Saya... itu salah satu alasan saya jadi peneliti es."
Mata Lara berbinar. "Bukuku membawamu ke es. Dan es membawamu ke cucuku. Lingkaran yang indah."
Dia menatap Aksel kecil dan Ingrid, dua anak muda yang menemukan cinta di es, seperti dia bertahun-tahun lalu.
"Aksel kecil," kata Lara. "Kau membawa nama kakekmu. Dan sekarang kau menemukan cinta di es, seperti dia. Kau menjaga warisan keluarga kita—lewat es, lewat cinta. Nenek bangga. Sangat bangga."
"Nenek bertahan untuk ketemu Ingrid," kata Aksel kecil pelan.
Lara tersenyum, dan untuk sesaat, ada sesuatu di matanya—seperti Aksel dulu, yang bertahan untuk menggendong cucunya.
"Iya, sayang. Nenek bertahan untuk ini. Untuk melihat cinta keluarga kita berlanjut, satu generasi lagi." Dia menggenggam tangan kedua anak muda itu. "Sekarang nenek sudah melihat. Dan nenek bahagia."
(bersambung...)