Lara menghabiskan tahun-tahun terakhirnya dalam kedamaian.
Di rumah putih, dikelilingi keluarga, dengan jurnal di pangkuan dan fjord di kejauhan. Dia sudah melihat begitu banyak—cinta dan kehilangan, kelahiran dan kematian, generasi yang datang dan pergi. Dan dia menerima semuanya dengan ketenangan seseorang yang sudah berdamai dengan hidup.
Maya datang setiap hari sekarang. Dia tahu—seperti dulu mereka tahu dengan Aksel—bahwa waktu mamanya semakin dekat. Jadi dia tidak menyia-nyiakan satu hari.
"Mama," kata Maya suatu sore, duduk di teras dengan ibunya. "Apa mama bahagia? Dengan hidup mama?"
Lara menatap putrinya, mata tua yang masih jernih.
"Sangat, Maya. Lebih dari yang mama berani impikan saat mama muda, patah hati, lari ke Antartika untuk membeku." Dia tersenyum. "Mama pikir hidup mama berakhir saat itu. Mama pikir mama tidak akan pernah bahagia lagi."
"Lalu mama ketemu papa."
"Lalu mama ketemu papa. Dan Mathias. Dan punya kau. Dan menyaksikan kau punya Aksel kecil dan Maja kecil. Dan menyaksikan Aksel kecil punya Ingrid." Lara menggenggam tangan putrinya. "Mama hidup empat kali lebih panjang, dan empat ratus kali lebih kaya, dari yang mama kira saat mama muda."
"Mama. Saya gak siap kehilangan mama."
Lara menatap putrinya dengan lembut. "Maya. Ingat apa yang mama dan papa pelajari, dengan Mathias? Hidup harus dijalani, bukan disimpan dalam takut kehilangan. Kau akan kehilangan mama suatu hari—itu bagian dari hidup. Tapi mama tidak akan benar-benar hilang."
"Mama akan ada di jurnal-jurnal mama. Di buku-buku mama. Di kau, dan di Aksel kecil, dan di Maja kecil yang membawa nama Maja. Di cerita yang akan kalian ceritakan. Mama akan ada di mana-mana, di keluarga ini."
Lara menatap fjord, lalu putrinya.
"Dan saat waktunya datang, mama akan pergi ke papamu. Ke Mathias. Ke Maja. Ke ibu mama. Mereka menunggu, Maya. Mama bisa hampir merasakan mereka, dekat sekarang. Mama tidak takut. Mama hanya... lelah, dengan cara yang baik. Lelah seseorang yang sudah bekerja keras dan mencintai penuh dan siap untuk istirahat."
Maya menangis, memeluk ibunya.
"Jangan menangis, sayang," bisik Lara. "Atau—menangislah, kalau perlu. Tapi tahu ini: mama mencintaimu. Selalu. Dari hari kau lahir sampai sekarang sampai selamanya. Cinta tidak terbatas, Maya. Bahkan oleh ini."
(bersambung...)