Lara Berg meninggal di musim dingin, di rumah putih di pinggiran Bergen, di usia delapan puluh delapan tahun.
Dia pergi dengan tenang, di pagi yang bersalju, di tempat tidur yang dulu dia bagi dengan Aksel. Maya yang menemukannya—datang di pagi hari seperti biasa, dan menemukan ibunya pergi dengan damai, jurnal kulit cokelat terbuka di pangkuannya, pena masih di tangan.
Lara menulis sampai akhir.
Halaman terakhir jurnalnya, ditulis pagi itu sebelum dia pergi:
"Maya sayang—dan Aksel kecil, dan Maja kecil, dan siapa pun dari keluarga kita yang membaca ini—mama sudah pergi. Ke papa. Ke Mathias. Ke Maja. Ke ibu mama. Kami semua bersama lagi sekarang, di mana pun cinta pergi setelah kita.
Jangan terlalu sedih. Mama hidup delapan puluh delapan tahun, penuh cinta, penuh es, penuh cerita. Mama lari ke tempat paling dingin di dunia dengan hati patah, dan menemukan cinta. Mama kehilangan anak, lalu suami, dan masih—sampai akhir—percaya bahwa cinta tidak terbatas.
Maya, kau adalah hadiah terbesar dalam hidup mama. Lahir dari permintaan terakhir kakakmu, kau mengisi rumah ini dengan suara, mama dengan kebahagiaan, dan dunia dengan kebaikan. Mama bangga padamu lebih dari kata-kata bisa katakan.
Jaga rumah putih ini. Jaga jurnal-jurnal mama, buku-buku mama, lukisan Mathias, bintang-bintangnya. Jaga cerita keluarga kita—dan ceritakan, lagi dan lagi, pada anak-anak dan cucu-cucu, supaya tidak ada dari kita yang benar-benar hilang.
Dan ingat, selalu, kalimat yang Maja ajarkan pada mama, lewat papamu, bertahun-tahun lalu: cinta tidak terbatas. Bukan oleh jarak. Bukan oleh perbedaan. Bukan oleh kematian. Bukan oleh apa pun.
Mama mencintaimu, Maya. Selalu. Bahkan dari tempat mama pergi sekarang.
Mama."
Maya duduk di tepi tempat tidur ibunya, memegang tangan yang mulai dingin, membaca halaman terakhir itu lagi dan lagi, sampai matahari musim dingin yang lemah masuk ke jendela.
Lalu dia menelepon—Eirik, Aksel kecil, Maja kecil, Karen yang sangat tua. Dan satu per satu, keluarga datang ke rumah putih, untuk berduka, untuk memeluk, untuk duduk bersama dalam diam yang lebih dalam dari kata-kata.
Maya naik ke kamar yang dulu kamar Mathias, dengan bintang-bintang fluoresen di langit-langit. Dia berbaring di tempat tidur tua itu, seperti ibunya dulu setelah Aksel pergi, dan menatap bintang-bintang.
"Mama," bisiknya pada gelap. "Kau menulis sampai akhir. Seperti yang selalu kau lakukan. Dan kau meninggalkan kami kata-katamu—seperti selalu."
Bintang-bintang fluoresen bersinar redup di atasnya—bintang yang ditempel seorang anak yang takut gelap, hampir seabad lalu, yang sekarang menemani cucunya yang berduka.
(bersambung...)