Pemakaman Lara di pemakaman keluarga di pinggir Bergen, di samping Aksel.
Cuaca musim dingin—dingin, salju turun halus, langit putih yang menyatu dengan tanah. Seperti pemakaman Mathias, seperti pemakaman Aksel. Keluarga Berg selalu, entah bagaimana, dimakamkan di musim dingin, di salju.
Sekarang empat makam berderet: Maja, Mathias, Aksel, dan Lara. Keluarga yang dimulai di es Antartika, beristirahat bersama di tanah Bergen.
Maya memberi pidato.
"Mama saya, Lara Berg, lahir di Indonesia, di tempat yang panas dan ramai. Dia pergi ke Antartika—tempat paling dingin dan paling sepi di dunia—untuk lari dari hati yang patah. Dan di sana, di es, dia menemukan cinta. Dia menemukan papa saya. Dia menemukan dirinya sendiri."
"Mama mengajari saya satu hal di atas segalanya: cinta tidak terbatas. Bukan oleh jarak—mama dan papa dipisah benua sebelum mereka bertemu. Bukan oleh perbedaan—mereka dari dua dunia. Bukan oleh kematian—mama kehilangan kakak saya Mathias, kehilangan papa, dan tetap mencintai mereka sampai napas terakhirnya."
"Mama menulis itu di tiga buku. Dia menulis sampai pagi dia pergi. Kata-kata terakhirnya, di jurnalnya, adalah untuk saya—dan untuk anak-anak saya, cucu-cucunya."
Maya menatap Aksel kecil dan Maja kecil, yang berdiri di sampingnya, sudah dewasa sekarang.
"Mama minta saya menjaga rumah putih. Menjaga jurnal-jurnalnya, buku-bukunya, lukisan paman Mathias, bintang-bintangnya. Dan menjaga cerita keluarga kita—menceritakannya, lagi dan lagi, supaya tidak ada dari kami yang benar-benar hilang."
"Mama. Saya janji. Saya akan jaga semuanya. Dan saya akan ceritakan cerita kita—pada Aksel kecil dan Maja kecil, dan pada anak-anak mereka, dan seterusnya. Selama keluarga Berg ada, cerita mama—cerita kita—akan diceritakan."
"Mama. Sampai jumpa. Papa, paman Mathias, mama Maja—mereka semua menunggu mama. Sekarang kalian berempat bersama lagi. Seperti di lukisan paman Mathias, dulu sekali."
"Cinta tidak terbatas. Bahkan kematian tidak bisa membatasinya."
Setelah pemakaman, keluarga pulang ke rumah putih. Dan untuk pertama kali, rumah itu adalah milik Maya—generasi berikutnya yang menjaganya.
Dia berdiri di koridor, di depan lukisan tiga-orang-dan-satu-bayi, dengan tiga buku Lara di rak di bawahnya, dan merasakan beban dan kehormatan dari apa yang dia warisi.
"Saya akan jaga rumah ini, Mama," bisiknya. "Seperti mama menjaganya. Seperti papa. Saya janji."
(bersambung...)