Maja kecil—sekarang perempuan dewasa, walaupun keluarga masih memanggilnya "Maja kecil"—menepati janji yang dia buat pada nenek Lara bertahun-tahun lalu.
Dia menulis buku.
Buku tentang keluarga Berg. Tentang Lara yang lari ke Antartika. Tentang Aksel sang glasiolog. Tentang Mathias yang menempel bintang. Tentang Maja yang pertama, yang mengucapkan "cinta tidak terbatas." Tentang Maya yang menemukan cinta di es seperti ibunya. Tentang seluruh keluarga, lintas generasi.
Dia menggunakan jurnal-jurnal nenek Lara sebagai sumber, ditambah cerita yang dia dengar seumur hidup, ditambah suaranya sendiri—generasi baru menceritakan cerita lama.
Judulnya: "Rumah Putih: Kisah Keluarga yang Mencintai Es."
Saat buku itu selesai, Maja kecil membacakannya keras-keras untuk Maya—mamanya—di teras rumah putih, persis seperti nenek Lara dulu membacakan bukunya untuk kakek Aksel.
Maya menangis di setiap bab.
"Maja kecil," katanya saat selesai. "Kau... kau membuat mereka semua hidup lagi. Nenek Lara. Kakek Aksel. Paman Mathias. Mereka semua, di halaman-halaman ini."
"Itu yang nenek Lara ajari saya, Mama," kata Maja kecil. "Cerita membuat cinta abadi. Selama cerita kita diceritakan, kita tidak pernah benar-benar hilang."
Buku itu terbit, dan menjadi bagian dari warisan keluarga—buku keempat tentang keluarga Berg, ditulis oleh generasi keempat. Cerita yang sama, suara baru.
"Nenek Lara akan bangga," kata Maya, memegang buku cucunya.
"Saya menulisnya untuk nenek," kata Maja kecil. "Dan untuk paman Mathias, yang juga mau jadi penulis dulu, tapi tidak sempat. Saya menulis untuk dia juga."
Maya memeluk anaknya, terharu. Mathias—anak yang pergi di usia sebelas, yang menulis tiga belas cerita pendek sebelum dia tiada—sekarang, lewat keponakan buyutnya, menjadi penulis. Caranya hidup terus.
"Cinta tidak terbatas," bisik Maya. "Dan bakat, dan mimpi—mereka juga mengalir, dari generasi ke generasi. Paman Mathias mau jadi penulis. Sekarang kau menulis untuknya. Lingkaran tertutup."
(bersambung...)