Di sebuah kamar di rumah putih di pinggiran Bergen, seorang anak kecil—generasi keenam keluarga Berg, yang namanya, seperti selalu, menghormati seseorang yang dicintai—berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit.
Bintang-bintang fluoresen bersinar di gelap. Bintang-bintang yang ditempel seorang anak laki-laki bernama Mathias, lebih dari seabad lalu, karena dia takut gelap.
"Mama," kata anak itu. "Cerita. Cerita tentang es."
Dan ibunya—seperti setiap ibu keluarga Berg sebelumnya, lintas generasi—mulai bercerita cerita yang sama, yang sudah diceritakan ratusan kali, di kamar yang sama, di bawah bintang-bintang yang sama.
"Dulu, lebih dari seabad lalu, ada perempuan Indonesia bernama Lara. Dia pergi ke Antartika—tempat paling dingin di dunia—untuk lari dari hati yang patah. Dia pikir hidupnya sudah berakhir. Dia pikir dia tidak akan pernah bahagia lagi."
"Tapi di sana, di es, dia menemukan cinta. Dia bertemu seorang pria bernama Aksel. Dan dia belajar sesuatu yang menjadi jantung keluarga kita, sampai sekarang."
"Apa, Mama?" tanya anak itu, walaupun dia sudah tahu jawabannya.
"Cinta tidak terbatas, sayang. Bukan oleh jarak. Bukan oleh perbedaan. Bukan oleh kematian. Bukan oleh apa pun."
Anak itu tersenyum, matanya mulai menutup.
"Mama. Lara yang pertama—dia masih ada?"
Ibunya menatap bintang-bintang fluoresen, lalu anaknya, dan menjawab dengan kebenaran yang sudah diwariskan lintas generasi:
"Iya, sayang. Lara yang pertama masih ada. Di cerita ini, yang kita ceritakan. Di nama-nama yang kita bawa. Di bintang-bintang yang menjaga kita. Di es yang kita dengar. Dan di cinta—cinta yang dia mulai, di tempat paling dingin di dunia, yang masih mengalir, sampai ke kamu, sekarang."
"Dia tidak pernah benar-benar hilang. Tidak ada dari mereka yang hilang. Karena cinta tidak terbatas—dan selama kita mencintai, dan selama kita menceritakan cerita mereka, mereka semua hidup terus."
Anak itu tertidur di bawah bintang-bintang fluoresen, di rumah putih di pinggiran Bergen, dengan seabad lebih cinta keluarga di belakangnya, menjaganya.
Dan di suatu tempat—di gletser Norwegia, di Svalbard, di Antartika yang jauh—es terus berbicara, pada siapa pun dari keluarga Berg yang datang dan mau mendengar. Membawa, dalam keheningannya yang agung, kebenaran yang sama yang dia bisikkan pada Lara yang pertama, lebih dari seabad lalu:
Bahwa hidup pendek, dan justru karena itu, cinta berharga.
Bahwa di tempat paling sunyi, hati paling jernih.
Bahwa cinta yang kita beri tidak pernah hilang—ia mengalir ke depan, selamanya.
Lara yang pertama lari ke negeri salju dengan hati yang patah, mengira cintanya telah berakhir.
Dia tidak tahu bahwa dia berdiri di awal dari sesuatu yang tidak akan pernah berakhir. Bahwa dari hati patahnya, cinta akan mengalir—lewat anak, cucu, cicit, lintas generasi, lintas seabad dan lebih, tidak pernah berhenti.
Cinta yang ditemukan di negeri salju.
Cinta yang tidak pernah berakhir.
— TAMAT —